Kisah Dokter Liana Tangani Pasien Corona Pertama di Solo: Sempat Demam dan Mual
Ilustrasi pakaian hazmat (Freepik)

Solopos.com, SOLO -- Dokter Liana Herlina adalah salah satu dokter di Kota Solo yang pernah menangani pasien corona. Kepada Solopos.com, dia menceritakan pengalamannya menangani pasien penyakit menular tersebut.

Hampir satu bulan ini aktivitas Dokter Liana Herlina berubah. Sejak pandemi corona melanda Kota Solo, hari-hari bagi dia menjadi lebih panjang dibanding biasanya.

Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran (FK) UNS Solo itu bekerja di salah satu RS rujukan Covid-19. Ia jugalah yang menangani pasien pertama Corona di rumah sakit itu.

Saat kasus pertama corona di Solo ditemukan, Dokter Liana dan salah seorang rekannya ditugaskan untuk menangani pasien tersebut.

Gejala Baru Positif Virus Corona: Bintik Merah Gatal

"Tapi sebenarnya ini tanggung jawab bersama manajemen. Mereka yang menyuplai alat pelindung diri [APD], mengatur alur pasien, hingga penanganan sampah infeksius. Kebetulan karena kegawatan paru-paru menjadi tugas kami, saya ditunjuk. Sudah menjadi kewajiban bagi dokter untuk menolong orang lain,” kata dia ketika dihubungi Solopos.com, Rabu (8/4/2020).

Menjadi dokter yang menangani pasien penyakit menular seperti corona di Solo, Liana harus berbekal proteksi ekstra. APD yang dikenakannya pun berlapis.

Tidak Ada Lubang

Setibanya di RS, dia harus berganti baju oka. Kemudian dilapisi pakaian hazmat (hazardous materials), lantas apron. Setelahnya, ia wajib memakai kacamata plastik atau google serta masker N95 yang ditumpuk masker bedah dan memakai penutup kepala.

Satu Lagi PDP Covid-19 di Sragen Meninggal, Hasil Lab Belum Diketahui

Sesudah seluruhnya dipakai, ia lanjut mengenakan face shield atau pelindung wajah. Lalu sarung tangan karet pendek dilapisi sarung tangan panjang.

“Kemudian saya memakai sepatu bot dilapisi shoe cover. Seluruh seragam hazmat ini kami kenakan saat memasuki ruang isolasi bertekanan rendah. Sebelum masuk ruang harus dipastikan tidak ada lubang pada seragam. Karena sekali pakai, saya harus buang air kecil dan menyelesaikan urusan lebih dulu,” cerita dokter yang menangani kasus corona di Solo itu.

Saat Liana sudah masuk ruangan, pakaian hazmat itu tidak boleh dilepas kemudian dipakai lagi. Karena jika sudah dilepas harus ganti APD baru. APD yang lama dibuang sebagai sampah infeksius setelah dipakai. “Padahal jumlah APD sangat terbatas,” jelas Liana.

Ongkos Dibayar, Kasus Dugaan Penipuan Ojol Purwokerto-Solo Ditutup

Ia mengatakan batas waktu terlama berada di ruang bertekanan negatif itu adalah dua jam. Batasan tersebut ditentukan agar ia tidak terlalu lama berkontak erat sehingga memiliki risiko terpapar. Dua jam itu pun hanya saat harus memantau kondisi pasien positif corona yang sedang menurun.

Seusai menjalani sifnya, Liana tak langsung pulang ke rumah. APD yang dikenakannya harus dilepas sangat hati-hati. Sesudah itu, Liana mandi, berganti pakaian biasa, dan bergegas pulang.

“Beruntung, pemilik rumah indekos yang saya tempati adalah dokter spesialis. Jadi, tidak ada penolakan oleh warga sekitar. Saat saya sampai rumah pun, saya harus kembali bersih-bersih baru kemudian bisa beristirahat,” jelasnya.

Tak Ada Tawar Menawar, Pemudik Solo Sekarang Wajib Karantina di Grha Wisata Niaga

Dokter itu mengisahkan sejak kasus corona pertama muncul di Solo muncul, ia belum berjumpa keluarganya. Kedua putra dan suaminya tinggal jauh di luar kota.

Sempat Sakit

Liana biasa pulang ke sana dua pekan hingga sebulan sekali. Sejak Solo berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) kepulangannya tertunda. Apalagi, kerja harian menjadi lebih ekstra. Panggilan video dan suara jadi satu-satunya pelipur lara.

“Anak-anak dengan suami, mertua, dan kedua orang tua saya. Tapi, kebetulan suami saya dokter umum sehingga kami sama-sama bekerja di tengah pandemi,” ucapnya.

Ini Identitas 2 Mayat Telanjang di Sajadah di Rumah Banyuanyar Solo

Sebagai manusia biasa, kondisi kesehatan dokter yang menangani pasien corona di Solo itu juga pernah jatuh. Ia mengalami demam dan mual sehingga harus beristirahat total. Meminta bantuan rekan sejawat, dia menginfus dirinya sendiri.

Ditambah konsumsi vitamin dosis tinggi, ia pun membaik dan bisa kembali bertugas. “Sekarang saya sudah lebih baik. Agar tetap sehat saya makan banyak protein, karbohidrat, dan vitamin C dosis tinggi, serta olahraga dan berjemur jika sempat,” kata dia.

Sebelum mengakhiri perbincangan, Liana berharap masyarakat ikut menekan persebaran corona sebagai dukungan untuk tenaga kesehatan. Caranya dengan tidak keluar rumah apabila tidak ada urusan penting, memakai masker, dan mencuci tangan pakai sabun.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom