Kisah Jurnalis di Semarang yang Menderita dan Kehilangan Ayah Karena Covid-19
Ilustrasi proses pemakanan pasien Covid-19 (Istimewa)

Solopos.com, SEMARANG -- Bahaya virus corona atau Covid-19 memang benar adanya. Kalimat itu rupanya dirasakan benar oleh Pradityo Utomo, 26, seorang jurnalis di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

Tak hanya merasakan sakit saat terpapar Covid-19, Adit, sapaan Pradityo Utomo, pun harus kehilangan sang ayah tercinta akibat virus tersebut.

Kepada Semarangpos.com, jurnalis yang bekerja di sebuah stasiun  radio itu mengaku tidak tahu dari mana virus SARS-CoV-2 bersemayam di tubuhnya. Meski demikian, ia merasa mengalami gejala demam dan sesak nafas semenjak pulang meliput acara Pertempuran 5 Hari di Semarang pada 15 Oktober 2020 lalu.

Ini Dia Pemilik Uang Puluhan Juta Rupiah yang "Dibuang" di Saluran Irigasi

Saat itu, intensitas hujan yang lebat membuat dirinya mengabaikan protokol kesehatan. Ia harus mendekati kerumunan orang untuk berteduh dari hujan.
Pada keesokan harinya, ia pun mengalami demam tinggi dan gangguan pada pernapasannya. Gejala tersebut tak kunjung mereda hingga dirinya berobat ke rumah sakit.

Di rumah sakit, Adit menjalani tes polymerase chain reaction (PCR) secara swab. Ia pun kaget setelah hasil pemeriksaan itu diumumkan. Dokter menyatakan dirinya terkonfirmasi Covid-19 dan harus menjalani perawatan di RS Williambooth.

"Ketika itu badan saya demam hingga 40 derajat Celsius dan sesak napas. Tapi, untungnya segera ditangani medis, sebab kondisi saat itu sudah secara klinis positif. Bayangkan kalau terlambat penanganannya," ujar Adit, Senin (23/11/2020).

Kapolda Jateng Perintahkan Pencopotan Spanduk Provokatif

Ia menjalani perawatan di RS Williambooth selama 7 hari, mulai 22-28 Oktober. Setelah itu, ia dipindahkan ke tempat isolasi pasien Covid-19 di Rumah Dinas Wali Kota Semarang selama 10 hari.

Stres Di Isolasi

Selama menjalani isolasi, Adit mengaku mengalami kebosanan, syok, dan stres. Apalagi selama menjalani isolasi dirinya berada seorang diri di ruang perawatan intensif tanpa hiburan apa pun. Belum lagi rasa rindunya yang mendalam terhadap anak dan istrinya. Meski demikian, itu tetap bertahan sambil sesekali melepas rindu kepada buah hatinya melalui aplikasi video call.

"Yang bisa saya lakukan hanya mainan handphone. Sesekali video call dengan keluarga. Mereka terus menyemangati saya hingga bisa sembuh," tuturnya.

Naik! Ini Urutan Nilai Upah Minimum Kota & Kabupaten di Jateng

Adit akhirnya bisa pulang setelah dinyatakan sembuh. Satu kemalangan selesai, muncul musibah lainnya. Ia mendapat kabar menyedihkan, sang ayah meninggal dunia akibat Covid-19.

Adit mengatakan ayahnya dinyatakan terkonfirmasi Covid-19 pada 2 November 2020. Setelah menjalani perawatan selama 8 hari, ayahnya pun dinyatakan meninggal dunia. "Waktu itu saya sempat Whatsapps-an sama ayah. Dia bilang baik-baik saja dan hanya sesak napas. Tapi, beberapa hari berikutnya kok sudah tidak sadarkan diri," tuturnya.

Selama menjalani perawatan, Adit menyebut sang ayah tidak boleh dijenguk keluarga. Kondisi itu pun membuat keluarga cemas. Terlebih lagi setelah mendengar kematian sang ayah.

Mahasiswa Unnes Diskors Karena Laporkan Rektor ke KPK, BEM Minta Sanksi Dicabut

Adit menambahkan dirinya tidak tahu ayahnya terpapar Covid-19 dari dirinya atau orang lain. Meski demikian, informasi yang diperoleh, ayahnya sempat melakukan perjalanan ke luar kota sebelum dinyatakan positif virus corona.

Terkait hal itu, dirinya pun sedikit kecewa dengan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang yang dinilai terlambat dalam melakukan tracing terhadap keluarganya. Informasi yang diperoleh, tracing terhadap keluarganya baru dilakukan setelah ia dipindah ke Rumdin Wali Kota Semarang.

"Responsnya terlambat. Sudah pindah ke rumdin, tracing keluarga baru dilakukan. Hasilnya non-reaktif, keluarga hanya diminta karantina mandiri di rumah," jelasnya.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom