Sugeng bersama istri dan anaknya berfoto di depan rumahnya di Godo Kidul Kebonagung, Sidoharjo, Wonogiri, Selasa (8/10/2019). (Solopos-Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI -- Seorang petani yang agen tiket bus, Sugeng, 54, warga di Godo Kidul RT 001/RW 003, Kebonagung, Sidoharjo, Wonogiri, mampu mengalahkan calon kepala desa (cakades) petahana dalam ajang Pilkades Kebonagung, 25 September 2019 lalu.

Saat Pilkades lalu, Sugeng menumbangkan cakades petahana yang masih berpengaruh di desanya, Bagio Suranto, dan cakades muka baru lainnya, Agus Triyono. Sugeng meraup 833 suara, Agus 332 suara, dan Bagio 568 suara.

Saat dijumpai solopos.com, di rumahnya, Selasa (8/10/2019), Sugeng mengaku dapat memenangi kontestasi setelah melalui tantangan sangat berat, baik dari internal maupun eksternal. Pilkades tahun ini merupakan keikutsertaannya kali ketiga.

Dua kali pilkades sebelumnya, Sugeng yang sudah kurang lebih 30 tahun menjadi agen tiket bus antarkota antar provinsi (AKAP) di Terminal Sidoharjo kalah. Hal itu membuat istri dan anaknya yang sudah dewasa malu.

Tak heran pencalonannya kali ketiga membuat istri dan anaknya sangat terkejut. Istri Sugeng, Marti, berat memberi restu, karena tak memiliki dana memadai. Meski begitu Marti akhirnya memberi izin, tetapi memberi syarat yang membuat Sugeng sangat bingung.

Marti meminta Sugeng kembali ke kampung halamannya di Dusun Sumberejo, Sidoharjo, jika dia kalah lagi dalam Pilkades. Hal itu berarti Marti meminta pisah. Marti meminta syarat seperti itu karena akan sangat malu apabila Sugeng kembali kalah untuk kali ketiga.

“Saya juga meminta dia mencari dana sendiri dan melarangnya menjual sawah. Kami ini orang enggak punya, tapi alhamdulillah ada saja yang membantu kayu bakar dan singkong untuk suguhan warga yang berkumpul,” ucap Marti saat berbincang dengan solopos.com.

Syarat berat dari sang istri tak menggerogoti niat Sugeng, karena dia sangat yakin pilkades tahun ini bisa menang. Niat pria yang juga nyambi menjadi makelar batu bata dan sepeda motor itu begitu teguh setelah mendapat pertanda bernuansa mistis selama 35 hari melakoni Salat Tahajud pada sepertiga malam setiap hari sebelum memutuskan nyalon lagi.

Selama selapan itu, Sugeng empat kali bermimpi aneh, yakni didatangi tiga bidadari, bertemu cakades petahana mengenakan celana panjang yang diliting, mengalahkan harimau yang mengamuk, dan dikelilingi tiga perempuan cantik tetapi dia tak tergoda.

Setelah menyelesaikan tirakat tersebut, Sugeng mengaku menanyakan arti mimpinya kepada paranormal di Pacitan, Jawa Timur.

“Didatangi bidadari itu artinya mendapat wahyu, bertemu petahana yang celananya dilinting bermakna petahana sudah semeleh, mengalahkan harimau berarti merobohkan penguasa, dan dikelilingi wanita cantik itu artinya ada banyak godaan tapi akhirnya saya bisa tak tergoda. Itu pertanda bagus. Setelah itu saya sangat yakin, apa pun rintangannya tidak saya gubris. Banyak orang meremehkan saya. Menurut mereka saya enggak bakal bisa menang karena miskin, hanya seorang penjual tiket bus,” ulas Sugeng.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten