Ilustrasi logo Whatsapp. (Freepik)

Solopos.com, KARANGANYAR — Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Karanganyar, Achmad Hudaya, menegaskan tokoh agama adalah agen perubahan dan memiliki peran utama menjaga perdamaian dan kedamaian di Kabupaten Karanganyar.

Hal itu ua sampaikan saat menjadi pemateri pada rapat koordinasi dewan penasihat dan workshop kerukunan umat beragama di Taman Sari Hotel and Convention Center Karanganyar, Jawa Tengah (Jateng), Selasa (11/2/2020).

Ilmuwan AS: Hanya Kehendak Tuhan Yang Bisa Hentikan Virus Corona

Ia membuka materi workshop dengan menyampaikan data yang dikutip dari sumber tertentu perihal penggunaan emoji pada aplikasi Whatsapp di sejumlah negara. Diduga survei dilakukan pada 2019.

Menurut sumber, itu warga di Inggris Raya paling banyak menggunakan karakter gambar tertawa sampai menangis, Jerman menggunakan karakter tertawa lebar. Sedangkan Prancis dan Thailand menggunakan karakter tersenyum lebar serta Italia dan Spanyol menggunakan karakter tersenyum dan memberikan kecupan.

"Indonesia lebih banyak menggunakan karakter marah. Sampai hari ini kalau membaca [unggahan] di media sosial masih dipenuhi kemarahan, ujaran kebencian. Hal umum yang jadi pertanyaan adalah masyarakat Indonesia religius. Bagaimana bisa karakternya marah dan benci. Hoaks, fitnah diproduksi," kata Hudaya, sapaan akrabnya, saat memberikan sambutan.

Kongres PAN Ricuh, Peserta Perang Kursi

Ia menyampaikan keprihatinannya atas fenomena itu di hadapan tamu undangan dalam acara yang digelar Badan Kesatuan Kebangsaan Politik (Kesbangpol) dan FKUB Kabupaten Karanganyar tersebut. Atas hal itu, Hudaya mengajak seluruh elemen masyarakat andil menciptakan kondisi Karanganyar aman dan kondusif.

Dia juga bertanya kepada tokoh agama yang hadir perihal peran mereka. Apakah tokoh agama akan menonjolkan perbedaan atau persamaan antarumat manusia.

"Peran agama dan tokoh agama penting untuk menjadikan Karanganyar kondusif. FKUB Karanganyar difasilitasi Kemenag meluncurkan desa kerukuran di Ngargoyoso. Ada juga sekolah kerukunan yang diselenggarakan setiap tahun. Itu berangkat dari keprihatinan untuk meminimalkan kemungkinan fanatisme dan radikalisme berlebihan. Intinya pada agama," jelasnya.

Sok Kuat Tolak Pakai Masker, Binaragawan Meninggal Karena Corona

Oleh karena itu, ia mengajak tokoh agama mengampanyekan kerukunan ketimbang perbedaan. Menurutnya, tokoh agama berperan sentral merawat negara.

Hal senada disampaikan Perwira Seksi (Pasi) Intelijen Kodim 0727/Karanganyar, Kapten (Inf) Tohar. Dia menyinggung empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika.

"Mari kembali ke empat pilar kebangsaan. Semuanya mengandung nilai demokrasi, kesamaan derajat. Perbedaan yang dimiliki Indonesia itu unik. Tokoh masyarakat dan agama sebagai kunci," tegasnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten