KESEHATAN REPRODUKSI : Dilahirkan Ibu Berusia Tua, Jabang Bayi Terancam Down Syndrom
Ilustrasi ibu hamil (JIBI/Harian Jogja/Reuters)

Solopos.com, SOLO — Bukan hal baru, hamil di usia relatif tua memiliki risiko lebih besar. Peringatan itu kerap didengung-dengungkan aparat pemerintah yang bertanggung jawab atas kesehatan publik. Salah satu kriteria kehamilan dengan risiko tinggi adalah ketika si ibu hamil berumur lebih dari 35 tahun atau lebih spesifik berusia di atas 40 tahun.

Dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan dari Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo, dr. Soffin Arfian Sp.O.G, menerangkan seorang perempuan ketika dilahirkan rata-rata memiliki sel telur berjumlah sekitar 300.000 buah atau paling banyak 600.000 sel telur. Jumlah sel telur yang dimiliki setiap wanita, tidak akan bertambah selama hidupnya. Setelah seorang perempuan mengalami haid, sel telur mulai berkembang. Setiap bulannya ada satu sel telur yang matang dan kebanyakan sel telur lainnya tidak matang. “Semakin lama jumlah sel telur akan berkurang,” jelasnya saat ditemui Solopos.com, di ruang kerjanya, Selasa (1/10/2013).

Secara otomatis, ungkapnya, semakin tua usia seorang wanita, usia sel telur juga semakin tua. Karena usianya tua, kualitas sel telur tersebut juga berbeda dengan sel telur ketika masih muda. Risikonya terpapar berbagai masalah, misalnya karena pengaruh radikal bebas dan obat yang dikonsumsi mengakibatkan kromosom dalam sel telur kondisinya tidak baik. Jika sel telur dibuahi, sementara kondisi kromosomnya tidak baik, hasil pembuahannya juga tidak baik. Akibatnya anak keturunan yang dilahirkan bisa mengalami down syndrom.

Anak yang mengalami down syndrom, lanjutnya, biasanya memiliki kelainan yaitu idiot dan memiliki intelectual quotient (IQ) rendah. Mereka juga biasanya mengalami keluhan lain seperti tubuhnya yang pendek dan infertilitas. “Bentuk wajahnya khas. Biasanya orang Jawa mengatakan anaknya ngowo,” ujarnya.

Selain itu, terangnya, karena usia sudah tua, rahim seorang wanita juga tak sekuat ketika muda. Terlebih ketika seseorang sudah melahirkan beberapa kali, rahimnya semakin melar dan tipis. Akibatnya ketika kontraksi biasanya kurang baik dan menyebabkan persalinan macet. Akibat lainnya bisa terjadi pendarahan karena pengaruh kontraksi yang kurang baik dan rahim yang robek.

“Tapi kalau kondisi sel telur yang dibuahi tidak mengalami kelainan, rahimnya juga kuat, seseorang yang hamil di usia tua tidak akan mengalami masalah,” jelasnya.

Jika seseorang yang kontraksinya kurang baik saat persalinan, terangnya, bisa diatasi dengan mengonsumsi kalori yang cukup, misalnya banyak mengonsumsi madu. Biasanya ketika proses persalinan, seorang perempuan enggan makan dengan alasan tak sempat karena menahan sakit.

Terkait pilihan seseorang yang memilih langsung melakukan metode keluarga berencana (KB) steril ketika melahirkan di usia tua, Soffin mengungkapkan tak ada hubungan langsung antara KB steril dan usia seseorang. KB steril adalah salah satu metode KB bagi mereka yang tak ingin lagi hamil. Tapi bukan berarti mereka yang melakukan KB steril, tak akan bisa hamil. “Tingkat kegagalan KB steril sekitar 0,01%. Jadi masih ada kemungkinan bisa hamil,” jelasnya.

Soal terjadinya berbagai risiko saat persalinan, kata Soffin, hal itu sebenarnya bisa dialami siapapun yang melahirkan secara normal atau caesar, yaitu terjadi pendarahan, infeksi, kejang dan preeklamsia. “Soal lahir normal atau caesar itu sebenarnya bukan pilihan. Salah satu harus dilakukan sesuai prosedur secara medis,” jelasnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho