Kilauan Permata di Hari Lebaran

Tak ada pelukan yang menghangatkan sebagai tanda perpisahan. Bahkan lambaian tangan. Pun sekadar basa-basi selamat tinggal. Baskara hatinya telah membeku, langkahnya kaku, membawa sosoknya terbang jauh. Setelah pertikaian tak berkesudahan. Berulang kali Sekar menyuarakan perasaannya, impian-impian di masa depan dalam mengarungi hidup berumah tangga bersama Baskara. Sekar rela mengabdi, hidup mati demi mempertahankan keutuhan bebrayan. Namun, jika pada ujung prahara ia harus bertahan, Sekar lebih memilih Panji daripada Baskara!

“Mengapa kau lebih memilih dia daripada aku?” pertanyaan Baskara terasa menohok ulu hati. Seharusnya pertanyaan pilu ini tak perlu dilontarkan. Rong-rongan dan pemikiran picik Baskara memantik Sekar melabuhkan hati kepada Panji. Seandainya Panji belum hadir di antara mereka, takkan ragu Sekar memilih Baskara. Oh, kehadiran Panji mengapa tiada merekatkan jalinan garwa: sigaraning nyawa? Mengapa kehadiran Panji seolah dianggap Baskara bagai wabah, sumber masalah?

“Mau ditaruh di mana wajahku, kalau orang-orang tahu aku memiliki anak cacat!”

“Panji tidak cacat, Mas. Panji hanya berbeda dengan anak lain.”

“Apa namanya kalau sudah 5 tahun dipanggil namanya tidak menoleh. Namanya sendiri  saja tidak tahu, apalagi memanggil nama orang. Perilakunya aneh....”

“Panji telat berbicara. Panji bisa berbicara, hanya dia mengalami kelainan...”

“Kelainan itu artinya cacat! Tidak normal dan merepotkan!”

“Aku tak pernah merasa direpotkan Panji, Mas. Apa pun keadaan Panji, kita harus bisa menerimanya, menyayanginya.”

“Sayangnya aku tidak bisa. Aku tak kuat lagi mendengar cemoohan orang. Aku tak sanggup lagi melihat kenyataan mengerikan ini. Aku harus pergi..!”

“Kau tak lagi menyayangi kami, Mas.”

“Entah.”

“Mas malu memiliki anak seperti Panji?”

“Aku harus pergi. Aku harus pergi. Aku harus pergi...!”

***

Malam buta ketika Sekar tertidur mengeloni Panji, Baskara mengangkat kopornya. Sekar mencari keberadaan Baskara ke rumah mertua. Mereka menutup pintu dan jendela informasi. Sedari dulu mertuanya tak merestui pernikahannya. Sekar bukan menantu pilihan mereka. Apalagi kehadiran Panji membuat Sekar kembali yang dipersalahkan. Masih terngiang di telinga suara mertua perempuan yang mengutuknya, demi melihat keberadaan Panji. “Semua ini gara-gara kamu Sekar yang ketika hamil makan daun singkong bolong bekas dimakan celeng. Iler celeng merasuk dalam jabang bayimu, hingga lahir cacat!”

“Ini tak ada hubungannya dengan saat aku ngidam daun ketela bolong dan iler celeng, Bu. Menurut dokter, Panji mengalami kelainan perkembangan sitem saraf yang disebut Autis Spectrum Disorder....”

“Lebih percaya dokter daripada mertua. Sukanya ngeyel. Ya, sudah, sana rawat anakmu sing idiot sampai tuwek!”

Bahkan sang mertua menyuruhnya melupakan Baskara. “Baskara, anakku itu wetone Minggu Paing, wonge gampang nesu, angel-angel gampang, nanging atine apik. Kau dan anakmu sudah menyakiti hatinya. Kau lupakan saja suamimu. Aku malah berharap di perantauan Baskara menemukan istri baru dan punya keturunan normal...”

Sekar memilih pamit pulang, sepanjang jalan menggendong Panji yang mengoceh tiada henti. Sekar menangis antara sedih dan bahagia. Sedih tersebab ditinggal minggat bojo dan dipleroki mertua. Bahagia karena memiliki anak seperti Panji yang bisa menjadi pelipur lara. Sekar berjanji akan membesarkan Panji meskipun tanpa keberadaan suami di sisi.

Sebulan setelah kepergian Baskara, Sekar pun memilih meninggalkan kota kelahiran. Membuka kios jahitan. Tahun-tahun  pun berlari seperti laju lori kereta api!

***

Panji mengepakkan tangannya membentuk sayap. Ia bagai pesawat, berlari-lari kecil mengelilingi ruangan, berulang-ulang. Sekar yang tengah menyuapi makan Panji mau tak mau mengikuti langkah Panji. Sambil Panji bermain, tak putus asa Sekar merayu agar Panji mau makan.“Hap, nasinya dimakan, ayam goreng lezat.”

“Ayam goreng lezat.”

“Iya, ayam goreng lezat.”

“Bunda masak ayam goreng.”

“Bunda masak ayam goreng?”

“Ya.”

“Ayam goreng lezat.”

“Ayam goreng lezat. Panji suka?”

Panji, anak berumur empat belas tahun, berkulit putih pucat, tampan, matanya juling, beralis jarang dan ngileran, mengacungkan jempolnya: tanda hebat!

Sekar tersenyum, membalas acungan jempol dan kemudian kembali mengoceh, mengajak Panji berbicara. Panji memandang lama-lama. Tanpa kedip, dari bibir tipisnya menggetar suara. “Panji sayang Bunda.”

Tak kuasa lagi Sekar memeluk sang permata hati, dibisikkannya kata-kata sayang. “Bunda juga sayang Panji. Bunda sayang Panji.” Tetes air mata haru mengalir di sanubari, bukan di pipi. Sekar ingin terlihat kuat, meskipun pada kenyataan beberapa kali limbung menghadapi kenyataan sulit, ketika Panji sakit, tak bisa mengikuti terapi, atau saat Sekar tak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pekerjaan sebagai penjahit rumahan terkadang sepi order. Untung ada orang tua dan tetangga ringan tangan membantu Sekar.

***

Suara takmir masjid menyerukan agar orang sahur, membangunkan Sekar dari tidur. Sepertinya baru sekejap ia memejamkan netra. Ya, bulan Ramadan banyak orang-orang menjahitkan pakaian.  Sekar sampai kewalahan menerima orderan. Rezeki tidak ditolak, Sekar menggarapnya, mengajak teman kerja lembur. Tentu di sela-sela waktu kerja Sekar mengawasi Panji. Sekar bersyukur semakin besar Panji semakin paham mengurusi dirinya, meski Sekar harus mengajarinya berulang-ulang. Mulai dari cara makan, minum, mandi, bahkan cebok. Syukurlah, sekarang di usia enam belas tahun Panji sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Panji juga sudah lulus SLB. Kesukaan Panji pada menggambar, menjadikan Sekar lebih bergairah mengarahkan. Terbersit keinginan, semoga kelak Panji bisa menjadikan menggambar sebagai profesi, penopang hidup. Setelah Sekar tiada. Oh, aku tak ingin mati sebelum Panji bisa mandiri dan menghidupi diri sendiri. Sekar bangkit dari ranjang, menengok Panji yang tertidur pulas di kamarnya. Sekar menunaikan Salat Tahajud, sebelum ke dapur menyiapkan hidangan sahur.

***

Suara beduk ditabuh dan ajakan Salat Id mengumandang. Sekar dan Panji mengerjakan Salat Id di masjid seberang rumah. Selepas Salat Panji merengek pulang, merajuk lapar. Di rumah Sekar sudah terhidang seikat ketupat lepat, sepanci opor ayam kampung, sambel goreng ati, sambel goreng kentang-krecek-tahu,  sayur gudeg, dan kerupuk tengiri. Setelah makan opor, mereka berencana merayakan Lebaran ke rumah nenek. Orang tua Sekar tinggal satu kota, hanya beda kecamatan. Naik motor tak lebih setengah jam. Sekar beruntung memiliki orang tua yang bisa menerima, menyayangi Panji, apa pun keadaannya.

Panji terlihat gembira menghabiskan ketupat opor. Sekar membersihkan sisa kuah berlepotan di dagu. Panji berusaha membersihkan dengan tisu. Teruna muda terlihat malu, melulu merepotkan sang bunda. Padahal seorang bunda akan tetap menganggap permata hati seorang bocah kecil yang harus diawasi, diurusi. Ketukan pintu membuyarkan lamunan. Sekar menjatuhkan tisu kotor ke tempat sampah. Panji menatap bundanya. Sekar tersenyum, mengangguk.

“Bukalah pintu. Mungkin tetangga baru depan rumah mau halalbihalal.”

Panji terbang, membuka pintu depan. Tapi tak lama ia kembali dan menyeret Sekar agar ke ruang tamu. Sekar menurut. Sejenak merapikan jilbab, melangkah, menyilakan tamu duduk. Mereka berhadapan. Aroma khas menguar. Sekar tergugu. Sosok Baskara berdiri di ambang pintu. Membuka kenangan masa lalu.

“Mas....”

“Aku datang. Aku sengaja datang karena ingat kamu.”

“Mengapa baru sekarang? Kau hanya ingat aku? Kau tak ingat Panji anakmu? Kau sungguh keterlaluan, Mas.”

“Semuanya sudah terjadi. Jika aku bersalah, maafkan. Aku...aku ke sini juga karena ingat dan kangen kepada anakku. Apakah dia,-Panji-yang membukakan pintu tadi?”

“Ya, dia Panji, anakmu, Mas. Aku membesarkannya dibantu orang tuaku dan tetanggaku yang baik hati. Kau sama sekali lupa, jangankan uang, kabar kau pun tiada. Sebenarnya kau ke mana? Apa yang kau lakukan? Panji, kau ke sini, Sayang. Ini ayahmu.”

“Ayah...aku Panji.”

Panji menyalami Baskara, canggung. Ketika Baskara hendak memeluknya, Panji menghindar. “Kau meninggalkan Panji ketika ia masih umur lima tahun, mana ingat dia pada dirimu, Mas.”

Panji memilih duduk di dekat bundanya. Baskara bercerita di perantauan ia sudah menikah lagi. Cres, seperti pisau mengiris jantung Sekar. Dalam lubuk hati ia pernah berpikir Baskara mungkin memiliki bojo anyar? Sungguh, kenyataan lebih menyakitkan daripada angan. Sekar tajam memandangi Baskara. Baskara menghela napas dan bangkit menuju pintu. Arah pandangan mata Sekar mengikuti. Sekar baru ngeh kalau di balik pintu ada sosok perempuan muda berparas ayu, menggandeng seorang anak lelaki berumur sekitar tujuh tahun.

“Ini istriku, si Wulan  pelayan warung tempat aku kerja di proyek. Ini Bimo, anakku. Karena Bimo aku tiba-tiba teringat dirimu. Berulang kali Wulan mengajakku untuk menemuimu dan Panji-untuk meminta maaf atas dosa-dosaku menerlantarkan kalian. Aku baru berani pulang sekarang. Pada Lebaran ini aku minta maaf. Manusia hina seperti diriku hanya tempat salah dan dosa. Sekarang aku paham, Tuhan ternyata menyayangiku, memberiku permata-permata hati yang tak berkilau. Namun, kehadiran mereka, Panji dan Bimo sangat berharga. Terlebih bagi orang tuanya. Sekali lagi maafkan aku. Maafkan ayahmu ini, Panji. Bimo salim dengan Masmu. “

Wulan menuntun Bimo. Tak sepatah kata keluar dari mulut bocah setampan Baskara,-tapi  tuna wicara dan pengidap downsindrome. Sekar tiba-tiba teringat mantan mertua yang berkisah tentang daun singkong bolong dan iler celeng. Panji menerima uluran tangan Bimo. Sekar membiarkan Wulan memeluknya dan meminta maaf. Semuanya telah berlalu, saatnya memaafkan, masa silam biar tenggelam. Kelak, Baskara akan menjadi mantan suami. Sekar akan tetap menjalin silaturahmi, menganggapnya sedulur. Namun, kehadiran anak, sampai kapan pun statusnya tetap anak. Aku harus bisa menerima kenyataan ini dengan ikhlas hati dan legawa, Sekar menasbihkan hati. Sayup-sayup dari masjid suara takbir masih syahdu mengalun. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Laaillahailla-huwallahuakbar. Allahu akbar walillahil hamd.....

***

Kartika Catur Pelita

Penggiat komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ). Bermukim di Jepara.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom