Awan topi di gunung Rinjani (Facebook-erminsembahulun)

Solopos.com, SOLO – Awan topi yang terbentuk di atas Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (17/7/2019), membuat warga heboh. Kemunculan awan topi tersebut juga memicu kehebohan di media sosial. Sejumlah akun Instagram membagikan foto dan video viral terkait fenomena alam langka tersebut.

Awan topi yang terlihat di puncak Gunung Rinjani, terbilang sempurna. Meski pernah terjadi sebelumnya, warga setempat menilai kejadian itu sebagai peristiwa langka. Dikutip dari Antara, awan topi itu terlihat sejak pukul 07.00 WITA hingga 09.30 WITA. Kemunculan awan topi itu membuat pemandangan matahari terbit di sekitar Gunung Rinjani semakin indah.

Dikutip dari Liputan 6, kemunculan awan topi sering dikaitkan oleh peristiwa buruk, termasuk gempa yang akhir-akhir ini terjadi. Bahkan, ada pula yang mengaitkan fenomena alam tersebut dengan gerhana Bulan yang baru saja terjadi.

Tetapi, bagi sebagian masyarakat Sembalun Lawang, Lombok Timur, kemunculan awan topi di puncak Rinjani erat kaitannya dengan kisah misteri. Awan topi itu dipercaya sebagai pertanda adanya orang yang akan meninggal. Maksudnya, orang yang meninggal ini bukanlah orang sembarangan, melainkan pejabat atau tokoh penting.

Sementara menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, fenomena alam berupa awan topi di puncak Rinjani tidak ada kaitannya dengan gempa atau bencana alam lainnya. Kepala BMKG Mataram, Agus Rianto, mengatakan, awan melingkar di puncak Rinjani yang berbentuk seperti topi itu merupakan fenomena alam dari awan lenticular yang tidak ada kaitannya dengan gempa bumi.

"Tidak ada kaitannya, itu hanya rumor, awan caping itu berbahaya bagi penerbangan, bukan tanda tanda terjadinya gempa," tegas Agus.

Agus Rianto menjelaskan, bentuk awan seperti topi/caping/piring raksasa dan awan yang melingkari gunung, disebut Awan Lenticular. Biasanya, awan tersebut ditemukan di dekat bukit atau gunung-gunung. Awan ini terbentuk dari hasil pergerakan angin yang menabrak dinding penghalang besar, seperti pegunungan dan perbukitan, sehingga menimbulkan sebuah pusaran.

Menariknya, awan Lenticular kelihatan begitu padat, padahal kenyataannya tidak demikian. Awan ini terlihat padat karena aliran udara lembab terus menerus mengalir dan akan keluar lewat permukaan paling bawah.

Akibatnya, bentuk awan Lenticular akan bertahan hingga berjam-jam, bahkan berhari-hari. Bagi dunia penerbangan, awan Lenticular ini sangat mematikan karena bisa menyebabkan turbulensi bagi pesawat yang nekat memasuki awan atau hanya terbang di dekat awan Lenticular.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten