Geladi lapangan penanggulangan bencana erupsi Merapi di Dukuh Takeran dan Dukuh Stabelan, di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali, Rabu (10/7/2019). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)

Solopos.com, BOYOLALI -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan BPBD Boyolali dan stakeholder setempat menggelar geladi lapangan penanggulangan bencana erupsi Gunung Merapi di Desa Tlogolele, Selo, Boyolali, Rabu (10/7/2019).

Skenarionya tentang upaya evakuasi warga korban erupsi yang terhalang sopir egois sehingga menghambat perjalanan kendaraan pengangkut korban bencana.

Empat mobil pikap yang mengangkut puluhan warga Dukuh Takeran dan Dukuh Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali, bergegas meninggalkan tempat tinggal mereka.

Mereka melibas jalanan cor beton yang membelah wilayah itu agar bisa segera menjauh dari puncak Gunung Merapi. Sesaat sebelumnya, tim siaga desa (TSD) mengumumkan gunung yang puncaknya hanya berjarak sekitar 3 km dari kampung mereka itu meningkat statusnya dari waspada menjadi siaga.

Warga pun harus dievakuasi menuju tempat yang aman, yakni tempat penampungan pengungsi sementara (TPPS) di Desa Tlogolele yang berjarak sekitar 5 km.

Suara radio komunikasi dari petugas TSD memberikan informasi terkini dan koordinasi evakuasi warga. Sementara itu, warga yang sudah tanggap dengan situasi itu berlari menuju mobil pikap milik warga lainnya yang sudah disiapkan membawa mereka pergi.

Setelah masih-masing mobil terisi penuh, para sopir langsung tancap gas meninggalkan kampung. Namun belum satu kilometer mereka bergerak, perjalanan mereka terhenti di bibir jembatan Belang.

Di lokasi itu, satu unit mobil pikap lain dari arah berlawanan ngotot masuk ke perkampungan yang sebenarnya sudah terlarang. Jembatan gantung yang dibangun pada 2011 ini hanya bisa memuat satu kendaraan kecil untuk keluar-masuk kampung. Untuk melewatinya, mobil harus bergantian.

Dalam kondisi darurat bencana, mobil yang keluar dari kampung harus diprioritaskan karena ada bahaya yang mengancam di belakang mereka. Kepanikan mulai terjadi, warga yang ingin segera menjaduh dari bencana justru terhalang sikap sopir yang egois ingin masuk kampung.

Perang mulut pun tak terelakkan antara warga dengan pengemudi tersebut. “Gunung Merapi sudah meletus, mundur, mundur,” teriak penumpang pikap yang dibalas teriakan dari sopir yang ngeyel.

Personel TSD, polisi, dan TNI yang mendampingi warga ikut membujuk sopir pikap yang hendak masuk kampung untuk agar mundur dan memberi jalan kepada warga yang akan dievakuasi. Akhirnya, si sopir egois pun memundurkan kendaraan keluar bibir jembatan sambil tetap bergumam.

Empat mobil pikap warga akhirnya menyeberang Kali Ngeplong lewat jembatan itu dan bergegas menuju TPPS. Skenaro pun berlanjut, warga sampai di TPPS untuk mendapatkan penanganan dari petugas sesuai bidang masing-masing.

Wahyudi Fajar Kasi Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jawa Tengah mengatakan geladi ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan stakeholder dalam penanggulangan bencana erupsi Gunung Merapi.

Kali ini, geladi lapang melibatkan sekitar 200 orang yang terdiri atas warga yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) III tersebut dan stakeholder.

“Geladi lapang ini sudah kami lakukan di Klaten Maret lalu, dan rencananya di Magelang kami laksanakan Oktober 2019,” imbuhnya didampingi Sekretaris BPBD Boyolali Taufik Musalim.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten