Kilas Balik Insiden Mencekam Pelita Solo Vs PSIS Semarang pada 11 Juni 2000
Sekitar 50.000 penonton memadati Stadion Manahan saat Pelita Solo menjamu PSIS Semarang dalam laga Divisi Utama Liga Indonesia, 11 Juni 2000. Laga itu berujung kericuhan di dalam dan di luar lapangan. (Istimewa dokumen Solopos/Fadjar Roosdianto)

Solopos.com, SOLO - Insiden mencekam terjadi saat duel Pelita Solo melawan PSIS Semarang di Stadion Manahan Solo, 11 Juni 2000 silam. Kerusuhan suporter terjadi dalam pertandingan di ajang Divisi Utama Liga Indonesia tersebut

“Bayangkan, bola di depan gawang untuk striker tim sekelas Pelita, kan mestinya masuk. Tapi justru tendangannya melangit.” Demikian petikan kolom opini yang ditulis Pemimpin Redaksi Solopos, Y.A. Sunyoto dalam Koran Solopos edisi Senin, 12 Juni 2000, sehari setelah laga Pelita Solo vs PSIS Semarang.

Tulisan Sunyoto seperti mewakili kegeraman puluhan ribu pendukung Pelita yang marah dengan penampilan klub kesayangannya. Jalannya laga di ujung kompetisi itu memang dinilai sarat skenario. Alih-alih tampil eksplosif seperti biasanya, Bako Sadissou dkk. banyak membuang-buang peluang kala meladeni Mahesa Jenar.

Penyanyi Asli Solo Nuca Idol Konsisten Nulis Lagu

PSIS saat itu memang dalam posisi hidup mati. Mereka butuh tambahan minimal satu poin agar tak terlempar di ke Divisi I, sedangkan poin Pelita sudah aman untuk melaju ke babak delapan besar. “Akibatnya penonton di VIP dan tribune lain berteriak, ‘Lho ini pertandingan palsu, padahal duit untuk mendukung Pelita Solo bukan palsu’,” lanjut Sunyoto dalam kolom opininya.

Mayor Haristanto terkenang saat membaca sejumlah opini dan berita tentang jalannya laga antara tetangga sedaerah itu. Mayor yang saat itu menjabat Presiden Pasoepati memang ikut dibuat kelimpungan menyusul kericuhan besar yang mengiringi laga tersebut.

Kala itu laga terpaksa dihentikan di menit ke-69 dengan kondisi 0-0 lantaran eskalasi keributan di Stadion Manahan terus meningkat. Insiden ini dipicu ketidakpuasan suporter dengan kualitas pertandingan. Anggota Brimob pun terpaksa melepaskan tembakan peringatan.

“Di tribune barat banyak kursi yang dicopoti pendukung PSIS setelah adu lempar dengan pendukung Pelita dari tribune belakang gawang sisi utara. Banyak kursi yang melayang mengenai penonton. Kalau ingat itu rasanya ngeri,” kenang Mayor saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (11/6/2020).

Tak Layak Digelar

Laga Pelita Vs PSIS sejatinya tak layak digelar karena ada 50.000 orang yang memenuhi Stadion Manahan. Padahal kapasitas maksimal stadion hanya 20.000 orang. Banyak orang yang menonton dari sentelban alias berbatasan langsung dengan lapangan hijau.

Ketika bentrok di dalam stadion mulai padam, massa malah melakukan aksi perusakan di luar stadion. Setidaknya dua mobil dan lima motor dibakar. Bus-bus berplat nomor luar kota yang terparkir di dekat Taman Balekambang pun tak luput dari aksi beringas.

“Jelang tengah malam saya ditelepon Pak Slamet [Slamet Suryanto, mantan Wali Kota Solo]. Almarhum meminta saya mengondisikan Pasoepati yang marah dan mengejar pendukung PSIS di sekitar Stadion Manahan,” kata Mayor.

Situasi mencekam berlanjut hingga dini hari. Banyak pendukung Mahesa Jenar yang baru bisa kembali ke Semarang menjelang azan Subuh. Rentetan kejadian menyesakkan ini tampaknya menampar penggawa Pelita.

Update Covid-19 Dunia: Pasien Sembuh Tembus 3,8 Juta

Dalam laga lanjutan yang digelar di Lapangan Markas Brigif Palur, Mojolaban, Sukoharjo, 13 Juni, Pelita tampil all out dan mengunci kemenangan 1-0 lewat gol Bako Sadissou. Pelita seolah ingin membuktikan tak “main sabun” di laga krusial itu.

“Sejarah kelam 20 tahun lalu mestinya dapat menjadi pelajaran suporter di manapun agar mengedepankan persahabatan.” Duel Pelita Vs PSIS juga sekali lagi menunjukkan bahwa sportivitas dalam olahraga adalah yang utama, berapa pun harganya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho