Kategori: Tips

Khawatir Ikut Program Bayi Tabung


Solopos.com/Damar Sri Prakoso

Kami menikah lima tahun lalu. Suami saya memiiki masalah dengan organ reproduksinya, sehingga secara medis saya tidak mungkin hamil, kecuali melalui program bayi tabung. Sekali kami pernah mengikuti program tersebut tetapi gagal.

Saat ini saya diminta suami dan keluarga mertua untuk mengikuti program bayi tabung lagi. Namun saya merasa sangat khawatir untuk melakukannya, karena takut gagal lagi. Saya merasa ibu mertua dan saudara ipar selalu menyalahkan saya dengan kegagalan itu. Apa yang harus saya lakukan? Kepala saya terasa sangat berat bila memikirkannya. Terima kasih.

Nisa – Jawa Timur

 

Ibu Nisa yang baik. Memiliki anak memang menjadi salah satu tujuan dari suatu pernikahan, apalagi Anda dan suami sudah menikah selama kima tahun. Sehingga wajar kalau ibu mertua dan saudara ipar sangat menginginkan lahirnya anak dari pernikahan Anda dan suami kendati melalui program bayi tabung.

Itu sudah pernah Anda lakukan, namun mengalami kegagalan saat mengikuti program tersebut, dan merasa keluarga suami hanya menyalahkan Anda atas kegagalan yang terjadi. Hal ini membuat Anda sangat khawatir untuk mengulangi program bayi tabung tersebut. Karena Anda takut gagal lagi dalam program bayi tabun tersebut dan menanggung sendiri kegagalan tersebut sebagai “yang bersalah”.

Untuk mengatasi kondisi Anda, sepertinya keterbukaan dalam berkomunikasi dengan suami dan keluarganya, perlu ditingkatkan. Sampaikan apa yang Anda rasakan selama ini kepada suami dan keluarganya, dan jadikan suami sebagai penghubung antara Anda dengan keluarga suami. Terutama terkait program bayi tabung.

Cobalah belajar untuk memaknai suatu kejadian dari sudut pandang yang berbeda. Hal ini untuk memastikan apakah pemikiran Anda sesuai dengan realitanya atau justru sebaliknya. Biasakan untuk menonjolkan husnudzon (positive thinking).

Hal ini penting, untuk mengurangi kegalauan yang Anda rasakan terkait kekhawatiran mengikuti program bayi tabung untuk kali kedua. Dengan demikian Anda bisa lebih fokus dalam mencari solusi terbaik untuk mengatasi masalah yang ada terutama dengan keluarga suami. Selamat mencoba.

 

Juliani Prasetyaningrum, Psikolog

Share
Dipublikasikan oleh
Damar Sri Prakoso