Warga beraktivitas di tepi anak Sungai Serang Dukuh Kedungaron, Desa Lemahireng, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, beberapa waktu lalu. Anak Sungai Serang terus mengikis talut sehingga rawan terjadi longsor. (Istimewa)

Solopos.com, BOYOLALI—Jarak bibir anak-11-rumah-hilang-longsor-di-wonosegoro-boyolali-juga-gerus-jalan-7-meter" title="Selain 11 Rumah Hilang, Longsor di Wonosegoro Boyolali Juga Gerus Jalan 7 Meter"> Sungai Serang semakin mendekati rumah warga di Dusun Kedungaron RT 004/RW 004, Desa Lemahireng, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali.

Hujan deras hampir setiap hari mengakibatkan pengikisan tanah pada talut sungai terus terjadi. Setelah sebelas rumah hanyut akibat longsor talut anak Sungai Serang pada Kamis (4/4/2019), kini satu keluarga memilih pindah dari Dusun Kedungaron, lantaran berpotensi terdampak longsor talut anak Sungai Serang.

Kepala keluarga diketahui bernama Baiman, 60, yang pergi meninggalkan rumah bersama seorang istri sejak Selasa (9/4/2019) siang.Rumah Baiman merupakan rumah dengan jarak paling dekat dengan bibir sungai, yakni hanya berjarak satu meter. Hujan deras yang turun hampir setiap hari mengakibatkan pengikisan tanah pada talut sungai terus terjadi.

Akibatnya, jarak rumah warga dengan bibir sungai menjadi kian dekat. Apalagi, lokasi rumah Baiman masuk dalam kawasan-tanggapi-rumah-warga-wonosegoro-boyolali-hanyut" title="BBWS Tanggapi Rumah Warga Wonosegoro Boyolali Hanyut"> daerah aliran sungai (DAS) anak Sungai Serang yang rawan longsor.

Koordinator Assesment Taruna Siaga Bencana (Tagana) Boyolali, Moh. Irawan, mengatakan keluarga Baiman pindah setelah diminta oleh kerabat dekat yang tinggal di dusun lain di Desa Lemahireng.

Kerabat tersebut khawatir apabila sewaktu-waktu terjadi longsor susulan. “Apalagi hujan lebat disertai angin masih sering terjadi, terakhir Selasa sore setelah keluarga itu pindah,” ujar Irawan.

Dengan kepindahan keluarga Baiman, kini masih tersisa tujuh KK lain yang juga tinggal di DAS anak Sungai Serang di Dusun Kedungaron. Rumah terdekat kira-kira hanya berjarak sekitar lima meter dari bibir sungai.

Kepindahan Baiman telah direncanakan sejak dua hari sebelumnya atau Minggu (7/4/2019). Sebelum benar-benar meninggalkan rumah, puluhan tetangga membantu Baiman membawa barang-barang ke rumah kerabat.

Barang-barang tersebut di antaranya lemari, televisi, perlengkapan dapur, dan beberapa pakaian.

Baiman harus segera pindah karena sehari setelah bencana longsor Kamis pekan lalu, tanah di dalam rumah Baiman juga mulai mengalami retak. Kondisi serupa terjadi di permukaan jalan dusun yang dekat dengan bibir sungai.

Keretakan tanah awalnya diketahui di bagian teras rumah yang hanya dilapisi semen. Permukaan semen yang pecah hampir di semua sisi menjadi tanda retakan tanah pada rumah Baiman. Kondisi serupa juga ditemui di ruang tamu, ruang tengah, dan dapur.

Rumah Baiman merupakan rumah semi permanen berukuran sekitar 9 meter x 5 meter. Sebagian besar dindingnya masih berbahan kayu dengan pasak yang sudah lapuk.

Potensi Longsor

Begitu juga genting yang dipenuhi lumut. Di bagian dalam rumah tersebut, lantai berupa semen dan tanah.

BBWS Pemali-Juana Kota Semarang yang memiliki kewenangan mengurus DAS Sungai Serang telah mengetahui potensi longsor yang menimpa wilayah Desa Lemahireng atau DAS sisi timur.

Staf Teknik OPSDA I Unit Hidrologi dan Kualitas Air -tanggapi-rumah-warga-wonosegoro-boyolali-hanyut" title="BBWS Tanggapi Rumah Warga Wonosegoro Boyolali Hanyut">BBWS Pemali-Juana, Baskoro Dwi Cahyo, mengatakan segera melakukan survei lapangan agar dapat menentukan langkah selanjutnya.

“Karena sekarang yang paling penting adalah mengetahui morfologi sungai terlebih dahulu,” kata dia.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten