Kinerja BPR dan BPRS Tetap Cemerlang Meski Pandemi

Industri BPR dan BPRS semakin selektif dalam penyaluran kredit atau pembiayaan di tengah persepsi tingginya risiko kredit, seiring dampak pandemi Covid-19.

Rika Anggraeni - Solopos.com
Selasa, 30 November 2021 - 17:04 WIB

SOLOPOS.COM - Logo BPR (perbarindo.or.id)

Solopos.com, JAKARTA — Industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) menunjukkan kinerja positif meskipun berada dalam tekanan pandemi Covid-19. Kinerja positif ini tecermin dari sisi pertumbuhan aset, dana pihak ketiga (DPK), hingga kredit atau pembiayaan di BPR dan BPRS yang melandai sejak awal pandemi Covid-19.

Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana, baik dari sisi penghimpunan DPK, aset, maupun kredit untuk BPR maupun BPRS masih menunjukkan pertumbuhan positif. Dia menuturkan industri BPR dan BPRS semakin selektif dalam penyaluran kredit atau pembiayaan di tengah persepsi tingginya risiko kredit, seiring dampak pandemi Covid-19.

Per September 2021, ungkap Heru, total aset BPR dan BPRS tumbuh 8,90 persen yoy atau Rp178,393 miliar. Lalu, penyaluran kredit tumbuh 4,33 persen yoy atau Rp126,141. Kemudian, DPK tumbuh sebesar 11,27 persen atau 123,764 miliar.

Baca juga: 7 Cara Jitu Bertransaksi Digital Biar Gak Kena Serangan Siber

“Ini menandakan walaupun didera oleh pandemi Covid yang kita juga belum mengetahui kapan ini akan berakhir, industri BPR maupun BPR Syariah kita masih menunjukkan perkembangan yang sangat bagus dan ini perlu kita apresiasi,” kata Heru dalam Launching Roadmap Pengembangan Industri BPR dan BPRS 2021-2025, Selasa (30/11/2021). Hal itu berarti industri BPR dan BPRS tetap resilience di dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Dia menambahkan berbagai aspek BPR maupun BPRS juga dilaporkan masih bagus. Misalnya, pada BPR, terlihat CAR yang tumbuh 32,01 persen per September 2021, dari sebelumnya 29,89 persen. Begitupun dengan loan to deposit ratio (LDR) tumbuh 74,90 persen per September 2021, dari sebelumnya 75,44 persen. Adapun dari BPRS, indikator CAR turun 23,86 persen per September 2021, yang sebelumnya 28,60 persen per Desember 2021.

Rasio Pembiayaan Macet

Lalu, financing to deposit ratio (FDR) turun 105,20 persen per September 2021 dari sebelumnya 108,78 persen per Desember 2020. Berikutnya pada risiko kredit, BPR mencatat rasio kredit macet (non-performing loan/NPL) secara gross dan net masing-masing 7,53 persen dan 5,02 persen per September 2021.

Sedangkan pada BPRS, rasio pembiayaan macet (non-performing financing/NPF) secara gross dan net masing-masing tercatat sebesar 7,94 persen dan 6,56 persen per September 2021. Industri BPR juga tercatat dari rasio profitabilitas dengan ROA dan BOPO masing-masing tercatat 1,76 persen dan 84,35 persen per September 2021. Sementara pada BPRS masing-masing tercatat sebesar 1,84 persen dan 81,81 persen per September 2021.

Baca juga: Beban Multipel Generasi Sandwich Atur Keuangan di Masa Pandemi

Pada hari ini, OJK resmi meluncurkan Roadmap Pengembangan Industri BPR dan BPRS 2021-2025, guna mendorong pengembangan industri BPR dan BPRS ke depan. Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I OJK Teguh Supangkat mengungkapkan pandemi Covid-19 telah mengakselerasi pemanfaatan teknologi informasi dan mengubah pola perilaku masyarakat pada hampir semua aktivitas masyarakat, termasuk dalam kegiatan perekonomian.

Kondisi tersebut telah mendisrupsi berbagai kegiatan masyarakat, termasuk industri perbankan. Teguh melanjutkan, disrupsi tersebut menimbulkan berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh industri perbankan, termasuk BPR dan BPRS baik yang bersumber dari kondisi eksternal maupun jangka pendek.

“BPR dan BPRS merupakan LJK yang memiliki keunikan tersebut dalam menjalankan aktivitas usahanya, di antara keunikan tersebut adalah adanya kedekatan BPR dan BPRS dengan nasabahnya, baik kedekatan jarak maupun emosional,” kata Teguh.

Baca juga: Rp262,95 Triliun KUR Tersalurkan ke 6.962.882 UMKM

Teguh melanjutkan, kedekatan jarak tersebut dikarenakan adanya aktivitas BPR dan BPRS yang sehari-hari dilakukan secara tatap muka dengan para nasabah yang berada di sekitar jaringan kantor. Sedangkan, kedekatan emosional dalam melayani nasabah antara lain segmen usaha mikro.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif