SOLOPOS.COM - Salah satu gadis penjual kambing, Putri Hayuning Wulan (kanan), tengah melayani salah calon pembeli yang berniat membeli hewan ternak kurban dagangannya di kios hewan ternak milik Margo di Jalan Raya Sadeng, Kalipancur, Gunungpati, Semarang, Senin (22/8/2016). (Imam Yuda Saputra/JIBI/Semarangpos.com)

Kisah inspiratif hadir dari mahasiswi Unisbank Semarang yang rela mencari uang cara berjualan kambing.

Semarangpos.com, SEMARANG — Berjualan hewan ternak, seperti sapi atau kambing, mungkin biasa dilakukan kaum Adam. Namun, jika pekerjaan itu dilakukan oleh para perempuan cantik, apalagi yang masih berstatus sebagai mahasiswa, tentu kisah inspiratif nan uniklah yang terjadi.

Promosi Klaster Usaha Rumput Laut Kampung Pogo, UMKM Binaan BRI di Sulawesi Selatan

Maklum saja, berjualan kambing maupun sapi bukanlah mudah dilakukan kaum Hawa. Selain cara penangganannya yang lumayan rumit, hewan ternak yang biasa digunakan untuk kurban itu memiliki bau yang cukup menyengat.

Namun, bau menyengat itu rupanya tak menyurutkan tiga perempuan di Gunungpati, Semarang. Mereka menjajakan hewan ternak untuk kurban kepada pembeli seraya berdekat-dekatan dengan kambing-kambing dan sapi-sapi yang beraroma menyengat itu.

Ketiga perempuan yang masih belia itu, adalah Putri Hayuning Wulan, Aurel, dan Dewi Sekar. Tanpa terkesan jijik dan malu-malu, ketiganya menawarkan hewan ternak dagangan mereka kepada para pengguna jalan yang melintas di Jl. Raya Sadeng, Kalipancur, Gunungpati.

“Kalau [kambingnya] bau sih iya. Tapi, mau bagaimana lagi ini kan sudah tugas kami untuk menjualnya,” ujar Putri Hayuning Wulan saat dijumpai Semarangpos.com di kios tempatnya berjualan, Senin (22/8/2016).

Perempuan yang masih berstatus sebagai mahasiswi semester III di Unisbank Semarang itu mengaku tak malu berjualan kambing. Selain upahnya yang lumayan, yakni Rp100.000/hari, berjualan kambing itu ia yakini bisa menjadi pengalaman berharga baginya di kemudian hari.

“Hitung-hitung cari pengalaman. Sebelumnya sih enggak pernah jualan kambing. Biasanya kalau dapat tawaran jadi SPG [sales promotion girl] disuruhnya jualan produk atau rokok,” tutur perempuan berjilbab itu.

Selama menjadi SPG hewan kurban, Wulan—sapaan Putri Hayuning Wulan—mengaku tak hanya menawarkan kepada para calon pembeli melalui selebaran yang berisi daftar harga hewan ternak yang dijajakannya di pinggir jalan. Ia juga harus rela mendampingi calon pembeli keluar masuk kandang melihat hewan ternak yang dijajakan.

“Baunya [kambing] memang menyengat. Apalagi yang belum dimandikan. Tapi, harus tetap tahan,” imbuh Wulan.

Terpisah, Margo, si pemilik kios hewan ternak untuk kurban Iduladha 1437 H itu mengaku memang memilih trik menarik pembeli dengan merekrut tenaga penjual atau SPG dari kalangan mahasiswa. Selain ramah, para SPG itu juga cantik-cantik sehingga menarik perhatian calon pembeli yang melintas di depan kiosnya.

“Memang sengaja saya merekrut SPG, supaya pembelinya semakin banyak. Target saya tahun ini harus menjual sekitar 350-400 ekor kambing. Semoga target itu bisa tercapai,” ujar Margo.

 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya