Kisah Mbah Tumiyem Pemilik Warung Bothok Mercon Legend di Sragen
Pemakaman pemilik warung makan Bothok Mercon dengan protokol kesehatan. (Istimewa/Husnul Aziz)

Solopos.com, SRAGEN – Di balik pria sukses, ada wanita hebat di belakangnya. Barangkali itulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan sosok Mbah Tumiyem, 74, pemilik Warung Makan (WM) Bothok Mercon Mbah Wiro yang meninggal dunia pada Senin (9/11/2020) dini hari.

Mbah Tumiyem meninggal dunia dengan status suspect Covid-19. Istri dari Mbah Wiro Atmojo itu pun dimakamkan dengan protokol kesehatan.

Setelah dipulangkan dari RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen, jasadnya tidak diturunkan dari ambulans. Warga yang bertakziyah menyelenggarakan salat jenazah di depan ambulans.

Bantah Video Syur, Gisel: Muka Kayak Aku Banyak

Selanjutnya, jenazah dimakankan di permakaman umum desa setempat pada pukul 10.00 WIB. Proses pemakaman hanya dilakukan beberapa petugas dengan balutan pakaian alat pelindung diri (APD).

WM Bothok Mercon Mbah Wiro sudah tidak asing bagi pencinta kuliner di Bumi Sukowati, khususnya yang gandrung dengan selera ekstra pedas. Warung makan itu dirintis oleh oleh Mbah Wiro bersama istrinya, Mbah Tumiyem, sejak era 1980-an.

Bothok itu biasa dibuat dari bahan dasar ikan yang ditangkap Mbah Wiro dari Sungai Bengawan Solo. Ikan tangkapan Mbah Wiro kemudian diolah didapur oleh istrinya, Mbah Tumiyem, menjadi bothok mercon dengan cita rasa pedas.

Merapi Muntahkan Guguran Material, BPPTKG: Itu Biasa

Disantap Sendiri

Pada awalnya, bothok mercon itu disantap sendiri sebagai menu makanan sehari-hari. Namun, ternyata cukup banyak yang menyukai bothok mercon racikan Mbah Tumiyem.

Sampai akhirnya pasangan suami istri itu membuka WM Bothok Mercon di tepi jalan Gabugan-Sragen, tepatnya di sebelah timur Jembatan Gawan, di Dukuh Nglombo, Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo.

Pada mulanya, Mbah Wiro menjadikan ikan wagal sebagai bahan dasar pembuatan bothok mercon. Namun, seiring berjalannya waktu, keberadaan ikan wagal semakin sulit dijumpai di Sungai Bengawan Solo. Ia kemudian mengganti ikan wagal dengan ikan patin yang mudah dibudidayakan oleh warga sekitar.

Merapi Muntahkan Guguran Material, BPPTKG: Itu Biasa

Digandrungi Masyarakat

Ramainya pengunjung membuat Mbah Wiro rata-rata menghabiskan 40-50 kg ikan patin/hari. Menu bothok mercon ini disajikan dalam bungkus daun pisang. Di dalamnya terdapat irisan daging ikan patin, irisan tomat, belimbing wuluh dengan kuah kental bercampur irisan cabai dan aneka bumbu dapur. Banyaknya cabai yang dipakai membuat rasa bothok sangat pedas.

“Mbah Wiro merupakan satu dari tiga warung makan cukup besar di Desa Tenggak yang menyajikan bothok mercon sebagai menu andalan,” ujar Kepala Desa Tenggak, Setyanto, kepada Solopos.com, Senin.

WM Mbah Wiro ternyata cukup populer di kalangan pencinta kuliner pedas. Mantan Bupati Sragen, Agus Fatchur Rahmah, pernah datang bersama rombongan pejabat untuk menikmati bothok mercon racikan Mbah Tumiyem.

Pengungsi Merapi Klaten: Suara Gemuruh Gludag-Gludug Bikin Waswas!

Bahkan, orang nomor satu di Jawa Tengah, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo juga menyempatkan makan siang di WM Bothok Mercon Mbah Wiro saat berkunjung ke Sragen.

Setyanto menjelaskan bothok mercon sudah menjadi kuliner khas Desa Tenggak. Saat ini, ada ratusan warga yang mengalihfungsikan lahan pertanian menjadi kolam untuk budidaya ikan patin.

Kegagalan panen sekitar 20 tahun lalu membuat kalangan petani rugi besar hingga akhirnya mereka memilih merombak sawah menjadi kolam. Mereka lalu membudidayakan ikan patin dan beberapa jenis ikan lain. Meningkatnya jumlah produksi ikan patin mendukung pengembangan kuliner bothok mercon.

Innalillahi, Pemilik Botok Mercon Mbah Wiro Sragen Meninggal Dunia

Bothok Patin

Saat ini sudah ada sekitar lima haktare lahan pertanian yang sudah dialihfungsikan sebagai kolam ikan. Kolam ikan tak hanya dibangun di lahan pertanian, tetapi juga di pekarangan dan halaman rumah warga.

“Bothok patin sudah lama menjadi ikon kuliner di desa ini. Sejak dulu, warga sudah terbiasa mencari ikan dengan cara pladu di Sungai Bengawan Solo. Hasil tangkapan ikan itu kemudian banyak diolah menjadi bothok," sambung Setyanto.

Kini, ikan patin mudah dijumpai karena banyak dibudidayakan petani. Popularitas bothok patin atau bothok mercon semakin naik. Sekarang hampir semua warung makan di wilayah Desa Tenggak menyajikan bothok mercon dengan level pedas yang berbeda-beda sebagai sajian utama.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom