Heri Priyatmoko/Dokumen Solopos

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (28/5/2019). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan pemrakarsa Solo Societeit. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Saya agak terkejut tatkala nama saya bersama komunitas Solo Societeit ”disenggol” Rizka Nur Laily Muallifa dalam esai di koran ini beberapa pekan silam. Terlepas dari penilaian terhadap komunitas sastra di Solo yang menurut Rizka kurang gayeng dan kaku dalam diseminasi pengetahuan, esai berjudul Biduk Sejarah yang Tak Elitis itu meneropong kiprah aneka komunitas penggumul sejarah di Kota Solo.

Rizka menyatakan kerja Solo Societeit banyak berdakwah sejarah lewat televisi dan rajin memproduksi tulisan di media massa dengan aroma sastrawi. Tampaknya ia tak melebarkan pandangan dan meriset kurang mendalam ketika hendak menyusun esai itu.

Sebenarnya langkah paling gampang bisa ditempuh dengan menelusuri media sosial (Instagram dan Facebook) serta berselancar di laman Internet. Dunia maya menyimpan berbagai jejak yang telah kami perbuat selama setahun ini.

Di sana ada dokumentasi rupa-rupa kegiatan diseminasi kawruh yang ditempuh Solo Societeit kendati para anggotanya harus tombok dan bantingan dana. Lembaga nonprofit ini melibatkan sedikit kaum muda dari lintas disiplin, tak melulu berlatar sejarah.

Ada yang dari jurusan sastra Jawa, ekonomi manajemen, ilmu komunikasi, kebidanan, penyiaran, hingga kehumasan. Irisan penyatu dari segenap perbedaan keilmuan itu adalah kemauan dan kesenangan setiap anggota mempelajari sejarah serta budaya Jawa yang mengasuh mereka sedari kecil.

Ada kesepakatan komunitas tersebut sebagai ruang ngangsu kawruh informal dan panggung demi mengasah pengetahuan di samping menempa mental berbicara dan menulis untuk konsumsi publik. Dengan upaya ini, kesan menokohkan seorang anggota (sentrisme) atau menciptakan satu “matahari” sukar terjadi.

Setiap anggota dibebaskan (juga diwajibkan) berbicara dan mendalami minat dengan perspektif kelampauan dan kultural. Karena itulah, topik yang diusung saat siaran, penjelajahan, maupun diskusi begitu variatif.

Ada anggota yang berlatar lulusan pawiyatan keraton kemudian berpikir kreatif mengelaborasi penjelajahan dan diskusi dengan pelatihan. Dibantu anggota lainnya dan dwija pawiyatan, digelar worskhop miru dan memakai jarit yang dikemas dalam acara bertajuk Ngadi Busana Karaton di Ndalem Kayonan.

Berbalut Humor

Siapa sangka, peminatnya membeludak dari kalangan generasi muda. Tunas muda terlihat asyik dengan ”keribetan” memasang jarit dan laku ndhodhok. Mereka tampak girang, bibir berlumur senyum, dan tawa pecah sewaktu cerita budaya disajikan berbalut humor.

Menggenapi kemeriahan acara, ada santapan kuliner tradisional cabuk rambak serta menikmati suara panitia dan peserta menembang. Setiap kegiatan penjelajahan harus digelar sesi diskusi guna menjawab rasa penasaran peserta seraya menguji kualitas komunitas.

Menafsirkan warisan leluhur dengan semangat kekinian juga melalui cara berbeda. Kami berusaha menghindari ngenget jangan wayu alias berkutat pada satu tema atau monoton. Inilah sekian pembeda dengan komunitas lain yang sama-sama menggulati bidang sejarah lokal.

Kajian budaya Jawa kami geluti yang menyediakan peluang besar untuk tidak terjebak pada kegiatan yang repetitif secara subtansi maupun pola. Kenyataan ini menjadi celah kami ngeluluri kabudayan leluhur serta mendekati generasi milenial supaya melek budaya dengan suguhan sekreatif mungkin.

Tak hanya itu, pemerintah kelurahan dan kelompok sadar wisata malah meminta bantuan pendampingan. Hati warga tergerak selepas Solo Societeit membedah sejarah kampung mereka sebagai objek penjelajahan dan bincang santai. Perayaan malam tirakatan 17 Agustus tak melulu mengisahkan kehebatan pahlawan menghalau penjajah. Kami ”ditodong” penduduk setempat mendongeng kisah kelampauan dan potensi budaya yang ada di area itu.

Perbedaan lainnya, dan luput dicatat Rizka, ialah pada hari-hari biasa Solo Societeit sering memberi suluh terhadap khalayak ramai melalui unggahan foto lawas berikut keterangan foto di media sosial. Kami sadar, pemanfaatan teknologi membantu generasi gadget merengkuh kekayaan sejarah dan budaya.

Berbasis sumber primer dan diuji melalui metode yang ketat, dihadirkan analisis foto yang diramu dengan narasi memikat. Setelah diskusi internal anggota lewat tatap muka maupun Whatsapp, disusunlah intepretasi sejarah yang kontekstual, menyegarkan, dan relevan dengan situasi kekinian. Peristiwa historis yang terjadi puluhan tahun hingga berabad silam seolah-olah baru terjadi kemarin sore.

Narasi sejarah dibuat sehidup mungkin dan terasa lekat dengan kehidupan masyarakat kiwari. Buahnya tak jarang sepenggal riwayat dan selembar foto mampu mengaduk hati pembaca dan mengundang rasa penasaran. Menggugah kangen kahanan Solo lawas di satu pihak dan melahirkan pula kenelangsaan dan kegeraman terhadap pemangku kebijakan yang abai atau mengacak-acak objek sejarah di kampung halaman Presiden Joko Widodo ini.

Melalui pesan langsung, banyak pembaca meminta izin dan memberanikan diri memakai keterangan foto untuk keperluan studi. Ada yang meminta kelonggaran anggota untuk diwawancarai lebih mendalam. Artinya, unggahan berfaedah serta daya jangkaunya luas, selain konten kami bisa dipertanggungjawabkan dalam koridor keilmuan. Kami menelaah folklor berikut pesan kearifan lokal melalui kacamata ilmiah. Kami tak membiarkan peserta terperosok dalam nuansa klenik, hoaks, dan takhayul.

Ilmu dan Seni

Spirit yang diusung Solo Societeit adalah memahamkan dan melunasi dahaga publik akan pengetahuan sejarah dan budaya, sekaligus menghibur mereka. Kami mengawinkan unsur ilmu dan seni. Ilmu merupakan sesuatu yang harus dimengerti dan dipahami, sedangkan seni (mendongeng) ialah untuk dinikmati, dirasakan, dan diresapi.

Dengan dongeng yang dibumbui banyolan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap gugusan sejarah dan budaya lokal. Proses transfer pengetahuan berjalan lancar, terasa nikmat, serta nagih.

Cerita lama bersama maknanya “dimamah” tanpa harus mengeryitkan dahi. Pengetahuan itu diam-diam berhasil masuk ke pemaknaan terdalam. Di sini, kami mengikuti spirit abdi dalem oceh-ocehan yang hidup semasa periode kerajaan.

Abdi dalem istana ini memanggul tugas menghibur raja bersama penghuni keraton lainnya dengan meronce kisah masa lalu dan mengunduh kearifannya. Mau tak mau, mereka tak sembarang ngoceh atau waton njeplak, tidak asalkan pendengar terbahak-bahak.

Para abdi dalem tersebut adalah pembaca buku yang kuat, pendongeng mumpuni, pembelajar kahanan yang titis, dan kreatif menciptakan humor berbobot. Kehadiran mereka di lingkup kerajaan senantiasa dinantikan guna mengobati raga yang lelah dan mengusir penat yang menggelayuti benak keluarga aristorat.

Puncak dari intelektualitas ialah mampu melawak berbekal segudang pengetahuan ilmiah. Membawakan materi dengan humor berkelas alias tidak garing. Unsur inilah yang sering kali gagal digapai komunitas, apalagi orang-orang kampus. Mereka kurang jago ndhagel dan hanya datar seperti kuliah di kelas.

Hanya kebosanan dan rasa kantuk yang diunduh penyimak. Kabar sejarah dan budaya akhirnya dijauhi. Kerja intelektual komunitas seharusnya bukan memperdalam dan memperluas tema semata, tetapi juga menyiapkan terobosan dan bahan-bahan pemancing tawa.

Ingat, kita hidup pada era industri hiburan. Kita dituntut tidak cuma berkontribusi mencerdaskan publik dan menangkis hoaks, namun juga lincah menulis (reproduksi pengetahuan) dan menghibur laiknya abdi dalem oceh-ocehan bila tetap mau eksis dan mengatrol kualitas.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten