Kisah Musisi Metal Jaga Eksistensi di Kulonprogo
Salah satu penampil dalam Kulonpogo Metal Fest (KPMF) 2020, di Alun-alun Wates, Kulonpogo, Sabtu (15/2/2020). (Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara)

Solopos.com, KULONPROGO — Oot begitu energik menggebuk rangkaian drum set yang telah tertata rapi di atas panggung setinggi hampir dua meter di Alun-alun Wates, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Tangan dan kaki pria kelahiran Garut, Jawa Barat, 30 tahun silam itu menari-nari bagaikan balerina yang tengah kesetanan.

Suara drum yang ia hasilkan berhasil memantik perhatian khalayak. Sejumlah orang yang awalnya terpencar di sekitar alun-alun, perlahan mulai berkerumun di depan panggung. Alhasil, kawasan panggung yang berlokasi di sisi tenggara alun-alun itu mendadak ramai.

Bersamaan dengan itu, Oot mulai mempercepat tempo hentakan, disusul masuknya suara bass dan gitar listrik yang melengking hingga memekikkan telinga dari Ories, Els, dan Rego. Suasana kian riuh saat Bohel bersuara. Para penonton mulai bergerak, melompat, saling senggol hingga berbenturan satu sama lain.

Dikarantina Karena Virus Corona, Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princes Dihadiahi Iphone

Sekira 20 menit, kelima jejaka Garut yang tergabung dalam grup band Enemy Inside itu mengakhiri aksinya. Sejumlah lagu dari mini album Logis Canibalis bikinan grup band tersebut berhasil memukau penonton dalam Kulonprogo Metal Fest (KPMF) 2020.

Ya, Enemy Inside merupakan salah satu band metal yang tampil dalam KPMF. Pada 2020 ini, acara tersebut sudah masuk edisi IX yang penyelenggaraannya dipusatkan di Alun-alun Wates, Kulonpogo, Sabtu (15/2/2020) siang sampai malam.

Selain Enemy Inside, acara tersebut juga dimeriahkan puluhan band dari sejumlah daerah di Indonesia, di antaranya Kram Otak dari Jogya, Bleeding Infection dari Purworejo, Urzud dari Bandung, hingga Thunderwall dari Surabaya.

Lahir dari Minimnya Event Musik Metal

KPMF lahir dari keprihatinan sejumlah anak muda terhadap minimnya event musik metal di Kulonprogo. Anak-anak muda yang tergabung dalam Phobia Community, suatu komunitas pencinta musik metal di Kulonprogo itu lantas berembuk bagaimana agar ada acara yang bisa digelar rutin setiap tahun.

"Dulu kami mau pentas itu susah, harus di Jogja yang banyak event metal, sementara di Kulonprogo ini sepi," ujar Yoyok, salah satu anggota Phobia Community saat ditemui di sela-sela KPMF, Sabtu sore.

Sejarah Nama Sungai Garuda Sragen: Berawal Dari Nama Bioskop

Yoyok mengisahkan bagaimana perjuangan komunitas ini hingga akhirnya bisa mengadakan KPMF. Diceritakannya, kendala utama yang dihadapi Phobia Community kala itu adalah pendanaan. Maklum, sebagian besar anggota merupakan pelajar tingkat SMA.

Namun, minimnya dana tak membuat Phobia Community patah arang. Justru kata Yoyok, hal itu kian membangkitkan semangat rekan-rekannya untuk bisa merealisasikan KPMF.

"Karena the power of kepepet, kami nekat itu bikin proposal sponsor, terus iuran anggota, dan syukurlah KPMF pertama bisa terlaksana," ucap pria yang juga aktif dalam grup band metal Kasedanjati tersebut.

Hasilnya, 2011 menjadi tahun pertama KPMF digelar. Seiring berjalannya waktu, helatan itu menjadi agenda tahunan. Anggota komunitas yang beranjak tua dan mulai punya penghasilan tetap kemudian menjadi motor penggerak perihal pendanaan event tersebut.

"Sekarang hampir 80% dana dari panitia dan anggota, selebihnya ada dari bantuan teman-teman band lewat brand-nya masing-masing, dari sponsor juga masih ada," kata Yoyok.

Korea Utara Tembak Mati Pengidap Virus Corona?

Makin ke sini, misi penyelengaraan KPMF juga kian bertambah. Jika dulu, kata Yoyok, KPMF hanya sekadar ajang berekreasi dan silaturahmi antar sesama metal head atau penggila musik metal, kini kehadiran event tersebut juga diharapkan bisa membawa manfaat bagi masyarakat sekitar dan Kulonpogo.

"Dulu itu murni untuk hiburan, sekarang, kita berharap bisa meningkatkan perekonomian PKL di Alun-alun Wates, lebih dari itu ajang ini juga bisa jadi media promosi untuk Kulonpogo," ujarnya.

Di samping itu, Phobia Community juga ingin menghapus stigma negatif mengenai musik metal. Diakui Yoyok sampai hari ini musik metal masih dianggap buruk di mata masyarakat.

Pelaku musik tersebut sering dikaitkan sebagai biang rusuh, mabuk-mabukan, dan narkotika. Untuk menghapus stigma tersebut, setiap penyelenggaraan KPMF, dilarang membawa minuman keras, senjata tajam, maupun narkoba. Larangan itu berlaku bagi penonton maupun band yang tampil.

"Dan syukurlah setiap kami menggelar KPMF selalu mendapat izin dari kepolisian," ucapnya.

Sulit Dapat Izin

Gelaran KPMF mendapat apresiasi dari drummer Enemy Inside, Oot. Pria dengan nama asli Tony Irawan itu mengaku takjub dengan langgengnya KPMF. Menurutnya, kondisi metal di Kulonprogo berbanding terbalik dengan di Garut, tempat asal band itu.

"Perkembangan metal di Garut sekarang masih alon-alon karena terbentur dengan izin tempat, beda sekali di Kulonprogo setidaknya KPMF yang bisa menggelar di tempat yang besar. Sementara kami biasanya hanya di kafe-kafe atau gigs-gigs-nya kecil karena sulitnya dapat izin," ujarnya sebelum tampil dalam KPMF.

Oot menilai, aparat keamanan di Garut seakan masih ragu memberi izin terhadap penyelenggaraan musik metal karena stigma buruk yang masih menempel di skena tersebut.

"Bagi beberapa pihak mungkin kita masih dipandang sebelah mata, karena mungkin dengan ugal-ugalannya, dengan kebisingannya, padahal kita enggak seburuk itu," ucapnya.

Kepada masyarakat yang masih menilai musik metal identik dengan kekerasan, Oot meminta agar memahami betul bagaimana sebenarnya musik metal. Dia mengambil pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang.

"Kita harus kenal dulu dengan metal, kita tidak bisa judge langsung, coba ikutin dulu perjalanan kita, ada istilah tak kenal maka tak sayang," tutupnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho