Tutup Iklan
PB XIII (tengah), berjalan menuju Kereta Garuda Kencana saat Kirab Agung di Kori Kamandungan Keraton Solo, Sabtu (5/5/2018). (Solopos-M.Ferri Setiawan)

Solopos.com, SOLO -- http://soloraya.solopos.com/read/20180407/489/908511/kerbau-bule-keraton-solo-lahirkan-anak-jantan-diberi-nama-kyai-parto">Keraton Solo atau Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sabtu (5/5/2018) menggelar Kirab Agung. Kirab Agung Keraton Solo ini merupakan salah satu prosesi Tingalan Jumenengan PB XIII.

Dalam Kirab Agung Solo itu Raja Solo, PB XIII bersama keluarga menyapa warga Solo dan menyebar koin atau udik-udik.

Di depan Kori Kamandungan http://soloraya.solopos.com/read/20180501/489/913602/6-tahun-vakum-kirab-agung-jumenengan-keraton-solo-digelar-lagi">Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada Sabtu (5/5/2018) siang ramai oleh ratusan orang. Jika biasanya salah satu ikon Kota Solo ini dipadati oleh para wisatawan yang hendak mengunjungi keraton, kali ini mereka tumpah ruah bersama warga yang berniat menyaksikan langsung Kirab Agung Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dalam rangka Tingalan Dalem Jumenengan ke-14 Sampeyan Ingkang Sunuwun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi, yakni peringatan ke-14 tahun naiknya Hangabehi ke takhta sebagai PB XIII.

Ya, Hangabehi naik takhta menggantikan sang ayah, PB XII yang meninggal dunia pada 11 Juni 2004. Putra tertua mendiang PB XII dengan KRAy. Pradapaningrum ini dinobatkan menjadi raja pada 10 September 2004 lalu.

Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat K.G.P.H. Dipokusumo mengatakan kirab agung ini merupakan kelanjutan dari perayaan Tingalan Dalem Jumenengan atau peringatan kenaikan takhta raja pada Kamis (11/4) lalu.

“Prosesi kirab agung ini sama dengan saat kirab suro. Ini memang tidak dilakukan setiap tahun. Biasanya digelar setelah kenaikan takhta, atau sesuai perhitungan tahun Jawa, maupun kersa dalem [sinuhun]. Kali ini merupakan kehendak sinuhun,” tuturnya, saat ditemui wartawan, di Sasana Putra.

Perayaan peringatan kenaikan takhta raja pun terasa kian meriah dengan dipasangnya empat janur kuning di bagian depan Kori Kamandungan. Tak lupa karpet merah panjang digelar dari balerata hingga ke Siti Hinggil untuk lewat para peserta kirab.

Sebelum kirab agung dengan menempuh rute sepanjang 4 km, sekitar pukul 15.00 WIB, PB XIII Hangabehi didampingi sang istri, GKR. Pakubuwana, berjalan dari Kori Kamandungan menuju Siti Hinggil. Sore itu sang raja yang sudah berusia 69 tahun ini jalan dengan cukup pelan sembari dituntun sang permaisuri ke Siti Hinggil.

Prosesinya, Sinuhun lebih dahulu melewati Dalem Ageng Prabasuyasa dengan diiringi gending Sri Katon. Ia kemudian mendatangi Sasana Handrawina untuk menemui keluarga serta para tamu undangan. Pada kirab agung ini sang raja yang mengenakan baju Jawa, yakni dimulai dengan kuluk, baju takwa dengan ornamen keemasan, dan kain batik motif parang. Pada bagian baju, sang raja menyematkan dua buah bors, yakni bros makutho bertulis PB X dan berbentuk bunga mawar. Tak lupa ia mengenakan selop ceplok berlian.

Ikuti Kirab

Selepas dari Sasana Handrawina, ia pun menuju Griya Sri Manganti dengan diiringi gending coro balen kemudian ke Siti Hinggil. Dari Siti Hinggil PB XIII lalu ke Bangsal Witono dan Bangsal Prangawit baru kemudian ke Sasana Sumewa. Dari sinilah sang raja naik kereta Garuda Kencana bersama permaisuri untuk mengikuti kirab.

“Ada sekitar 14 kereta kencana yang dipakai kirab. Sinuhun menggunakan Garuda Kencana. Ada cerita di balik kereta ini. Semula kereta ini dipesan oleh PB VII, tapi belum selesai ia meninggal. Setelah itu PB VIII lah yang melunasi pembayarannya, tapi ia belum sempat menaikinya lantaran wafat lebih dulu. Maka, PB IX lah yang kali pertama menggunakan kereta ini,” tutur adik PB XIII ini.

Pada kirab agung ini sejumlah senjata pun turut dibawa serta, yakni berupa ampil-ampilan dalem. Selain keluarga kerajaan dan kerabat, mereka yang ikut memeriahkan kirab ini antara lain, sentono dalem, abdi dalem, serta sejumlah kelompok masyarakat. Sementara rute kirab sama seperti saat kirab suro, yakni dari Keraton menuju Jalan Pakoe Buwono melewati gapura Gladag, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, Jalan Slamet Riyadi, kemudian kembali ke Keraton. Total ada sekitar 4.000-an orang yang ikut serta.

Selama melewati jalan-jalan utama di Kota Solo ini, sang Raja menyebar koin-koin ke warga dari dalam kereta. Sebar koin atau udik-udik ini sebagai simbol kepedulian raja terhadap rakyatnya.

“Alhamdulillah, dapat tujuh koin. Ini mau saya simpan saja siapa tahu membawa berkah,” tutur salah satu warga asal Baluwarti, Pasar Kliwon, Sri Wahyuni.

 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten