SOLOPOS.COM - Sumarjo alias Mbah Ratmo (kanan), menceritakan kisahnya menghalau puluhan pengendara motor yang akan menggelar aksi balapan liar di Jl Suratmo, Manyaran, Semarang, beberapa waktu lalu. (Imam Yuda Saputra/JIBI/Semarangpos.com)

Kisah inspiratif kali ini terjadi di Kota Semarang yang dilakukan oleh seorang kakek-kakek yang nekat membubarkan aksi balap liar.

Semarangpos.com, SEMARANG – Usia Sumarjono memang tidak muda lagi. Usia warga Jl Srigunting Timur III RT 006/RW 010, Gisikdono, Semarang Barat, Kota Semarang ini sudah menginjak 63 tahun.

Promosi Selamat! 3 Agen BRILink Berprestasi Ini Dapat Hadiah Mobil dari BRI

Meski demikian, nyali kakek enam cucu itu tak mudah menciut. Ia justru bisa dikatakan memiliki nyali yang besar karena berani seorang diri menghalau pelaku balap liar di daerahnya.

Yah, Sumarjono mulai menjadi perbincangan publik Kota Lunpia karena aksinya yang berani membubarkan aksi balap liar yang terjadi di Jl. Suratmo, Gisikdono, Semarang Barat. Berbekal tongkat bambu, ia menghalau para pemuda yang kebut-kebutan di trek lurus sepanjang 500 m, Jl. Suratmo.

Aksinya itu bukan tanpa risiko, bahkan mengancam keselamatannya. Karena aksi koboinya itu, Sumarjono atau yang akrab disapa Mbah Ratmo mengaku pernah dikeroyok sekitar 25 pemuda yang merasa terusik karena gagal menggelar aksi balap liar di Jl. Suratmo.

“Pernah saya dikeroyok sampai 25 pemuda. Kejadiannya sekitar bulan April lalu. Tapi, saya tidak takut. Saya layani tantangan mereka semua. Toh, mereka semua yang takut,” ujar Mbah Ratmo saat dijumpai Semarangpos.com di toko bahan bangunan tempatnya bekerja di Jl Untung Suropati, Semarang Barat, Kamis (23/6/2016).

Sumarjono mengaku tak ada maksud lain menghentikan aksi balap liar itu. Semua aksinya itu murni dilatarbelakangi keresahannya sebagai warga yang merasa terganggu dengan aksi balap liar itu.

Terlebih lagi, balap liar itu sudah berlangsung di jalanan itu selama tiga bulan terakhir. Namun, tak ada yang berani membubarkan aksi itu. Pihak kepolisian yang melakukan patroli pun seringkali kecolongan dengan aksi para pemuda yang menggelar trek-trekan.

“Aksi balapan liar itu sangat meresahkan. Sebagai warga yang setiap hari menggunakan jalan itu saya jelas terganggu. Selain keselamatan para pengguna jalan lain yang terancam dengan balap liar itu, motor mereka juga acap memekakan telinga. Suara knalpotnya bising dan bikin berisik,” jelas Sumarjono.

Akibat aksi koboi Sumarjono ini, intensitas balap liar di kawasan itu pun mulai berkurang. Apalagi jika Sumarjono sudah mengeluarkan tongkat bambunya saat para pemuda itu mulai beraksi.

“Kalau saya sudah bawa tongkat di depan mereka, kebanyakan pada langsung balik kanan. Kemarin [Rabu, 22 Juni 2016] pihak kepolisian juga sudah menggerebek mereka. Semoga, aksi balap liar itu benar-benar berakhir,” harap Sumarjono.

 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya