Kirab Seribu Ingkung di Jepara Syukuri Panen 3 Kali
Warga Desa Kendengsidialit, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah menyiapkan ingkung untuk disantap bersama seusai dikirab dalam rangka Kirab Seribu Ingkung, Minggu (1/12/2019). (Antara-Akhmad Nazaruddin Lathif)

Solopos.com, JEPARA — Musim kemarau yang baru berlalu memang cukup panjang, Maka layak jika ada wilayah yang berhasil tiga panen pada tahun lalu mensyukurinya. Itulah yang dilakukan warga Desa Kendengsidialit, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Minggu (1/12/2019).

Seribuan warga di Desa Kendengsidialit menggelar Kirab Seribu Ingkung sebagai wujud rasa syukur atas hasil pertanian yang dicapai petani setempat yang sempat tiga kali panen pada tahun lalu. Lebih distukuri, tiga kali panen setahun itu sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Kirab Seribu Ingkung yang merupakan agenda tahunan masyarakat Desa Kendengsidialit tersebut tidak hanya diikuti petani. Masyarakat yang tidak ikut menggarap sawah pun ikut serta memeriahkan kegiatan tersebut.

Selain mengarak seribu ingkung dari rumah kepala Desa Kendengsidialit, peserta kirab juga membawa sembilan orang-orangan sawah yang terbuat dari jerami, pasukan keprajuritan, kepala desa dan perangkat.

Ingkung merupakan olahan ayam yang dimasak secara utuh dan disajikan dengan nasi serta sayur di atas tampah atau wadah yang terbuat dari anyaman bambu.

Kepala Desa Kendengsidialit Kahono Wibowo mengungkapkan bahwa Kirab Seribu Ingkung wujud syukur para petani atas hasil pertanian yang diperoleh selama setahun. Selama ini, petani Kendengsidialit dapat memanen padi tiga kali dalam satu tahun.

Bahkan, imbuhnya, saat musim kemarau pun mereka tetap bisa panen padi setelah sebelumnya hanya bisa panen sekali meskipun bisa tanam tiga kali. "Harapannya, pada tahun mendatang hasil pertanian akan semakin meningkat hasilnya," ujarnya.

Luas lahan pertanian di Desa Kendengsidialit mencapai 127 ha, sehingga masing-masing petani yang memiliki lahan garapan minimal . Kirab seribu ingkung rangkaian Gelar Budaya Desa Kendengsidialit.

"Gelar Budaya ini berlangsung dua pekan. Acara besar di antaranya, kirab seribu ingkung, panggung rakyat, kirab gunungan, dan pentas wayang kulit lima dalang lima panggung dalam satu cerita," katanya.

Tujuannya, kata dia, dalam rangka menjalin kerukunan antarwarga dan mengangkat potensi desa setempat. Pada kesempatan tersebut, dia mengajak masyarakat untuk bersama-sama membangun desa setempat menjadi lebih baik.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho