Tutup Iklan

Kisah Kampung Matoa Boyolali Bermula dari Mantu

Melihat banyaknya pohon matoa di perkarangan rumah warga Karangduwet, besan dari Klaten menyebut kampung asal pengantin putri sebagai Kampung Matoa.

 Tokoh masyarakat Dukuh Karang Duwet, Ahmadi, dan Kepala Desa Bendan, Mas Teguh Rahayu, memperlihatkan buah matoa yang dipetik di perkarangan rumah Ahmadi di Dukuh Karang Duwet, Desa Bendan, Kecamatan Banyudono, Boyolali, Senin (25/10/2021). (Solopos.com/Cahyadi Kurniawan)

SOLOPOS.COM - Tokoh masyarakat Dukuh Karang Duwet, Ahmadi, dan Kepala Desa Bendan, Mas Teguh Rahayu, memperlihatkan buah matoa yang dipetik di perkarangan rumah Ahmadi di Dukuh Karang Duwet, Desa Bendan, Kecamatan Banyudono, Boyolali, Senin (25/10/2021). (Solopos.com/Cahyadi Kurniawan)

Solopos.com, BOYOLALI—Banyaknya pohon matoa di Dukuh Karang Duwet, Desa Bendan, Kecamatan Banyudono membuat kampung dengan 40-an keluarga ini disebut sebagai kampung matoa. Menariknya, rasa buah matoa ini berbeda dibanding daerah lain. Seperti apa rasanya?

Solopos.com  mencicipi buah matoa masak yang dipetik dari pohon di belakang rumah Ahmadi, tokoh masyarakat desa setempat. Matoa ini memiliki daging buah tebal dan manis. Kulitnya tipis. Begitu dikupas, samar-samar aroma durian tercium dari matoa.

“Matoa, nikmatnya kalau sudah tua,” kata Ahmadi saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (25/10/2021), sembari berkelakar membikin semacam jarwa dhosok atau kerata basa yang lazim dipakai dalam bahasa Jawa.

Baca Juga: Warga Bunderjarakan Klaten Masih Konsumsi Air Hujan

“Kalau makan matoa ini tidak bisa tidur,” sambungnya lagi. Banyolan-banyolan Ahmadi itu membuat Solopos.com dan Kepala Desa Bendan, Mas Teguh Rahayu tertawa. Sebab, mana ada orang tidur bisa makan matoa.

Sebutan Kampung Matoa itu disematkan ke Dukuh Karang Duwet belum lama ini. Uniknya, pemberian jenama Kampung Matoa ke dukuh ini justru terjadi secara spontanitas, bukan atas kajian saintifik atau hasil riset ilmiah.

Ahmadi menceritakan nama ini bermula saat salah satu warga di Dukuh Karang Duwet menggelar hajatan mantu pada 2018. Pengantin mempelai pria berasal dari Wedi, Klaten. Melihat banyaknya pohon matoa di perkarangan rumah warga Karangduwet, besan dari Klaten itu menyebut kampung asal pengantin putri sebagai Kampung Matoa.

Baca Juga: Mulai Normal, Kain Batik Bayat Klaten Kembali Tembus Pasar Amerika

Sebaliknya, besan yang berasal dari Kecamatan Wedi, itu disebut berasal dari Kota Pasir. Wedi dalam bahasa Jawa artinya pasir. Candaan inilah yang ternyata tersimpan dalam memori warga Dukuh Karang Duwet yang menghadiri upacara pernikahan itu.

“Terus warga berembuk. Warga sepakat menamai menjadi kampung matoa,” ujar Ahmadi. Nama Kampung Matoa lantas dipasang di gapura pintu masuk ke Karang Duwet. Gapura ini berada di dekat makam R. Ng. Yosodipuro, pujangga Keraton Kasunanan Surakarta.

Ahmadi yang juga menjadi imam Masjid Cipto Mulyo itu menceritakan awal mula pohon matoa ditanam di Dukuh Karang Duwet. Semula, Mbah Cipto, warga Karang Duwet yang rumahnya tak jauh dari rumah Ahmadi, menanam bibit matoa yang dibawa dari Sawit. Matoa sendiri merupakan tanaman asli Papua.

Baca Juga: Petani Ditemukan Meninggal di Persawahan Karangnongko Klaten

Pohonnya tumbuh besar. Namun, tak kunjung berbuah. Mbah Cipto pun berencana menebang pohon ini. Saat hendak ditebang inilah, pohon matoa memperlihatkan bunganya. Mbah Cipto urung menebang.

Buah matoa pun menyebar dirasakan semua warga Karang Duwet. Warga lantas ikut menanam matoa di pekarangannya. Kini, di setiap pekarangan rumah warga memiliki sedikitnya satu batang pohon matoa.

 

Panen Hingga 4 Kali

Kepala Desa Bendan, Mas Teguh Rahayu, mengatakan satu pohon matoa besar di kampung itu bisa menghasilkan satu kuintal per musim. Dalam setahun, tanaman itu bisa panen antara 3-4 musim. Harga per kilogram matoa berkisar antara Rp40.000-Rp50.000. Harga ini pernah menyentuh tertinggi senilai Rp55.000 per kilogram beberapa waktu yang lalu.

Baca Juga: Kekinian Banget, Penyemprotan Hama di Karangdowo Klaten Gunakan Drone

Pembeli buah ini banyak yang berasal dari Jogja, Solo, Klaten, dan sekitarnya. Pembeli juga bisa memetik sendiri matoa itu langsung di pohon-pohon yang ada di perkarangan warga.

“Sementara ini masih menjadi daya tarik wisatawan lokal. Buahnya baru dimanfaatkan sebagai konsumsi buah segar,” kata Teguh.

Menurut Teguh, rasa matoa yang ditanam di kampung itu berbeda dengan matoa dari daerah lain. Hal ini mungkin berasal dari sumber air yang berada di dekat Karang Duwet.

Baca Juga: BPBD Boyolali Minta Masyarakat Waspadai Dampak La Nina

Apabila ingin menikmati matoa dari Kampung Matoa di Banyudono ini, datanglah ke kampung ini bulan depan. Sebulan lagi, kampung itu memasuki musim panen ketiga.

 


Berita Terkait

Berita Terkini

Terkait Rencana Reuni 212 di Manahan, Kodim 0735/Solo Back Up Polisi

Jajaran Kodim 0735/Solo memberikan dukungan penuh kepada Polresta Solo dalam menjaga kondusivitas wilayah mendekati Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Gandeng PMI Wonogiri, Desa Pule Gelar Latihan Sukarelawan Bencana

Pelatihan diikuti 20 sukarelawan Desa Pule dan tiga perwakilan PMI yang terdiri atas bagian kebencanaan, bantuan hidup dasar (BHD), dan water rescue  (penyelamatan di air).

Ada Makam Pinggir Jalan di Pajang Solo, Empunya Siapa?

Ada makam pinggir jalan di Pajang, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, yang dulu ternyata sumur. Kira-kira siapa yang dikubur di makam tersebut?

Dedy dan Suwardi Jadi Kandidat Kuat Ketua Kwarcab Pramuka Sragen

Nama Dedy Endriyatno dan Suwardi mencuat sebagai kandidat kuat Ketua Kwarcab Pramuka Sragen.

Vaksin AstraZeneca Tidak Diminati Lansia Klaten

Lansia di Klaten lebih suka vaksin Sinovac daripada vaksin AstraZeneca.

Round Up: Misteri Lorong Rahasia Bawah Tanah di Laweyan Solo

Pada masa Kerajaan Pajang, lorong bawah tanah di Laweyan, Solo, itu diperkirakan menjadi jalur distribusi candu.

Unik, Buah Belimbing Milik Warga Wonogiri Ini Berwarna Merah

Buah belimbing berwarna merah itu dibagikan oleh akun Instagram @tani_ndezo pada Sabtu (27/11/2021).

Penting Banget, Percepatan Layanan Deteksi HIV pada Ibu Hamil

Penularan HIV bisa terjadi dari ibu ke anak selama masa kehamilan, persalinan, dan menyusui.

Paling Rentan, Ada 2 Pasien Tuberkulosis-HIV di Wonogiri

Pasien TB-HIV bisa ditangani di Perawatan Dukungan Pengobatan (PDP) melalui 13 puskesmas dan empat rumah sakit di Wonogiri.

UMK Naik Tipis, Ibu Buruh Pabrik di Solo Rela Nyambi Bersihkan Makam

Seorang ibu yang juga buruh pabrik di Solo harus memutar otak supaya penghasilan selama sebulan cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari, salah satunya rela membersihkan makan demi dapat penghasilan tambahan.

Belum Vaksinasi, Sejumlah ODHA di Wonogiri Tak Siap Ditanya Petugas

Sejumlah ODHA yang belum divaksinasi disebabkan belum siap menyampaikan riwayat penyakitnya kepada petugas.

Selamatkan Produksi Kakao, Indonesia Perlu Kemitraan & Industri Kreatif

Pola kemitraan dan penumbuhan industri kreatif olahan biji kakao berpotensi menyelamatkan produksi kakao Indonesia.

Kreatif! PKK Klaten Bikin Video untuk Kampanyekan Vaksin

Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Klaten membuat video kreatif untuk mengedukasi warga terkait pentingnya vaksin.

Seruduk Truk Tronton Parkir di Jalan Solo-Sragen, Bodi Truk Ini Ringsek

Sebuah truk ringsek setelah menyeruduk truk tronton boks yang parkir di jalan Solo-Sragen, tepatnya di depan Warung You Sri, Dukuh Nguwer RT 017, Desa Duyungan, Sidoharjo, Sragen.

Hari Ini Ada Pemeliharaan Jaringan, Listrik Boyolali Padam 3 Jam

Berikut ini jadwal pemadaman dan pemeliharaan listrik oleh PLN di Boyolali hari Kamis, 2 Desember 2021 yang berlangsung tiga jam.

Ada Pemeliharaan Jaringan, Listrik di Sragen Padam 3 Jam

Berikut ini jadwal pemadaman dan pemeliharaan listrik oleh PLN di Sragen hari Kamis, 2 Desember 2021 yang berlangsung tiga jam.