KESEHATAN REPRODUKSI : Hamil di Usia Tua, Berbahayakah?
Ibu rumah tangga asal Laweyan, Solo, Erlin Susiloprapti, menimang anaknya, Ahmad Zidan Ramadan. Erlin melahirkan anak keenamnya itu, saat dirinya berusia 43 tahun. (Eni Widiastuti/JIBI/Solopos)

Solopos.com, SOLO — Kehamilan istri adalah harapan setiap pasangan suami istri yang mendambakan hadirnya keturunan. Rasa bahagia pun menyelimuti hati keduanya ketika si istri dinyatakan positif hamil. Namun dalam kondisi tertentu, sepasang suami istri justru diliputi rasa waswas ketika mengetahui adanya jabang bayi pada rahim istri. Salah satunya ketika istri yang sedang hamil, umurnya sudah cukup tua.

Hal itu seperti pengalaman sepasang suami istri asal Laweyan, Solo, Erlin Susiloprapti dan Abdul Rouf. Erlin menceritakan saat ini ia berumur 43 tahun. Sekitar tiga tahun lalu, tanpa disangka ia hamil lagi untuk kelima kalinya. Padahal ia telah dikaruniai tiga orang anak. “Dari empat kali kehamilan sebelumnya, satu anak saya meninggal dunia. Jadi yang hidup tiga orang,” jelasnya saat ditemui Solopos.com di kediamannya, Rabu (2/10/2013).

Karena mengetahui risiko hamil di usia cukup tua, Erlin dan suaminya mengaku cukup waswas ketika mengetahui dirinya hamil lagi. Namun ia dan suami tetap bahagia dan menjaga kehamilannya yang kelima dengan baik. Segala nutrisi yang dibutuhkan seorang ibu hamil pun berusaha ia penuhi. Ia berharap buah hatinya tumbuh normal dan lahir dengan selamat. “Meski bidan yang menangani saat itu cukup khawatir ketika membantu proses persalinan saya, alhamdulillah saya bisa melahirkan secara normal,” katanya.

Namun pada akhirnya, kata Erlin, ia dan suaminya harus mengikhlaskan kepergian anak kelimanya itu untuk selama-lamanya. Anak tersebut diketahui menderita berbagai penyakit. Saat itu, Erlin sudah diperingatkan pihak medis agar tidak hamil lagi. Pasalnya jika hamil lagi, kehamilannya termasuk dalam kategori risiko tinggi.

Namun ternyata, Tuhan berkehendak lain. Tiga tahun berikutnya, Erlin kembali positif hamil. Tak ayal perasaan waswas dan khawatir selalu menghantui perasaan Erlin dan suami. Ia paham betul bagaimana risiko hamil dan melahirkan di usia 43 tahun. “Saat itu saya memang hanya KB (mengikuti program keluarga berencana) kalender. Jadi kemungkinan hamilnya masih besar,” katanya.

Meski demikian, katanya, Erlin tetap menjaga kehamilannya dengan baik. Ia pun rajin berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan. Ia bahkan sengaja mencari dokter spesialis kandungan yang bisa menenangkan hatinya. “Alhamdulillah saya bertemu dengan dokter yang selalu membesarkan hati saya. Jadi saya bisa menghadapi kehamilan keenam ini dengan perasaan lebih tenang. Tak lupa, saya perbanyak doa,” jelasnya.

Pengalaman berbeda dirasakan seorang perempuan asal Tipes, Solo, Endang, 43. Ia menceritakan setelah 13 tahun menikah, tahun 2008 ia dinyatakan positif hamil. Tak ayal, ia dan suaminya sangat bahagia. Meski demikian, Endang mengaku tak terlalu protektif menjaga kehamilannya. Ia menjalani hari-hari semasa hamil, seperti hari-hari biasanya dengan aktivitas cukup banyak. “Karena saat itu saya sibuk, perubahan dari menit ke menit atau pekan per pekan, tidak terlalu saya rasakan,” jelasnya.

Namun ketika usia kehamilannya memasuki bulan ketujuh, ungkapnya, gigi Endang banyak yang rusak. Jauh hari sebelumnya, Endang sudah diberi tahu dokter agar mengonsumsi kalsium dalam jumlah banyak. Pasalnya Endang hamil di usia cukup tua. Endang pun menuruti nasihat dokter dengan mengonsumsi kalsium ekstra baik dari makanan maupun suplemen. “Tapi walaupun berbagai usaha sudah saya lakukan, gigi saya tetap rusak. Jadi saat itu sepekan sekali saya ke dokter gigi,” ungkapnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho