KI POERWAHADININGRAT Bawakan Lakon Trisakti Bung Karno
Dalang Ki Poerwahadiningrat tampil dalam pertunjukan wayang kulit, di Sanggar Seni Pasopati di Dusun Bendungan, Desa Bangsri, Kecamatan Karangpandan, Minggu (14/4). Dia membawakan tema Trisakti Bung Karno. (istimewa)
Dalang Ki Poerwahadiningrat tampil dalam pertunjukan wayang kulit, di Sanggar Seni Pasopati di Dusun Bendungan, Desa Bangsri, Kecamatan Karangpandan, Minggu (14/4). Dia mengambil tema Trisakti Bung Karno.

Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof Andrik Purwasito DEA, mencoba mengemas pendidikan politik warga dalam bentuk pertunjukan wayang kulit, di Sanggar Seni Pasopati di Dusun Bendungan, Desa Bangsri, Kecamatan Karangpandan, Minggu (14/4). Lelaki yang dikenal dengan nama Ki Poerwahadiningrat itu mengambil tema Trisakti Bung Karno.

Menurut Ki Poerwahadiningrat pendidikan politik sangat penting dalam mendewasakan pengetahuan politik para politikus maupun yang akan bertarung untuk menarik simpati rakyat pada pemilu legislatif dan pemilu Presiden 2014.

“Pendidikan politik untuk warga itu penting. Masyarakat membutuhkan pendidikan politik salah satunya untuk memilih pemimpin mereka pada tahun 2014 nanti,” ujar Ki Poerwahadiningrat saat dihubungi Solopos.com, Senin (15/4).

Pengajar Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) itu memilih tema Trisakti Bung Karno karena dia melihat para politikus agaknya kembali kepada jalur pemikir Pendiri Bangsa, yang belum sempat diterapkan sebagai kebijakan politik. Trisakti dikemas menjadi hiburan sekaligus menjelaskan secara benar, bahwa konsep Trisaksi, yaitu berdaulat dalam politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam bidang budaya, perlu diterapkan secara aktual dan kontekstual.

Ki Poerwahadiningrat mengemukakan konsep Trisakti menjadi semakin populer, apalagi sekarang ini juga tengah dijadikan tema kampanye dalam Pemilihan Gubernur Jateng. Terjadinya dialog interaktif dengan masyarakat dalam pagelaran tersebut, antara lain kehendak rakyat agar dapat hidup lebih layak sangat diharapkan, dengan konsep apapun. “Kalau memang Trisakti benar-benar sakti untuk mengentaskan kemiskinan, rakyat akan menyambut dengan suka cita,” imbuh Ki Poerwahadiningrat.

Dia merasa ikut peduli dengan karut marut kehidupan politik Tanah Air, yang salah satunya disebabkan oleh rendahnya pendidikan politik bagi warga. Pendidikan politik, tambahnya, merupakan tanggung jawab bersama, meskipun secara tegas partai politiklah yang memikul misi tersebut.

Ki Poerwahadiningrat menilai wayang sebagai media pendidikan politik sangat efektif karena memberikan informasi dan ajaran dengan cara bersenda gurau, guyong parikena, sekaligus menghibur dengan goro-goro dan perang yang sangat dahsyat. Dia tidak saja mengembangkan sanggit (olah cerita) wayang kulit, tetapi juga sanggit sabet dan sanggit tembang. Ia masih tetap mengikuti pakem pakeliran karena dia menganggap hal itu sudah menggambarkan keadaan dan realitas kehidupan manusia.

Dia menyatakan pendidikan politik akan terus dilakukan dengan berbagai tema dan ia tidak segan-segan keluar masuk kampung untuk menyebarkan gagasan tentang berpolitik yang santun dan penuh penghormatan. “Sekarang dibutuhkan pemilih yang cerdas dan punya harapan masa depan yang pasti. Masyarakat membutuhkan informasi dan penerangan sebagaimana dulu Bung Karno menyebarkan gagasan revolusi Indonesia melalui radio,” imbuhnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom