Santri kelas XI IPS Madrasah Aliyah (MA) Al-Muttaqien Pancasila Sakti, Karanganom, Misbakhul Arifin (kiri), membaca Aquran sambil didampingi Kepala MA, Yayuk Madayani (kanan), di ruang guru madrasah setempat, Rabu (5/2/2014). Dia adalah satu-satunya santri tunanetra yang menjadi hafiz di madrasah tersebut. (JIBI/Solopos/Shoqib Angriawan)

Kehilangan penglihatan sejak kelas VI SD tidak membuat remaja 17 tahun ini patah semangat. Remaja yang duduk di kelas XI IPS Madrasah Aliyah (MA) Al-Muttaqien Pancasila Sakti, Karanganom ini justru semakin terlecut untuk beribadah dan pantang menyerah dalam belajar. Bahkan, remaja penyandang tunanetra ini mampu menghafal beberapa juz dalam Alquran.

Dia adalah Misbakhul Arifin. Remaja Kelahiran Kudus, 7 September 1997 ini mengaku tidak kecewa saat penglihatannya diambil kembali oleh Sang Pencipta. “Saya tidak marah dan tidak kecewa saat penglihatan saya hilang. Itu justru menunjukkan bahwa Allah SWT sayang sama saya,” jelas remaja yang akrab dipanggil Misbakh ini kepada wartawan di MA setempat, Rabu (5/2/2014).

Satu-satunya putra dari pasangan Zainal Arifin dan Khofifatul Yusro itu mulai menghafal Alquran sejak kelas VII Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kudus. Namun, cara yang digunakan untuk menghafalkan Alquran ini tidak biasa seperti apa yang dilakukan orang normal pada umumnya.

Warga Piji Krajen, Dawe, Kudus itu menghafal Alquran dengan cara mendengarkan aplikasi lantunan ayat suci dari telepon genggam. Cara itu dilakukan karena selama ini belum pernah ada Alquran yang ditulis dalam huruf braile.
Dalam sehari, Misbakh menghafal lima hingga enam ayat dalam Al-Quran. Setiap satu ayat, dia perlu memutar tiga hingga lima kali untuk bisa menghafalkannya.

Saat menghafalkan Alquran, dia selalu dibimbing oleh pengasuh Ponpes, Jalaludin Muslim. “Saya selalu mengisi waktu luang dengan menghafal Alquran. Lebih nyaman mendengarkan sendiri daripada dibacakan,” katanya.

Saat ditanya sudah berapa juz dalam Alquran yang sudah berhasil dihafal, dia malu untuk mengatakannya. Namun, dia menargetkan dua tahun lagi bisa hafal 30 juz.

Dia mengaku terinspirasi untuk bisa menjadi seorang hafiz karena ayahnya. “Ayah saya juga seorang tunanetra, namun beliau bisa hafiz 30 juz dengan cara apapun. Saya jadi terinspirasi,” jelas remaja yang bercita-cita jadi penerus Gus Dur ini.

Atas prestasinya tersebut, dia ingin membuktikan bahwa penyandang cacat itu bisa dan tidak sepantasnya disingkirkan. “Saya ingin mengangkat harkat dan martabat orang cacat,” imbuhnya.

Kepala MA Al-Muttaqien Pancasila Saksi, Yayuk Madayani, mengatakan meski berbaur dengan siswa normal, prestasi Misbakh memang cukup baik di dalam kelas.

“Prestasi akademik Misbakh di kelas bisa dibilang di atas standar. Dia sangat aktif,” ungkapnya di lokasi, Rabu.

Kendati demikian, dia mengatakan Misbakh sedikit kesulitan dalam pelajaran yang bersifat hitung-hitungan seperti Matematika. Namun, pihaknya akan terus mendukung Misbakh untuk bisa menggapai mimpi-mimpinya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten