Kategori: Solo

Kisah Mbah Min, Bakul Dolanan di Solo Eks Mata-Mata Zaman Belanda


Solopos.com/Newswire

Solopos.com, SOLO – Sosok Mbah Min si bakul dolanan  di Solo menceritakan masa lalunya menjadi pejuang kemerdekaan. Pria bernama Ngadimin Citro Wiyono, 87, itu berperan sebagai mata-mata mengamati pergerakan tentara Belanda pada masa Agresi Militer Belanda II tahun 1948.

Mbah Min tinggal di Kaplingan RT 004/RW020, Jebres, Solo. Kakek-kakek bakul dolanan di Solo ini akrab disapa Mbah Min Semprong.

Sehari-hari dia bekerja sebagai penjual anekamainan hingga face shield keliling kota. Lokasi favoritnyaa untuk berjualan yakni di depan gerbang kampus UNS Solo. Dia berjualan di sana sejak pagi hingga malam.

Misteri Harimau Jawa, Pernah Muncul di Alas Kethu Wonogiri 

Jika sedang beruntung, Mbah Min bisa membawa pulang uang Rp20.000. Namun, dia sering pulang dengan tangan kosong.

Sebelumnya dia menjadi penarik becak. Namun, sejak empat hingga lima tahun terakhir dia beralih berjualan mainan.

"Sekitar 4 hingga 5 tahun ini jualan mainan. Setelah becak tidak laku, saya banting setir jualan mainan. Ya, dianggap cukup, ya cukup, dianggap nggak ya nggak. Saya bikin face shield, tembak-tembakan, ya untung Rp 1.000 hingga Rp 2.000," tutur Mbah Min seperti dilansir Detik.com, Minggu (16/8/2020).

Ini Aktivitas Mbah Minto Klaten Setelah Jadi Jutawan

Salah seorang pedagang di sekitar kampus UNS Solo, Purnomo, mengaku mengetahui Mbah Min si bakul dolanan yang merupakan seorang pejuang kemerdekaan. Purnomo menyebut Mbah Min sejak dulu bekerja serabutan sampai akhirnya berjualan mainan. Meski usianya tak lagi muda, semangat Mbah Min tak pernah pudar layaknya anak muda.

"Sebelumnya sudah tahu Mbah Sempong pejuang. Dulu juga kerja serabutan akhirnya semakin tua, semakin tua jualan mainan, kalau semangatnya enggak kalah dengan yang muda-muda. Dia semangatnya bagus, di event manapun dia ikut. Jualannya sampai malam kadang jam 22.00 kadang jam 23.00, enggak pernah mengeluh," tutur Purnomo.

Mbah Min si bakul dolanan di Solo ini sebenarnya diminta keluarganya tinggal di rumah saja. Apalagi pendapatannya menurun selama pandemi Covid-19. Namun, dia mengaku tidak kerasan jika hanya berdiam diri di rumah tanpa bekerja.

4 Kecamatan di Sragen Diterjang Puting Beliung, Pohon Bertumbangan

Pengin Diakui Jadi Veteran

Di tengah perjuangannya menyambung hidup sebagai bakul dolanan di Solo, Mbah Min berharap mendapat pengakuan sebagai veteran. Bukan soal uang yang dia cari dari penghargaan itu, tapi pengakuan tentang perjuangannya di masa lalu.

"Kemauan saya terhadap pemerintah, akuilah saya sebagai pejuang, yang kedua veteran ada honor sedikit atau banyak, tapi bukan itu tujuan saya. Akui saja saya sudah senang, dan perjuangan saya tidak sia-sia. Saya itu kalau cerita masa lalu air mata netes, sampai sekarang belum mendapat penghargaan," kata Mbah Min.

Wangi Rempah di Piring Soto Sampah Khas Jogja

Dulu, Mbah Min adalah pejuang telik sandi bagi tentara Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan pada masa Agresi Militer ke II. Dia bertugas mengawasi pergerakan Belanda di kawasan Panasan, Boyolali.

"Ceritanya kampung di sekitar Panasan Boyolali, dulu belum ada Lanud Adisumarmo, tapi lapangan terbang Panasan. Pada tahun 1948 Belanda kembali menjajah Indonesia, Belanda yang di Solo berpusat di lapangan terbang. Di sana tank-tank Belanda banyak, pesawat juga banyak dan gudang senjata. Tugas saya menjadi pengawas musuh, atau mata-mata," tutur Mbah Min.

Buntut Ricuh Kampung Mertodranan, Polresta Solo Razia di 3 Lokasi Ini 

Kala itu, Mbah Min yang kini bekerja sebagai bakul dolanan di Solo baru berusia 16 tahun. Kehidupan masa kecilnya terasa getir lantaran orang tua dan semua tetangganya tewas lantaran desanya diserbu tentara Belanda.

Sejak saat itu dia bertekad membalas dendam kematian keluarganya. Dia kemudian diminta salah satu komandan tentara menjadi mata-mata dan langsung menyanggupinya.

 

Share
Dipublikasikan oleh
Chelin Indra Sushmita