Ilustrasi Mobil Tangki Pertamina JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto

Solopos.com, LAMONGAN -- Sempat langka di jalur pantura Lamongan, kini ketersediaan solar akhirnya bisa tercukupi. Pertamina menyebut kelangkaan solar yang terjadi di wilayah Jatim disebabkan panic buying.

Salah seorang warga Lamongan, Iskandar. Dia mengaku beberapa hari lalu sempat kesulitan mencari solar untuk bahan bakar pompanya. Kakibatnya ia tak bisa mengairi sawahnya. Tapi per Senin (18/11/2019), ketersediaan soal sudah terpenuhi lagi.

"Hari ini saya ke salah satu SPBU dan solar sudah ada," kata Iskandar di SPBU Kota Lamongan, Senin, seperti dikutip dari detik.com.

Hal yang sama juga diakui sopir truk di Lamongan, Herman. Ia menyebut tak ada lagi antrean untuk mendapatkan solar. "Sudah lancar mas, akhirnya bisa narik lagi," ujar Herman.

Sementara Unit Manager Communication and CSR MOR V, Rustam Aji, menuturkan Pertamina memastikan ketersediaan solar subsidi baik di terminal BBM maupun di SPBU mencukupi untuk kebutuhan konsumen. Pertamina juga telah menambah sekitar 20 persen suplai solar.

"Pertamina juga memastikan bahwa stok BBM yang tersimpan di fasilitas Pertamina dalam kondisi aman," terangnya.

Rustam menegaskan Pertamina juga menurunkan satuan sugas (satgas) yang memonitor langsung kondisi di lapangan sehingga apabila ada hal yang perlu segera dilakukan bisa langsung ditindaklanjuti.

"Berdasarkan hasil pantauan satgas, sejak Sabtu [16/11/2019] sore, antrean di berbagai SPBU termasuk di jalur pantura sudah mulai terurai. Demikian juga kondisi di Hari Minggu [17/11/2019], kondisi di berbagai SPBU sudah kembali normal," ungkapnya.

Dia berharap penyaluran BBM Bersubsidi dapat tepat sasaran. Sebab yang terjadi di lapangan hingga kini BBM Bersubsidi masih banyak dikonsumsi masyarakat yang secara ekonomi tergolong mampu.

Di Surabaya, Kepala Dinas ESDM Jatim, Setiajit, memastikan pasokan soal hari ini sudah normal. "Kasus kelangkaan dipicu dari satu SPBU, berita menjadi muncul dan terjadi panic buying," kata Setiajit saat konferensi pers di Kantor Gubernur Jatim di Jl. Pahlawan, Surabaya.

Sementara saat disinggung adanya surat edaran terkait pembatasan penjualan solar, Setiajit menyebut edaran ini telah dicabut. Sebelumnya, edaran ini dikeluarkan untuk membatasi truk-truk industri dan truk yang mengangkut barang-barang tambang.

"Pada akhir bulan Oktober kuota untuk bahan bakar premium maupun solar subsidi telah melebihi kuota. Namun demikian, BPH Migas dan Pertamina sepakat melayani sesuai kebutuhan masyarakat. Jadi tidak benar kalau ada pembatasan dari tanggal 14. Surat edaran sudah dibatalkan," tambah Setiajit.

General Manager (GM) Pertamina MOR V, Werry Prayogi, mengatakan hal yang senada. Dia menyebut panic buying ini berawal dari informasi di masyarakat tentang kelangkaan solar.

Akibatnya, masyarakat khususnya sopir angkutan mulai panik dan membeli solar dalam jumlah banyak. Antrean pun mengular dan tidak terhindarkan.

Selain itu, Werry menyebut panic buying ini mengakibatkan pasokan solar di beberapa SPBU habis. Misalnya saat hari biasa, SPBU menjual hanya 10 ribu liter solar, namun beberapa hari ini mencapai 15 liter solar.

"Kami mengamati dari kejadian itu yang tadinya menjual solar 10 ribu liter jadi 15 ribu dan ini dipicu panic buying. Efeknya dengan barang yang selama ini cukup, menjadi seperti ini. Itu maksudnya panic buying menciptakan distorsi informasi," ucap Werry.

Sumber: Detik.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten