Kategori: Nasional

Ketika IT Restoran Memanjakan Penggemar Kulineran


Solopos.com/ Andi Asrihapsari/Peneliti Sekolah Vokasi UNS

Solopos.com, SOLO -- “Pengin makan apa ya? lihat aplikasi dulu yuk.” “Eh kemarin aku lihat ada kuliner enak di Instagram, coba pesen yuk, penasaran nih.” “Nanti bayarnya gimana ya? Ah gampang, kan ada aplikasi non tunai.” Percakapan seperti itu mungkin sering kita dengar di era digital sekarang ini.

Era digital sekarang ini memudahkan kehidupan manusia, tak terkecuali bagi penggemar kuliner. Karena teknologi informasi di era digital memudahkan mereka menikmati beragam menu makanan dari sejumlah rumah makan atau restoran.

Mau makan apa? Tinggal klik saja aplikasi yang menyediakan pemesanan makanan secara online. Tak hanya itu media sosial (medsos) seperti Instagram juga sudah menjadi sarana promosi yang efektif. Pengguna Instagram bisa mendapatkan beragam informasi menu makanan dari sebuah restoran.

Information Technology atau IT adalah istilah umum untuk teknologi apa pun yang membantu manusia dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengomunikasikan dan/atau menyebarkan informasi.

Tentu ini karena beberapa restoran sudah mengadopsi teknologi informasi untuk memudahkan menerima pesanan dari pelanggan atau konsumen. Hal itu karena manajemen menyadari pentingya IT restoran di era digital sekarang ini akan berdampak positif bagi usaha mereka.

Tinggal simpan saja nomor telepon atau WhatsApp dari restoran tersebut yang menyediakan jasa antar untuk pemesanan (delivery order). Tanpa harus keluar rumah, makanan kesukaan kita bisa dinikmati dengan mudah. Wow! Era digital memang memudahkan manusia termasuk penyuka kulineran.

Bagaimana dengan restoran di Jogja, Solo, dan Semarang atau Joglosemar? Kenapa memilih restoran di Joglosemar? Karena Jogja, Solo, dan Semarang adalah wilayah yang ditunjuk sebagai destinasi kuliner andalan Indonesia versi Kementrian Pariwisata pada Tahun 2018.

Restoran di Joglosemar

Penelitian berjudul Penggunaan Teknologi Informasi oleh Restoran di Joglosemar Kota Andalan Kuliner Indonesia menunjukan bahwa restoran di Joglosemar sebagian besar telah mengadopsi IT untuk memudahkan pelayanan.

Penelitian ini dilakukan Andi Asrihapsari, S.E., M.Sc., Ak., peneliti Sekolah Vokasi UNS Solo dan Prof. Doddy Setiawan, S.E., M.Si., IMRI, Ph.D., Ak., CA, peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS Solo, melibatkan empat mahasiswa Sekolah Vokasi UNS Solo sebagai pembantu pelaksana yaitu Sekar Rini Arum Pramudita (Angkatan 2016), Liya Pebrianti (Angkatan 2016), Muhammad Ardianto Lelono Putro (Angkatan 2016), dan Gita Artia Damayanti (Angkatan 2018).

Penelitian yang menyasar 600 restoran di Joglosemar (masing-masing wilayah 200 restoran) itu dilakukan pada 2019 dengan melibatkan 20 surveyor dengan tiga koordinator wilayahyaitu Koordinator Solo: Belinda Puspa Arum (Angkatan 2016), Koordinator Jogja: Ridina Meitasari (Angkatan 2017), dan Koordinator Semarang: Friesca Ardhelia Puspita Sari (Angkatan 2017).

Fokus penelitian adalah restoran UMKM yang menempati bangunan permanen dengan jumlah karyawan 1-99 orang. Penelitian ini memberi gambaran secara menyeluruh mengenai perkembangan fasilitas IT dari beberapa restoran di Joglosemar. Yaitu fasilitas pembayaran non-tunai di kasir, fasilitas IT terkait pembayaran pesanan dengan jumlah banyak-di luar restoran. Fasilitas mitra transportasi online, fasilitas IT kasir, fasilitas IT kontak restoran, dan lainnya.

Dari penelitian tersebut menunjukan bahwa IT kontak restoran menduduki peringat pertama sebanyak 92% restoran, disusul mitra transportasi online sebanyak 81%. Pembayaran non tunai 66%, fasilitas IT kasir 61%, fasilitas Wi-Fi 57%, dan IT pembayaran pesanan dengan jumlah banyak di luar restoran 49%.

IT kontak restoran melalui WhatsApp menjadi pilihan utama peminat kuliner untuk melakukan kontak atau komunikasi dengan restoran selain melalui Instagram. Kemudian sebagian besar restoran telah menggandeng mitra transportasi online, yakni Gojek dan Grab. Kedua aplikasi tersebut menjadi pilihan pemesan untuk mendapatkan makanan yang diinginkan dari restoran. Sebagian besar restoran telah menggandeng dua mitra transportasi online sekaligus, dibanding hanya satu, agar semakin banyak dibanjiri order dari para penikmat kuliner.

Pembayaran Non Tunai

“Gampang, lihat aja restonya bisa pesan lewat Gofood atau Grabfood atau enggak.” Kalimat yang sering kita dengar ketika keinginan menikmati menu makanan tanpa beranjak dari rumah, tempat kerja, atau saat kumpul bareng teman.

Pemesanan makanan menggunakan aplikasi memudahkan konsumen. (Freepik.com)

Era digital pun memudahkan konsumen melakukan transaksi pembayaran tanpa harus membuka dompet. Karena sebagian besar restoran di Joglosemar menyediakan pembayaran non tunai dengan menggunakan aplikasi tertentu. Tentu cadangan dana di aplikasi tersebut harus mencukupi untuk pembayaran pesanan. Pembayaran non tunai yang paling popular di Joglosemar adalah Gopay kemudian disusul OVO. “Wes pokoke penak tenan.”

Sejumlah restoran juga sudah meninggalkan pencatatan manual untuk urusan kasir. Mereka beralih menggunakan mesin kasir, komputer atau tablet untuk melayani pembayaran ataupun pemesanan. Terbukti hasil penelitian menyebutkan sebagain besar restoran sudah memanfaatkan fasilitas IT kasir ada 61%.

Tak hanya untuk memudahkan pemesanan, di era digital ini di mana persaingan restoran semakin ketat, IT restoran juga memberikan nilai lebih juga menarik perhatian konsumen. Salah satunya dengan penyediaan akses Internet gratis atau Wi-Fi di restoran tersebut.

Bagaimanapun di era digital, gadget menjadi perangkat wajib dalam menemani aktifitas manusia. Tidak hanya terkait kerja, menikmati kulineran juga membutuhkan gadget. Karena itu 57% restoran di Joglosemar menyediakan fasilitas Wi-Fi untuk menarik konsumen.

Satu lagi pemanfaatan IT restoran. Yakni untuk pembayaran pesanan dengan jumlah banyak di luar restoran. Hasil penelitian menyebutkan sebagian besar restoran telah memanfaatkan fasilitas transfer melalui bank untuk pembayaran pesanan dengan jumlah banyak di luar restoran. Hanya saja sebagian besar hanya memanfaatkan fasilitas transfer dari bank tertentu saja(49%). Masih sedikit yang menerima transfer dari semua bank (11%).

 

 

 

 

Share
Dipublikasikan oleh
Arif Fajar Setiadi