Tutup Iklan -->
KISAH INSPIRATIF : Di CFD, 4 Pemuda Ponorogo Aktif Kampanyekan Gemar Membaca
Seorang anak membaca buku yang menjadi koleksi di Perpustakaan Pinggiran di arena CFD Jl. Suromenggolo Ponorogo, Minggu (21/5/2017) pagi. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

Kisah inspiratif, empat pemuda di Ponorogo ini membentuk Perpustakaan Pinggiran.

Solopos.com, PONOROGO -- Rendahnya minat membaca buku di kalangan pemuda di Ponorogo membuat empat pemuda dari berbagai latar belakang membangun Perpustakaan Pinggiran.

Mereka mengampanyekan gerakan cinta literasi melalui perpustakan jalanan yang berada di titik-titik keramaian publik.

Empat pemuda itu bernama Yakub Nugrahali, 21, Amirul Ramadhan, 25, Khoirul Muarom, 25, dan Aziz. Mereka berstatus mahasiswa, pekerja seni, dan pekerja serabutan dan memiliki kegelisahan sama atas minimnya budaya literasi di Kota Reog.

Kegiatan mereka saat ini masih terbatas di menggelar perpustakaan di arena Car Free Day (CFD) di Jl. Suromenggolo Ponorogo yang diadakan setiap Minggu. Di CFD, mereka membuka lapak berupa meja sekitar dua meter yang disusun setengah melingkar. Ratusan buku dari berbagai genre ditata secara rapi di meja. Ada novel, buku politik, pemerintahan, keislaman, biografi tokoh, budaya, seni, dan lainnya.

Pengamatan Madiunpos.com, Mingu (21/5/2017), beberapa pengunjung CFD menyambangi perpusatakaan itu dan mengambil buku. Kemudian mereka menanyakan kepada pengelola Perpustakaan Pinggiran perihal bagaimana carameminjam buku tersebut.

Sejurus kemudian, dengan senyum ramah, satu pemuda menjelaskan untuk bisa meminjam buku di Perpustakaan Pinggiran disyaratkan merupakan warga Ponorogo dan menyertakan KTP atau kartu identitas.

Setelah identitas dicatat di list peminjam, buku tersebut bisa dibawa pulang dengan jangka waktu pinjam sepekan.

Begitu pula setelah dipinjam dan masa pinjam telah habis, buku tersebut harus dikembalikan. Pengembalian buku dilayani di arena CFD atau di sekretariat Perpustakaan Pinggiran yang ada di Jl. Dewi Kunti gang II No. 11, Kelurahan Tonatan, Ponorogo.

Kepada Madiunpos.com, Khoirul Muarom menceritakan Perpustakaan Pinggiran ini berdiri pada tanggal 29 Januari 2017. Sebelum mendirikan komunitas ini, ia bersama tiga kawannya itu berdiskusi mengenai kondisi minat baca di Ponorogo cukup mengkhawatirkan. Mereka berempat juga memiliki kecintaan terhadap buku.

Koleksi Pribadi

Kemudian, mereka mulai mengumpulkan buku koleksi masing-masing. Selain dari koleksi pribadi, mereka juga menawarkan gagasan Perpustakaan Pinggiran ini kepada teman-teman dan ternyata mendapat respons positif. Saat itu, terkumpul sekitar 100 buku dari berbagai genre dan selanjutnya Perpustakaan Pinggiran di-launching secara sederhana di arena CFD.

"Kami hanya melihat fakta bahwa budaya literasi di Ponorogo minim. Atas kegelisahan itu, kami memutuskan untuk membuat perpustakaan ini. Dari pada buku nganggur di rumah, mending bisa dimanfaatkan bareng-bareng. Hanya itu saja alasan kami dalam mendirikan perpustakaan ini," jelas dia.

Setelah menggelar perpustakaan di jalanan ini, antusiasme masyarakat terhadap perpustakaan ini juga cukup baik. Setiap membuka gelaran di CFD, minimal ada 20 orang yang meminjam buku.

Usia peminjam buku juga beragam, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Selain itu, pembaca di lokasi juga cukup banyak. Sembari berolahraga dan jalan-jalan, pengunjung CFD menyempatkan membaca buku meski tidak lebih dari 30 menit.

Berjalanannya waktu, gagasan kelompok ini pun mendapat dukungan dari kelompok sejenis dari berbagai daerah seperti dari Perpustakaan Jalanan Jakarta, komunitas buku di Bandung, perpustakaan jalanan di Yogyakarta, dan kelompok buku dari Bali. Sehingga saat ini, koleksi buku di Perpusatakaan Pinggiran ini lebih dari 200 buku.

Khoirul Muarom menambahkan perpustakaan ini berkonsep menjemput bola. Artinya, pengelola tidak hanya berdiam di sekretariat untuk menunggu peminjam datang, tetapi langsung turun ke ruang publik untuk mencari peminjam buku.

Konsep seperti ini sebenarnya juga sebagai kritik terhadap Perpustakaan Daerah Ponorogo yang enggan turun ke masyarakat untuk mendekatkan kepada pembaca. Padahal, di keramaian seperti CFD sangat berpotensi untuk mengampanyekan budaya literasi.

Selain melayani pinjam buku, di komunitas ini juga ada berbagai kegiatan yang berhubungan dengan buku. Antara lain diskusi dan bedah buku. Untuk kegiatan diskusi biasanya mengambil tema yang saat ini sedang menarik diperbincangkan publik, seperti beberapa waktu lalu pada peringatan Hari Kartini mengenai gerakan feminis.

"Kegiatan diskusi ini dibuka untuk umum. Siapapun boleh ikut, kami juga ada grup WA untuk media komunikasi dan ada Instagram yang juga sebagai media komunikasi dan promosi," terang Khoirul.

Dia mengakui dari kegiatan yang dilakukan selama ini belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan budaya literasi di Ponorogo. Namun, mereka yakin ketika gerakan ini secara massif dilakukan, bukan tidak mungkin budaya literasi di Kota Reog akan semakin baik dan kecintaan terhadap buku akan semakin tinggi.

Seorang pengunjung Perpustakaan Pinggiran, Yunika, mengatakan sangat mendukung gerakan literasi yang dilakukan komunitas Perpustakaan Pinggiran. Menurut dia, gerakan tersebut sangat tepat karena mengambil momen di keramaian publik seperti di CFD.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho