Kisah Ibu 43 Tahun Rela Jadi Kelinci Percobaan Vaksin Corona
Ilustrasi pandemi corona atau Covid-19 (Freepik)

Solopos.com, SOLO -- Perempuan asal Seattle, Amerika Serikat (AS), Jennifer Haller, 43, mendaftarkan diri menjadi kelinci percobaan vaksin corona atau Covid-19.

Ibu dua anak itu langsung mendaftar ke sebuah lembaga penelitian yang mencari sukarelawan untuk dijadikan kelinci percobaan pengembangan vaksin antivirus corona.

Sebelum resmi menjadi kelinci percobaan vaksin ini, Haller harus membaca surat pernyataan persetujuan setebal 45 halaman dan langsung menyanggupinya.

ODP Corona Mulai Karantina di Fasilitas Milik Pemkot Solo

Haller lantas memberitahukan niatnya ke anak-anaknya. Anak-anaknya bilang, "Ibu keren." Didukung kedua anaknya, Haller tambah semangat.

Haller tidak sendirian menjadi kelinci percobaan vaksin corona. Ada 44 sukarelawan lain yang bersedia menjadi kelinci percobaan fase I pengujian vaksin antivirus ini. Ke-45 relawan ini akan menjalani uji coba secara bertahap.

Namun, dari 45 orang itu, Haller tercatat sebagai orang yang pertama mengacungkan jarinya kesediaan menjadi kelinci percobaan vaksin corona.

KLB Corona di Solo Belum Dicabut, Rudy: Aku Kangen Nyawang Anakku Sekolah

Perempuan itu bersama sukarelawan lainnya telah menjalani uji coba pada Senin (16/3/2020). sebagaimana dikutip dari laman indonesia.go.id, Kamis (9/4/2020), menyadari menjadi kelinci percobaan vaksin corona yang dikembangkan National Institutes of Health (NIH) bersama Moderna Inc Amerika Serikat ini punya risiko besar.

Sebab uji coba ini tergolong tak biasa. Vaksin biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikembangkan dan dijual ke pasar.

Biasanya ke Hewan Dulu

Pada tahap uji praklinis, biasanya peneliti mengujicobakan terlebih dulu ke hewan untuk memastikan vaksin itu tidak hanya efektif, tetapi juga aman.

Namun para peneliti harus berkejaran dengan kecepatan virus yang sudah menyebar ke 158 negara dan menginfeksi lebih dari 1,4 juta penduduk dunia.

Kerja cepat dibutuhkan. Mereka memangkas prosedur yang biasa dilakukan di dunia penelitian. "Ini yang bisa saya lakukan dan saya ingin melakukannya," kata Haller seperti dilansir npr.org.

ASN Nekat Mudik? Siap-Siap Sanksi Penurunan Pangkat!

"Ada begitu banyak orang Amerika yang tidak seberuntung saya. Mereka kehilangan pekerjaan. Mereka khawatir membayar tagihan, memberi makan keluarganya."

Wanita yang bekerja di perusahaan teknologi di Amerika Serikat ini hanya berpikir bagaimana jutaan umat manusia terselamatkan dari serangan virus corona yang sudah melanda dunia.

Saat uji coba, Haller datang ke Lembaga Penelitian Kesehatan Kaiser Permanente Washington (KPWHRI) Seattle untuk divaksin.

Wali Kota Ditembak Mati Gara-Gara Terapkan Lockdown

Dia menjalani uji coba bersama tiga sukarelawan lainnya. Ia terlihat riang saat akan menjalani uji coba itu. Duduk di kasur yang ada di ruang pemeriksaan, ia terlihat santai.

Petugas medis sempat menanyakan namanya sebelum ia menyuntikkan vaksin corona ke lengan Haller.

Vaksin corona yang disuntikkan ke Haller dan sukarelawan itu dikembangkan dalam waktu pendek. Mereka tidak menggunakan virus yang hidup atau melemah.

Rekayasa Genetika

Kepala petugas medis Moderna Inc Tal Zaks mengatakan mereka melakukan rekayasa genetika. Artinya, antivirus yang dikembangkan itu dilakukan berdasarkan fakta-fakta yang dirangkai dari informasi digital. "Kami tidak perlu memiliki virus fisik, hanya informasinya," ujarnya.

Menurut Zaks, para peneliti menciptakan molekul RNA sintetik sejak awal Januari lalu setelah virus yang pertama kali menginfeksi warga Wuhan, Hubei, China, teridentifikasi.

Partikel sintesis yang mereka susun itu diharapkan mampu memproduksi antibodi terhadap virus corona. Vaksin corona itu mereka namai mRNA-1273.

Jauh Hari, Ilmuwan AS Sudah Peringatkan Pandemi Flu Paling Mematikan Dunia

Zaks mengatakan 45 peserta akan berpartisipasi dalam percobaan, masing-masing pada tiga tingkat dosis yang berbeda. Sukarelawan dalam uji coba vaksin corona buatan NIH-Moderna akan menerima jadwal vaksinasi dalam dua dosis, 28 hari terpisah.

Semua peserta akan dipantau selama 14 bulan. Mereka juga diminta untuk mencatat suhu tubuhnya dan perubahan apa saja yang terjadi pada tubuhnya setiap hari.

Peserta dalam penelitian ini akan menerima 100 dolar AS untuk setiap kunjungan laboratorium dengan total 1.100 dolar AS.

Tahu Siswa Solo Jenuh di Rumah, "Pak Rudy Sayang Kalian"

Apabila uji coba vaksin corona pada manusia ini berhasil, pejabat kesehatan masyarakat di AS memprediksi vaksin ini baru akan siap dipakai untuk umum selama setidaknya 18 bulan lagi.

Riset NIH-Moderna ini hanya salah satu dari beberapa riset yang dilakukan lembaga untuk menemukan vaksin yang bisa menangkal virus corona.

Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), saat ini ada 20 vaksin corona yang tengah dikembangkan.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho