Kisah Guru Honorer Sragen: 17 Tahun Mengabdi, Hidupi Keluarga dari Jadi Petani
Guru honorer asal Kadipiro, Sambirejo, Sragen, Yadi, 55, menjemur kacang hijau hasil panennya di depan rumah, Minggu (20/9/202). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Kisah guru honorer di Sragen, Yadi, 55, membuktikan betapa beratnya pengabdian sebagai pendidik non-PNS. Meski sudah 17 tahun menjadi guru honorer, Yadi tetap tak bisa mendapatkan penghasilan mencukupi dari pekerjaannya itu.

Dia justru menghidupi keluarganya dari hasil pengelola lahan pertanian. Warga Dukuh Gadingrejo RT 006, Desa Kadipiro, Sambirejo, Sragen, menyewa lahan bengkok Kepala Desa Kadipiro untuk menanam kacang hijau.

Lahan seluas 2.500 meter persegi tersebut disewa senilai Rp7 juta per tahun. Hasil pertanian itulah yang bisa diandalkan untuk menghidupi keluarganya dan menyekolahkan kedua anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi.

ASN di Menara Wijaya Sukoharjo mulai Kerja Sistem Sif, Begini Aturannya

Honor jadi guru honorer di SD di Sragen tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup karena terbilang kecil. Yadi sudah 16 tahun mengabdi sebagai guru dan wali Kelas V di SDN 1 Sambi, Sambirejo.

Sejak Oktober 2019, ia dimutasi menjadi guru honorer juga di SDN 4 Sambi, Sambirejo. Setiap hari, Yadi harus menempuh perjalanan minimal 8 km untuk sampai ke sekolahnya.

Sebelum 2019, honor Yadi saat masih di SDN 1 Sambi hanya Rp300.000/bulan. Sejak 1 Januari 2019, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen memberi tunjangan bagi guru honorer senilai Rp700.000/bulan. Saat itu, honor Yadi bisa tembus Rp1 juta per bulan.

Kenalin Gacobrush, Band Asli Wonogiri yang Usung Lagu Patah Hati, Bikin Ambyar Lur!

Tetap Bersyukur

Saat ini, penghasilannya dari menjadi guru honorer di Sragen senilai Rp825.000/bulan.

“Saya dimutasi ke SDN 4 Sambi karena ada tambahan tiga orang guru PNS [pegawai negeri sipil] di SDN 1 Sambi. Sejak di SDN 4 Sambi, honor saya turun karena dari sekolah hanya memberi Rp125.000/bulan. Kalau ditambah dengan tunjangan dari Pemkab jadinya Rp825.000/bulan,” ujar Yadi saat berbincang dengan Solopos.com, Minggu (20/9/2020).

Meski penghasilannya minim, Yadi mengaku tetap bersyukur. “Bagi saya pengabdian untuk mendidik anak-anak yang lebih penting. Sampai Oktober 2020 nanti, saya genap mengambdi sebagai guru honorer selama 17 tahun,” imbuh dia.

Mengenal Kepribadian Seseorang Lewat 5 Gaya Bicara Ini, Kamu yang Mana?

Yadi sempat mendaftar saat ada rekrutmen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Sragen. Namun, Yadi salah satu guru honorer yang tidak lolos.

Temannya yang lolos seleksi PPPK pun sampai meninggal dunia belum bisa menikmatinya karena sampai sekarang belum ada kejelasan tentang pengangkatan PPPK. Sebagai guru honorer di Sragen, Yadi pun tak memiliki fasilitas sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

“Saya tidak ikut BPJS ketenagakerjaan karena untuk kebutuhan keluarga saja kurang. Saya harus menggarap sawah untuk bisa menopang hidup. Dari sekolah juga tak memberi fasilitas BPJS ketenagakerjaan itu,” ujarnya.

Ini Resep 5 M Ala Ustaz Wijayanto untuk Halau Covid-19

Karena bukan peserta BPJS ketenagakerjaan, Yadi pun tak bisa berkesempatan mendapatkan bantuan langsung tunai dari pemerintah pusat. Namun, guru honorer di Sragen ini tak putus asa. Yadi yang sekarang jadi wali Kelas III SDN 4 Sambi itu tetap bersemangat mengajar siswanya.

Para siswa datang ke sekolah untuk mengambil tugas dari guru tiga kali dalam sepekan. Kebijakan itu dilakukan karena tidak memungkinkan bagi siswa untuk pembelajaran daring mengingat jaringan Internet tak stabil dan tidak semua siswa memiliki ponsel pintar.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom