Solopos.com, MADIUN — Mata Devy Christa berkaca-kaca saat mengenang ibunya, Merry Utami, terpidana mati kasus narkoba yang kini masih menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cilacap, Jawa Tengah.

Dengan terbata-bata, Devy mulai mengingat kembali memori-memori pahit 18 tahun silam.

Saat berbincang dengan Solopos.com di Kota Madiun, Jawa Timur, awal Mei 2019, Devy Christa mengaku tak menyangka bisa menjalani hidup dari kecil sampai dewasa tanpa didampingi ibunya.

Meskipun, kehidupannya selama 18 tahun terakhir penuh lika-liku masalah yang mungkin sebagian orang tak akan sanggup menghadapinya.

Ibunya, Merry Utami, masuk penjara saat Devy berusia delapan tahun. Di usianya yang masih sangat belia itu, kasih sayang seorang ibu sudah tidak lagi dirasakannya. Peran ibu kemudian digantikan oleh sosok sang ayah.

Kehidupan Devy setelah ditinggal ibunya nyaris hanya bersama ayahnya, Juwariyanto, dan kakaknya, Yossi Agaestyanto di Magetan, Jawa Timur. Kala itu, kakaknya Yossi juga ikut bersama ayahnya membantu membesarkan Devy.

Tetapi kebersamaannya dengan Yossi tidak berlangsung lama. Tiga tahun setelah ibunya dipenjara, Yossi meninggal dunia karena penyakit yang diderita. Pada saat momen duka itu pun, ibunya tak hadir untuk menghormati pemakaman kakak Devy.

Saat Merry Utami ditangkap petugas Bandara Soekarno Hatta Tangerang pada Oktober 2001 silam karena kasus narkotika, keluarganya bersama-sama menonton tayangan berita di televisi saat itu. Namun, Devy tidak paham dengan kejadian yang menimpa sang ibu. Keluarga pun bungkam atas berbagai pertanyaan terkait tayangan berita di televisi yang diajukan Devy.

Belakangan, saat beranjak dewasa, Devy baru mengetahui kalau ibunya terlibat dalam kasus narkoba dengan membawa heroin seberat 1,1 kg. Selanjutnya Merry dihukum penjara di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Tangerang.

“Saya sempet melihat di televisi. Saat itu kan wajahnya ditutupin kerudung atau baju. Orang rumah kan pada ramai. Ada bapak, kakek, nenek saya juga ada. Waktu itu saya diminta untuk masuk ke kamar. Orang rumah ga ada yang ngasih tahu,” kata wanita yang kini berusia 26 tahun itu.

Tahun demi tahun berlalu. Sejak peristiwa tayangan televisi itu, Devy tidak pernah lagi bertatap muka lagi dengan ibunya. Bahkan untuk sekadar berkomunikasi melalui sambungan telepon pun sudah tidak pernah.

Ingatan Devy tentang ibunya hari demi hari pun mulai pudar. Tidak pernah bertemu dan tidak pernah berkomunikasi menjadikan memori-memori indah bersama ibunya kian luntur. Setelah tujuh tahun ibunya pergi tanpa ada kabar, Devy untuk kali pertama bertemu dengan sang ibu.

Pertemuan dramatis itu terjadi di LP Wanita Tangerang. Devy saat itu baru kelas I SMP. Ia diajak ayahnya, Juwariyanto, mendatangi penjara di Tangerang. Ayahnya tidak memberitahu tujuan saat mengajaknya mendatangi penjara.

Setelah beberapa saat menunggu, sesosok wanita datang dan langsung memeluknya erat. Tangisan wanita itu pun pecah. Pelukannya pun semakin erat.

Tetapi Devy sampai saat itu belum mengetahui sosok wanita yang memeluknya. Dalam pelukan wanita itu, Devy hanya diam dan kaget atas reaksi pelukan dan tangisan dari wanita yang tak dikenalnya itu.

Devy sungguh tidak menyangka kalau wanita yang memeluknya adalah ibu yang bertahun-tahun dirindukannya. Ia mengaku lupa wajah sang ibu, karena saat ditinggal Devy masih bocah dan tidak begitu mengingat sosok sang ibu.

Kala itu, Devy baru tahu saat ayahnya memberitahu bahwa wanita yang memeluknya itu adalah Merry Utami, ibunya. Devy merasa saat itu nuansanya biasa-biasa saja. Devy sadar bertahun-tahun tidak bertemu membuat wajah ibunya sudah sedikit dilupa.

Pertemuan awal itu pun berlangsung dengan situasi yang serba canggung. Devy canggung saat hendak berbincang karena memang sudah bertahun-tahun tidak berkomunikasi dan tatap muka dengan ibunya.

Setelah bertegur sapa dan basa-basi, Devy merasa mulai cair dengan kehadiran sang ibu. Keduanya pun menceritakan persoalan harian dan saling melepas rindu. Selama obrolan berlangsung, ibunya tidak sepatah kata pun menyinggung kasus hukum yang sedang menjeratnya.

“Mama itu dari dulu memang tertutup dengan kasusnya. Jadi kayak anaknya supaya ga mikirin. Selama ini mama juga tidak pernah menunjukkan rasa sedih kepada saya. Bahkan mama sering bilang kepada saya untuk tenang,” cerita Devy. (bersambung)