Tutup Iklan
Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban, berbincang dengan para korban QNet./(Istimewa/Facebook-Arsal Sahban)

Solopos.com, MADIUN -- Masyarakat yang jadi https://madiun.solopos.com/read/20190906/516/1016986/hilang-kontak-orang-tua-cari-anaknya-yang-ikut-mlm-qnet-di-madiun">korban akibat ikut bisnis multilevel marketing (MLM) bodong QNet ditengarai tersebar di seluruh Indonesia. Ditangkapnya bos QNet asal Madiun, Mohamad Kariyadi, menjadi babak baru terbukanya kedok bisnis yang diduga melakukan skema bisnis money game serta tidak memiliki izin dari Pemkab Madiun.

Sejumlah korban https://madiun.solopos.com/read/20190905/516/1016774/tak-berizin-qnet-maupun-pt-amoeba-milik-kariyadi-ilegal">QNet pun mulai bersuara. Beberapa dari mereka menceritakan kepada penyidik di Polres Lumajang.

Melalui akun Facebook pribadinya bernama Arsal Sahban, Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban, mengunggah beberapa kisah para korban yang merasa tertipu setelah mengikuti QNet. Awalnya, para korban ini ditawari pekerjaan dan diiming-imingi gaji besar. Korban harus menyetorkan sejumlah uang sebagai jaminan. Tetapi, setibanya di Madiun, bukannya mendapatkan pekerjaan, mereka justru diprospek untuk ikut QNet.

Salah satu korban QNet, Muhammad Deni, 19, bercerita selama berada di Madiun hanya diberi makan nasi dan garam. Dia juga pernah mencuri singkong di kebun milik orang untuk bisa makan.

Warga Desa Tanggung, Kecamatan Padang, Kabupaten Lumajang, itu menuturkan gerak geriknya selama berada di gedung QNet juga selalu diawasi oleh para senior. Dia berhasil melarikan diri pada malam hari dengan melompat dari jendela.

"Di sana saya hanya dikasih makan nasi sama garam pak. Kami selalu diawasi sama senior, makanya pada malam hari saya lompat melalui bersama teman saya. Karena tidak punya uang, saya naik truk hingga Lumajang," kata Deni.

Kisah lain diungkapkan orang tua korban QNet, Sariono, 54. Warga Desa Kalisemut, Kecamatan Padang, Kabupaten Lumajang itu mengaku meminjam uang kepada rentenir supaya anaknya yang bernama Taufik, 18, bisa ikut berbisnis QNet.

Dirinya sampai memberanikan diri pinjam uang ke rentenir karena bermimpi anaknya bisa cepat kaya dengan ikut QNet. Namun, bukannya untung yang didapat, kini anaknya pun pulang dengan tangan kosong dan dirinya harus menghadapi kejaran rentenir.

"Ini demi anak saya yang katanya bisa membuat anak saya kaya. Sekarang saya dikejar sama rentenir. Sampai sekarang ternyata anak saya juga enggak kaya," kata dia.

Kisah lainnya juga diungkapkan korban QNet asal Desa Kalisemut, Kecamatan Padang, Kabupaten Lumajang, Zainul, 19. Dia mengaku bergabung di QNet dengan menjual sapi milik orang tuanya.

Untuk member baru QNet harus membayar hingga Rp10 juta. Namun, setelah membayar uang tersebut , ia justru tidak mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.

"Ya gimana pak, saya pengin kerja. Ya terpaksa saya jual sapi milik bapak di rumah. Sekarang saya bingung pak harus gimana, uang saya hilang," katanya.

Kapolres Lumajang menyampaikan para korban QNet ini dicuci otak. "Mereka dicuci otak sedemikian rupa sehingga meyakini bahwa mereka akan sukses di kemudian hari dengan di iming-imingi akan memiliki mobil mewah bahkan rumah mewah hanya dalam tempo singkat," katanya dalam unggahan, Sabtu (7/9/2019).

Arsal menuturkan setelah dicuci otak, tanpa sadar mereka terperangkap dalam bisnis money game dan ikut terlibat dalam menipu teman-temannya. Bahkan, para korban juga berani memaksa orang tuanya untuk mengirim sejumlah uang.

"Meskipun mereka sadar uang tersebut sangat sulit didapatkan oleh orang tuanya. Banyak dari mereka yang menjual sapi, menjual sawah, motor, bahkan meminjam uang ke rentenir," jelas Kapolres. 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten