Ketika Muhammadiyah Ingin Tarik Dana Triliunan Rupiah dari Bank Syariah BUMN
Ilustrasi uang. (Reuters)

Solopos.com, JAKARTA — Wacana Muhammadiyah tarik seluruh dana dari Bank Syariah BUMN mengemuka setelah tiga bank syariah milik BUMN dimerger.

Tiga banyak yang dimerger adalah BNI Syariah, BRI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri (BSM) menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI). Belum ada angka pasti berapa dana milik Muhammadiyah yang akan ditarik dari Bank Syariah BUMN.

Beredar kabar nilai Muhamamdiyah akan tarik dana hingga Rp15 triliun. Khusus di Bank Syariah Mandiri, dikabarkan dana Muhammadiyah mencapai lebih dari Rp6 triliun. Dana itu berbentuk tabungan, giro, hingga deposito.

“[Rp15 triliun ya?] Waduh itu baru bisa terjawab mungkin di akhir Januari. Kan BSI saja baru akan jalan tanggal 1 Februari 2021,” ujar Anwar sebagaimana dikutip dari Detikcom, Sabtu (19/12/2020).

Nilai tarik dana Muhammadiyah sedang dihitung oleh tim khusus internal mereka. Tim khusus itu sudah terbentuk dan diketuai oleh Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Zamroni.

Begini Tips Bagi yang Ingin Memulai Karier di Bisnis Properti

Pengumuman Muhammadiyah ingin tarik dana dari ketiga bank itu keluar tepat seusai digelarnya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) terkait merger dan komposisi komisaris dan direksi bank syariah tersebut.

Secara terbuka, Muhammadiyah mengungkapkan alasannya mau menarik dana dari sana. Pertama, Muhammadiyah berencana mengalihkan semua pembiayaannya kepada bank-bank syariah lain yang skalanya masih lebih kecil yang lebih menjangkau UMKM.

Kedua, menurut Anwar, dari awal misi ekonomi organisasi Islam ini adalah memajukan ekonomi umat atau rakyat serta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Salah satu cara Muhammadiyah mewujudkan misinya tersebut adalah meletakkan dananya di bank-bank syariah yang dianggap lebih dekat dengan umat.

Rp45 Miliar BPUM Sudah Cair untuk Pelaku UMKM Wonogiri

Namun, merger bank syariah BUMN telah membuat bank-bank tersebut menjadi lebih besar dan kuat dari skala sebelumnya.

Apalagi ada anggapan bahwa Bank Syariah Indonesia akan menjadi 10 besar bank syariah terbesar di dunia. Dikhawatirkan, umat atau rakyat kecil maupun UMKM bakal sulit menjangkau pinjaman ke bank dengan skala sebesar itu.

“Hal ini perlu dipikirkan oleh Muhammadiyah karena Bank Syariah Indonesia ini sudah menjadi sebuah bank syariah milik negara yang besar dan sudah sangat kuat di mana bank ini akan menjadi 10 bank syariah terbesar di dunia. Mungkin sudah waktunya bagi Muhammadiyah untuk tidak lagi perlu mendukung Bank Syariah Indonesia milik negara tersebut,” tuturnya.

Alasan lainnya adalah dari segi kedireksian yang ditunjuk usai aksi merger itu berlangsung.

“Melihat komposisi Komisaris, Direksi dan DPS PT Bank Syariah Indonesia hasil merger yang baru diumumkan maka mungkin Muhammadiyah sebaiknya melakukan pengkajian tentang hal tersebut,” imbuhnya.

Respons Bank Syariah

Anggapan merger Bank Syariah BUMN telah membuat bank-bank tersebut menjadi lebih besar dan kuat hingga sulit menjangkau UMKM ditepis Sekretaris Perusahaan PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS) Mulyatno Rachmanto.

“Komitmen Bank Syariah Indonesia untuk pelaku UMKM tidak akan kendor. Bahkan dengan bersatunya tiga bank, Bank Syariah Indonesia akan mampu memperkuat dukungan kami untuk lebih banyak pelaku UMKM di Indonesia,” ujar Mulyanto dilansir dari Detikcom.

Postingan “Pancasila Versi Wakanda” Bikin Rahma Sarita Dicoret dari Nasdem

Ia menjelaskan bahwa komitmen terhadap UMKM itu sudah tercantum dalam rancangan penggabungan Bank Syariah BUMN dan sudah dipublikasikan pula ke publik.

Bank Syariah Indonesia pun menyatakan kesiapannya berkolaborasi dengan Muhammadiyah, NU dan organisasi kemasyarakatan lainnya. “Karena merekalah tulang punggung perekonomian nasional,” imbuhnya.

Wacana Muhammadiyah tarik dana dari Bank Syariah BUMN pun ditanggapi Senior Faculty LPPI Moch. Amin Nurdin.

Dia mengatakan dana yang ditempatkan Muhammadiyah memang tidak tergolong signifikan dibandingkan dengan total dana yang telah terhimpun sejauh ini.

Namun, secara bisnis, hal ini tetap akan merugikan bagi perseroan karena tidak hanya kehilangan dana, tetapi juga potensi bisnis yang dari Muhammadiyah.

Pengamat Politik Ini Sebut Wali Kota Solo Rudy Layak Jadi Menteri Sosial

“Yang bahkan sebenarnya bisnis Muhammadiyah jauh lebih rapi dibandingkan dengan NU. Mereka lebih banyak diperkotaan dan memiliki basis data dan tata kelola lebih baik,” kata dia sebagaimana diberitakan Bisnis.com.

Amin bahkan memprediksi bisa saja terjadi Muhamamdiyah tarik dana secara masif, meski tidak akan menggangu likuiditas perseroan.

“Dana tersebut besar kemungkinan akan beralih ke Bank Muamalat yang saat ini cukup gencar mengoptimalkan penghimpunan dan penyaluran dana ke Muhammadiyah,” imbuhnya.

Sumber: Detikcom, Bisnis.com



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom