Kisah Di Balik Batik Song Song, Batik Khas Sewulan Madiun
Seorang pembatik Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Siti Mukaromah, 51, membatik song song, Rabu (2/10/2019). (Madiunpos.com-Abdul Jalil)

Solopos.com, MADIUN -- Masyarakat Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, mulai mengangkat kembali kain batik yang sempat menjadi identitas desa tersebut. Dengan mengusung motif song song, batik Sewulan yang puluhan tahun silam mati suri itu kini diangkat kembali.

Saat ini sejumlah pembatik asal Desa Sewulan secara serius menekuni membuat batik tersebut. Batik song song asli Sewulan ini pun mulai digemari masyarakat dan dijadikan seragam berbagai instansi pemerintahan dan perusahaan swasta di Madiun.

Baca Juga:

Punya Batik Hingga Waterboom, 7 Desa Dirintis Jadi Desa Wisata Sragen

Magelang Luncurkan 50 Motif Batik Khas

Saat ditemui Madiunpos.com di salah satu rumah produksi batik song song, Rabu (2/10/2019), Kepala Desa Sewulan, Sukarno, 57, mengatakan desanya sebenarnya sejak lama memiliki kain batik yang menjadi ciri khas. Namun, saat itu batik Sewulan hanya memiliki motif klasik seperti parang, kawung, dan lainnya.

Namun kain batik yang menjadi identitas warga Sewulan itu lama-lama pudar. Pembatik-pembatik yang ada di desa ini pun mulai meninggalkan pekerjaannya. Sedangkan sisanya sudah meninggal dunia.

"Saya masih ingat, sekitar tahun '60-an itu di desa ini banyak pengrajin batik. Tapi sekarang ya sebagian besar sudah tidak ada," kata dia.

Dari sisa-sisa sejarah itu, masyarakat desa setempat kemudian ingin membangkitkan kembali kejayaan batik Sewulan. Dengan dibantu fasilitasi pemerintah desa setempat, delapan warga kemudian mengikuti pelatihan membatik.

Dengan proses latihan itu, mereka pun memberanikan diri untuk mengembangkan batik Sewulan. Salah satu yang diperbarui pada motifnya.

Motif batik Sewulan berganti dari yang dahulunya hanya motif klasik, saat ini menjadi motif song song atau payung. Song song merupakan salah satu benda bersejarah dalam kearifan lokal di Desa Sewulan.

Dalam sejarahnya, song song ini menjadi awal berdirinya Desa Sewulan. Singkat cerita, Kiai Ageng Basyariyah, pendiri Desa Sewulan, diminta untuk mencari song song oleh gurunya.

Hingga akhirnya Kiai Basyariyah menemukan song song ini di tengah hutan yang saat ini menjadi Desa Sewulan. Song song ini yang kemudian dijadikan motif batik khas Sewulan.

"Jadi motif batik khas Sewulan ini ya ada song song. Meskipun dalam perkembangannya motif batik song song ini dipadukan dengan motif-motif lainnya. Ini yang ingin kita angkat," kata dia.

Batik song song ini baru diperkenalkan ke publik pada tahun 2018. Meski baru dua tahun, batik song song ini sudah mendapatkan penggemarnya. Banyak masyarakat yang suka dengan motif song song ini.

Sukarno menuturkan saat ini jumlah pembatik di Desa Sewulan ada delapan orang. Mereka ini ada di bawah Badan Usaha Milik Desa Mesem Guyu. Satu potong batik song song ini dijual dengan harga Rp200.000 hingga Rp400.000 per helai.

Seorang pembatik Desa Sewulan, Siti Mukaromah, 51, mengatakan saat ini pemesan batik song song semakin banyak. Dalam sebulan, ia bisa menghasilkan 25 potong kain batik.

"Untuk saat ini batik song song hanya batik tulis. Belum ada batik printing maupun cap," kata dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom