Pasangan pengantin di Dukuh Sendang, Desa Kalangan, Kecamatan Gemolong, Sragen, dibopong menuju sendang dalam ritual Kethur Kendi, belum lama ini. (Istimewa/Yoto Teguh Pambudi)

Solopos.com, SRAGEN -- Warga Dukuh Sendang, Desa Kalangan, Gemolong, Sragen, memelihara ritual unik bagi warganya yang hendak menikah. Kethur Kendi namanya.

Dalam ritual ini, pasangan yang hendak menikah dan sudah didandani layaknya pengantin diarak warga. Pasangan pengantin pria dan wanita itu dibopong warga menuju ke sendang tak jauh dari kampung tersebut.

Terdapat dua sendang di lokasi itu. Warga biasa menyebutnya dengan istilah sendang lanang dan sendang wadon. Sendang itu memiliki sumber air yang tak pernah kering.

Isu Gadis Wonogiri Korban Perkosaan Tawarkan Diri, Diduga Cuma Alibi Pelaku

Sendang di bawah pohon yang rindang itu sudah dimanfaatkan airnya oleh warga sekitar sejak zaman nenek moyang. Di dekat sendang itu terdapat sebuah patung ganesha yang bagian kepalanya sudah hilang.

Sendang itu menjadi ramai saat warga setempat menggelar hajatan pernikahan. Warga berdatangan untuk menyaksikan ritual yang dijalani pasangan pengantin sebelum mengikuti prosesi pernikahan di rumah.

Ritual ini tidak bersifat wajib. Namun, warga sekitar menganjurkan tradisi ini dijalani pengantin yang pasangan perempuannya adalah warga setempat.

Setelah dibopong menuju sendang, pasangan pengantin itu diminta duduk beralas tikar. Di tikar itu keduanya diajak berdoa oleh seorang nenek tua yang memimpin ritual.

Gunung Merapi Semburkan Awan Panas Letusan Pagi Ini

Di hadapan mereka terdapat kendi berisi air dari sendang. Selanjutnya, nenek itu mengajak pasangan pengantin berdiri. Nenek itu selanjutnya mengucurkan air dalam kendi.

Dia berjalan diikuti pasangan pengantin dan pengiringnya. Mereka memutari lokasi hingga tiga kali sesuai garis yang dibuat dari kucuran air kendi itu.

“Saya sudah coba mengorek informasi dari sesepuh warga di sini. Ritual itu belum ada namanya. Saya sendiri menamakannya dengan tradisi kethur kendi. Ini adalah salah satu kearifan lokal di Desa Kalangan, warisan nenek moyang yang masih tetap lestari hingga sekarang,” ujar Yoto Teguh Pambudi, warga Dukuh Sendang, Desa Kalangan, saat berbincang dengan Solopos.com di Desa Kalangan, Selasa (5/11/2019).

Selain pasangan pengantin, beberapa peralatan gamelan juga dibawa warga ke sendang. Gamelan itu dibunyikan untuk mengiringi perjalanan pasangan pengantin selama mengikuti ritual.

Petani Madiun Temukan Ratusan Koin Kuno Saat Mencangkul

Tradisi yang dijalani pasangan pengantin itu sudah membudaya di lima dukuh di dua desa. Dusun tersebut yakni Sendang, Nglebak, Brumbung, Sentana (Desa Kalangan) dan Dusun Nglebak Nganti (Desa Nganti).

Sebagian warga percaya ritual itu harus dijalani pasangan pengantin. Bila tidak dilaksanakan, sebagian warga khawatir kehidupan setelah pernikahan itu akan mendapat banyak cobaan atau rintangan.

“Itu sebenarnya hanya mitos. Boleh percaya, boleh tidak. Bagi warga pendatang seperti saya, itu adalah tradisi budaya yang menarik. Itu adalah kearifan lokal yang tidak ada di desa lain. Saya menganggapnya sebagai khasanah budaya yang perlu dilestarikan. Mungkin bagi warga asli sini, tradisi itu dianggap hal biasa dan tidak ada yang istimewa,” papar Teguh yang belakangan tertarik mengulik berbagai tradisi budaya di pedesaan khususnya Gemolong dan sekitarnya.

Viral! Biduan Dangdut Lajang Jadi Kepala Desa di Lamongan

Ritual kethur kendi memiliki makna filosofis. Lewat tradisi ini, pasangan pengantin diajak senantiasa bersyukur atas nikmat Ilahi sebagai bekal membina mahligai rumah tangga. Air adalah salah satu rezeki dari Allah yang harus disyukuri.

“Air adalah sumber kehidupan. Tanpa air, tanaman pangan akan mati. Padahal, manusia tidak bisa hidup tanpa makanan yang dihasilkan dari tanaman. Itulah sebabnya pasangan pengantin itu diajarkan bagaimana bersyukur atas nikmat Ilahi,” jelas Teguh.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten