Kisah Dokter Muda Jadi Sukarelawan Merawat Pasien Covid-19 
Ilustrasi tenaga medis. (Freepik)

Solopos.com, JAKARTA – Menjadi sukarelawan bidang kesehatan di tengah pandemi Covid-19 membutuhkan kerja keras dan dedikasi yang luar biasa. Seperti dilakukan dr Aulia Giffarinnisa.

Ketatnya hazmat dan berbagai alat pelindung diri yang membalut tubuh tidak menyurutkan niatnya bertugas. Dia juga harus menahan lapar dan haus akibat pemakaian perlengkapan pelindung diri tersebut.

Awalnya wanita yang akrab disapa Farin itu tidak mendapat restu keluarga untuk bekerja sebagai sukarelawan medis. Sebab, jumlah pasien Covid-19 terus meningkat setiap harinya. Apalagi yang dilawan saat ini adalah virus yang menular dengan cepat.

SMK Negeri Jateng Jadi Klaster Covid-19, Pembukaan Sekolah Bisa Jadi Mundur

Meskki demikian keputusannya sudah bulat untuk menjadi sukarelawan nakes yang merawat pasien positif Covid-19 dan sempat bertugas di Sulawesi Selatan.

“Saya tidak menyerah dengan keinginan saya untuk mengabdikan diri, saya terus meyakinkan orang tua dan keluarga. Akhirnya izin dari orangtua saya keluar pada Agustus lalu dan mulai September saya bertugas di Wisma Atlet,” jelasnya dalam dialog erbakti untuk Kemanusiaan Tanpa Pamrih di Media Center KPCEN, Jumat (4/12/2020)  seperti dilansir Covid19.go.id.

Ada banyak suka dan duka yang dialami Farin selama betugas. Apalagi pada September 2020 lalu dia yang bekerja di Wisma Atlet dibuat kewalahan karena kapasitasnya hampir penuh.

“Awalnya takut, namun akhirnya cepat beradaptasi. Sistem kerja shift 8 jam namun karena memakai APD maka harus bersiap satu jam sebelumnya. Selama bertugas juga tidak boleh membuka APD jadi tidak boleh buang air dan terpaksa puasa,” sambung dia.

Cerita di Balik Penembakan Mobil Bos Duniatex: Sengketa Lahan 1 Hektare hingga Utang Rp16 Miliar

Aman dan Nyaman

Tetapi, dokter muda ini merasa aman dan nyaman melayani pasien Covid-19. Meski dia sempat merasa tertekan jika berhadapann dengan pasien yang ngeyel.

“Agak tertekan ketika menghadapi pasien yang ngeyel karena tidak nyaman dalam perawatan. Kadang mereka sering melepas selang oksigen padahal mereka sangat perlu hanya mereka merasa tidak nyaman,” ujarnya.

Dalam kondisi semacam itu dia pun berusaha memahami kondisi psikologis pasien dan mengusahakan yang terbaik agar mereka sembuh.

“Mereka hanya  didampingi dokter dan tenaga kesehatan. Salah satu pengalaman tidak terlupakan menyaksikan bagaimana proses pasien yang satu bulan dirawat dengan gejala parah sekali hingga akhirnya bisa sembuh dan dinyatakan negatif dan diijinkan pulang,” ujarnya.

Warga Sragen Diduga Terjun ke Bengawan Solo Ditemukan Tak Bernyawa

Mengingat pandemi belum berakhir dan persebaran Covid-19 yang kian masif, Farin yang merupakan sukarelaawan ini berpesan kepada semua orang untuk berkontribusi menangani pandemi dari hal paling kecil.

“Kontribusi minimal yang dapat dilakukan adalah mencegah penularan dari diri sendiri dan orang di sekitar. Laksanakan protokol kesehatan 3M,” tegas  dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom