Bandung MAwardi/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Ada berita penting tentang burung merpati. Pemerintah Kabupaten Sragen dan warga kehilangan burung merpati. Kehilangan merpati itu memang tak setragis atau tak sefilosofis seperti dalam novel Kooong gubahan Iwan Simatupang. Lelaki tua kehilangan perkutut, mencari sepanjang hari.

Pengarang menganut filsafat absurd itu sengaja meledek pengetahuan pembaca mengenai manusia, burung, kota, dan Tuhan. Novel itu mungkin tak seheboh Ziarah, Kering, dan Merahnja Merah. Kita cuma mengingat ada kehilangan dan pencarian burung menguak identitas dan pemaknaan manusia.

Pemerintah Kabupaten Sragen kehilangan merpati, tapi belum mau mencari. Hari-hari ini digunakan berpikir agar merpati mau hidup di pagupon yang disediakan di Taman Kridoanggo. Berita di Harian Solopos edisi 18 November 2019 itu agak menggelisahkan.

Usaha pemerintah memiliki taman dan menjadikan itu habitat merpati dianggap gagal. Pemerintah Kabupaten Sragen membuat dua pagupon tapi burung-burung merpati memilih pergi. Dua pagupon kosong. Pengunjung taman tak melihat seekor pun burung merpati.

Burung-burung terbang ”lupa pulang” atau minggat tanpa meninggalkan pesan. Burung-burung merpati itu mungkin iri dengan nasib burung di lagu Kahitna berjudul Tak Sebebas Merpati. Imajinasi burung dalam asmara, bukan kerja birokrasi.

Dugaan para pejabat di taman itu selalu banyak orang. Taman itu terbuka 24 jam. Siang sampai malam tetap ramai. Taman itu juga dekat dengan jalan raya. Mungkin karena itulah burung-burung pergi. Suasana bising bisa jadi memaksa merpati memilih pergi meninggalkan pagupon yang nyaman.

Pejabat itu masih berpikir serius, mempelajari karakteristik burung merpati. Dua pagupon mungkin bakal ditinggikan oleh burung-burung merpati yang semula dikandangan di sana. Pertimbangan-pertimbangan demi pencapaian misi pemerintah untuk taman memerlukan waktu dan dana.

Cara Baca Birokrasi

Pemerintah ingin burung merpati betah berada di Taman Kridoanggo. Keinginan yang memang tak gampang terpenuhi. Pemerintah memiliki tugas berat mengurusi merpati. Publik diharapkan memberikan usulan, sokongan, dan doa. Taman tanpa burung merpati dianggap belum lengkap. Pemerintah masih memiliki hak membuktikan kebijakan untuk merpati itu berhasil.

Saya kutip celetukan Goenawan Mohamad di Tempo, 5 Desember 1999. Goenawan menulis pemerintah, sebagai himpunan ketertiban dan wibawa, adalah sebuah fiksi. Kalimat yang sulit dicerna. Saya berpikir rumit sambil melihat burung-burung kecil berputar di atas kepala saya. Pemerintah adalah sebuah fiksi?

Saya terjemahkan saja itu sebagai ajakan agar pemerintah membaca buku-buku fiksi demi mengimbuhi mutu setiap kebijakan. Saya ajukan puisi berjudul Merpati gubahan Piek Ardijanto Soeprijadi. Puisis ini rasanya layak menjadi bacaan bagi para pejabat di Pemerintah Kabupaten Sragen.

Puisi sederhana dan mengesankan: pernah sekali kulepas merpati// sayapnya kelewat kuat/ terbangnya begitu cepat/ sampai tak bisa kulihat// kini selalu kudengar merpati// dekurnya sangat merdu/ menggema di dada istriku/ itu merpatiku dulu. Puisi tak memuat taman tapi mengisahkan istri. Merpati di kehangatan suami-istri.

Para pejabat mungkin sulit mengambil hikmah dalam puisi gara-gara tak berkaitan taman, kota, bising, dan anggaran. Burung ”di dada” berbeda dengan nasib burung di kota. Di Jakarta ada burung dan renungan. Di Tempo edisi 14 Juli 2002 Goenawan Mohamad menulis kalimat-kalimat yang menarik.

”Saya menuliskan ini di sebuah pagi, dan saat mendengar suara burung tik-tik-tir di luar jendela. Mungkin ia hinggap di salah satu dahan asam ranji di depan rumah, mungkin di bubungan tetangga di sebelah kiri. Di Jakarta, setiap suara burung yang bebas berbunyi tak akan bisa terdengar keras, tapi ia seperti suara degup jantung yang tiba-tiba kita dengar, setelah lama kita merasa bahwa segala hal lancar di dalam aorta dan arus darah kita.”

Kalimat-kalimat itu tak segamblang di dokumen-dokumen pemerintah. Esai itu puitis, jauh dari cara baca birokrasi. Si penulis itu wartawan, pujangga, esais, dan novelis. Setahun lalu ia menerbitkan novel berjudul Surti + 3 Sawunggaling, novel bercerita revolusi, kematian, dan burung.

Burung-burung di Kota

Pada abad XXI, nasib burung di kota-kota semakin tak jelas. Keluhan disodorkan kepada pembaca. ”Tapi, saya hidup di sebuah kota tempat burung-burung tak lazim bernyanyi di dahan asam ranji, tapi tersembunyi di pojok rumah dan los pasar hewan. Inilah sebuah kota tempat ketilang dikurung, minta dipulut, perkutut dikerek ke ujung galah, dan merpati diatur dalam pagupon untuk dinikmati yang empunya.”

Kini, Goenawan Mohamad rajin melukis binatang dan masih berpikiran tentang burung. Ia mungkin mengeluhkan kerja pemerintah yang belum becus mengurusi habitat untuk burung-burung. Birokrasi dengan struktur, gaji, dan aturan belum serius mengurusi tema burung.

Mereka mengira burung cuma pantas dimengerti di lagu-lagu bocah gubahan Ibu Sud, A.T. Mahmud, Pak Daldjono. Pemerintah dan kita terlalu lama menelantarkan nasib burung-burung. Kita mungkin kekurangan bacaan mengenai burung, bacaan berupa novel, puisi, atau cerita pendek.

Para pejabat di Kabupaten Sragen sedang memikirkan agar merpati betah dan menyempurnakan Taman Kridoanggo. Mereka malas membaca fiksi? Saya anjurkan membaca buku berjudul Panduan Lapangan Pengenalan: Burung-Burung di Jawa dan Bali (1990) susunan John Mackinnon.

Itu buku tebal, informatif, dan bergambar. Kita bisa membaca buku itu demi mengerti puluhan jenis burung hidup (belum tentu) betah di Jawa dan Bali. Kita simak penjelasan penting dalam buku itu. Bentuk tubuh burung telah terbukti sangat berhasil dalam penyebaran di seluruh muka bumi.

Mereka menempati setiap tipe habitat dari khatulistiwa sampai daerah kutub, ada burung hutan, burung padang terbuka, burung gunung, burung air, ada burung yang menjelajahi samudra terbuka dan ada burung yang hidup dalam gua dan dapat menemukan arah dalam kegelapan.

Di mana saja ditemukan pohon yang tumbuh atau terdapat ikan, serangga, dan avertebrata lainnya, di situ ada burung yang mencari kehidupan: sebagai pemakan biji-bijian, buah, atau nektar, di samping ada yang memakan serangga, ikan, dan sebagai pemangsa atau pemakan bangkai.

Ribuan Foto

Kita mungkin takjub pada burung-burung dalam sejarah peradaban dan nasib Bumi semakin amburadul. Di taman beralamat di Kabupaten Sragen, burung merpati ”protes” dengan cara minggat. Keberadaan taman dan pemberian makanan tak menjamin merpati betah.

Pemerintah memiliki tugas-tugas berat dan besar. Kita tak terlalu menuntut pemerintah mengadakan rapat, penelitian, dan mengubah kebijakan demi merpati betah di taman-taman kota. Kita sudah kagum dengan kemampuan pemerintah membuat taman-taman yang dianggap indah dan hijau.

Taman-taman itu telah menghasilkan ribuan foto sebagai bukti publik girang. Masalah yang belum rampung adalah merpati. Kita tak menginginkan seminar atau demonstrasi dalam menemukan jawaban untuk membetahkan merpati tinggal di pagupon Taman Kridoanggo.

Kita mungkin kangen fiksi mengenai burung meski para leluhur sudah mengisahkan itu melalui teks-teks sastra, relief, dan tembang. Kita terlena memikirkan diri dan kota bernalar digital, lupa memuliakan burung-burung. Saya akhiri saja ngudarasa ini dengan mengutip penggalan puisi berjudul Burung Pun gubahan Piek Ardijanto Soeprijadi

…burung pun selalu ke sawang/ tempat melayang dan melagu/ memuji Tuhan pencipta alam. Saya mengajukan puisi bukan bermaksud menggoda  bupati dan para pejabat di Kabupaten Sragen mengumpulkan ribuan murid (SD, SMP, SMA) untuk menulis puisi di alun-alun berdalih pemecehan rekor dan peduli burung.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten