Damar Tri Afrianto/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (16/7/2019). Esai ini karya Damar Tri Afrianto, alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah damar.tri.a@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Tema peringatan dies natalis, Inovasi Seni Menuju Indonesia Maju dan Berbudaya, mengantarkan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo menapaki tahun ke-55 pada 15 Juli kemarin. Sebagai sebuah perguruan tinggi, umur 55 tahun adalah umur yang sangat matang dalam perjalanan menggerakkan sendi-sendi pengetahuan, khususnya ilmu seni dan budaya.

Pada umur tersebut kita berharap ISI Solo menemukan kewaskitaan atas pengalaman dan dedikasi mengemban pelestarian nilai-nilai seni dan budaya tradisi melaui ekspresi artistik dan keilmuan. Kepesatan pembangunan infrastruktur fisik ternyata berbanding terbalik dengan  tatanan sosial, nilai-nilai, dan kebudayaan di masyarakat.

ISI Solo sebagai lembaga pendidikan  seni dan dan budaya memiliki peran yang strategis dalam upaya memperbaiki tatanan sosial dan pembangunan manusia melalui jalur seni yang berbasis indigenous knowledge dan indigenous aesthetics. Tidak berlebihan jika sebagai lembaga pendidikan tinggi ISI Solo menjadi pandu dalam membantu pemerintah membentuk infrastruktur manusia melalui pengembangan-pengembangan seni dan budaya berbasis lokalitas.

ISI Solo dengan segala perangkatnya harus mengadapi kenyataan global  yang didominasi oleh industri budaya dengan motif komoditas. Seni tradisi sebagai pijakan lembaga ini dituntut menjadi wahana merumuskan gagasan-gagasan di tengah komersialisasi seni tradisi dengan motif ekonomi kapitalistis. Jika sindrom komersialisasi menjangkit perkembangan seni-seni tradisi tersebut, daya pengetahuan lokal berubah menjadi mesin-mesin industri budaya populer.

Jean F. Lyotard menjelaskan komersialisasi pengetahuan di dalam masyarakat post-industry. ”Pengetahuan” yang dikemas dalam kemasan komoditas menjadi sarana perebutan kekuasaan dan keuntungan kapitalis. Inilah yang terjadi saat ini.

Komoditas Ekonomi dan Politik Kapitalistis

Kebudayaan beserta nilai-nilainya, seni, dan pengetahuan menjadi komoditas ekonomi dan politik kapitalistis. Yasraf Amir Piliang  menyebut kondisi ini sebagai industri budaya, yaitu seni dan nilai-nilai budaya tradisi tercerabut dari nilai-nilai spiritualnya dan masuk menjadi bagian dunia profan industri hiburan yang dangkal dan banal.

Ini masih ditambah dengan kenyataan wajah pendidikan Indonesia saat ini, termasuk pendidikan seni, yang menunjukkan arah dan tujuan pengembangan pengetahuan hanya untuk kepentingan pasar. Inilah mengapa kita kerap menjumpai kurikulum pendidikan yang pada hakikatnya seragam. Itulah  kenyataan gelombang besar mesin-mesin industri budaya populer.

ISI Solo yang kini menapaki 55 tahun perjalanan diharapkan tidak larut dalam globalisasi yang di dalamya beroperasi kekuatan besar ekonomi kapitalis yang menciptakan homogenisasi dan standardisasi. ISI Solo perlu mencari posisi strategis yang mandiri di dalam konstelasi pergaulan global yang berubah sangat cepat.

Kepakaran tentang wawasan dan keterampilan seni tradisi di kalangan civitas academica ISI Solo dan guru-guru besarnya tentu tidak perlu diragukan lagi. Masyarakat menunggu gagasan-gagasan yang aplikatif yang mampu melawan gelombang besar yang disebut kapitalistis tersebut. Kalau semua arah perkembangan manusia hanya menuju ke zona kapitalis, pembangunan manusia yang humanis hanya menjadi utopia.

Gagasan-gagasan dan karya seni yang lahir dari kampus ini harus menjadi tandingan dan mendekontruksi estetika komoditas yang semakin akut mendera kehidupan kita. Estetika komoditas adalah karya seni yang hanya berlandaskan daya tarik, keterpesonaan, dan memprovokasi perhatian massa konsumen dengan mengangkat berbagai bentuk daya pesona (fetisisme) dan untuk memenuhi hasrat rendah (desire) manusia.

Di antara elemen-elemen estetik yang paling ditonjolkan adalah unsur seksualitas, erotisme, dan kekerasan yang digunakan semata-mata menciptakan daya tarik untuk memancing keterpesonaan massa. Ketika produksi-produksi seni yang berlandasakan pengembangkan nilai tradisi dasar kreativitasnya hanya berpijak pada esteetika komoditas, bukan pada estetika lokal, tentu harus dikhawatirkan.

Oligarki

Hal lain yang menjadi perhatian serius di dunia pendidikan adalah zona oligarki. Kampus dan dunia pendidikan berubah menjadi sangat eksklusif dan semakin menjauh dari masyarakat. Kegiatan pengembangan keilmuan hanya dinikmati oleh beberapa pihak, terutama dalam hal ini ilmu seni dan pergelaran seni. Dalam konteks ini masih sering dijumpai aktivitas yang bersifat oligarki.

Tentu ini menjadi ironis. Seni yang tumbuh dan mengakar di masyarakat setelah masuk ke dunia kampus manjadi sangat asing bagi masyarakat. Tentu hal yang seperti ini kita harapkan tidak terjadi di lingkungan ISI Solo. Praktik oligarki di dunia pendidikan salah satunya bisa dilihat dari persoalan adminstrasi yang hanya mengejar keuntungan personal, bukan keuntungan komunal.

Penyelenggaraan seminar, workshop, diseminasi, pertunjukan, dan pameran seni yang seharusnya berdampak, dapat dipublikasikan luas, dan dinikmati segala kalangan berubah menjadi persoalan administrasi dan kepentingan politis akademis seperti syarat mengejar pangkat atau golongan atau hanya menjalankan progam kerja.

Buku-buku, penelitian-penelitian, serta jurnal membeku di rak-rak perpustakan, tak terjamah oleh kalangan luas. Praktik-praktik oligarki tersebut harus dicegah di ISI Solo sehingga figur intelektual seni tidak terjebak menjadi figur administrasi yang kurang berbicara dalam kapasitas sebagai figur intelektual publik,

Kota Solo dengan segala kekayaan seni dan budaya membutuhkan pemikiran, gagasan, serta inspirasi-inspirasi kreatif dari figur-figur intelektual seni dan seniman yang lahir dan berkembang di ISI Solo. Perubahan demi perubahan ke arah yang lebih baik adalah muruah lembaga keilmuan. Gema ISI Solo seharusnya ibarat dentang lonceng di puncak bukit yang terus memanggil-manggil di sudut hati kreativitas manusia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten