KESEHATAN MATA : Petani Berisiko Terkena Katarak, Ini Deteksi Dini yang Dapat Dilakukan

Redaksi Solopos.com
Jumat, 30 Oktober 2015 - 08:38 WIB

SOLOPOS.COM - Salah satu pasien katarak menjalani operasi di Puskesmas Mlati II Sleman, Kamis (29/10/2015). (JIBI/Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati)

Kesehatan mata untuk petani rawan alami katarak.

Harianjogja.com, SLEMAN-Masyarakat yang bekerja di lapangan terbuka diimbau hari-hati. Selain faktor usia, penyakit mata katarak dapat disebabkan oleh paparan matahari.

“Seperti petani itu terkena paparan sinarnya akan tinggi sehingga berisiko kena katarak,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Mafilindati Nuraini, saat ditemui dalam kegiatan Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis dalam rangka Hari Kesehatan Nasional (HKN) di Puskesmas Mlati II, Kamis (29/10/2015).

Penyakit katarak akan menyerang manusia dengan usia lanjut sehingga hal ini tidak dapat dihindari. Dinkes juga tak mampu memasang target bebas katarak untuk Sleman karena kecenderungannya orang yang telah lanjut usia dimungkinkan terkena katarak.

“Kalau target bebas katarak susah tapi kalau kita paling meminimalisir,” jelasnya.

Agar tidak mencapai level yang parah, Linda mengimbau masyarakat melakukan deteksi dini. Salah satu indikasinya adalah penglihatan mulai buram. Menurutnya Puskesmas telah memiliki teknologi untuk mendeteksi dini penyakit katarak sehingga sebelum penyakit ini parah, masyarakat bisa melakukan tes.

“Kalau sudah parah nanti rujukan operasi ke rumah sakit,” jelasnya.

Selama ini, Pemkab telah membantu mengurangi jumlah penderita katarak dengan menggelar bakti sosial operasi katarak gratis. Tahun ini telah dilaksanakan dua kali. Pertama di Puskesmas Ngemplak 1 sebelum Ramadan dan kedua di Puskesmas Mlati II.

Penderita katarak sangat menyambut baik program ini namun tidak semua pasien yang mengajukan operasi bisa diterima.

“Kemarin yang daftar 239 tapi yang dioperasi 25,” kata Linda menjelaskan untuk peserta operasi di Puskesmas Mlati II. Sementara saat di Ngemplak I, dari 187 pendaftar hanya lolos 22 pasien.

Menurut Linda, pasien yang tidak dapat dilayani dikarenakan tingkat kataraknya sudah parah. Selain itu ada penyakit penyerta seperti tekanan darah tinggi dan diabetes.

“Kalau di sini [Puskesmas] hanya melayani bius lokal sementara sisanya [yang tidak dilayani di Puskesmas] membutuhkan bius total dan itu dilakukan ahli anestesi,” jelasnya.

Linda menyebut angka prevalensi katarak Sleman adalah 0,7% dari total penduduk. Sementara kasus katarak di Kabupaten Sleman tahun 2014 berdasarkan laporan LB 1 Puskesmas yang masuk ke Dinkes sebanyak 1.545 kasus dari total jumlah penduduk 1.062.801 jiwa.

Salah satu warga peserta operasi katarak, Setyo Harjono, 70, mengaku terbantu dengan adanya bakti sosial ini. Ia sudah mengidap katarak selama satu tahun ini. Mata kanannya tidak berfungsi maksimal dan buram untuk melihat.

“Belum operasi karena mahal. Ada yang Rp4 juta tapi ada yang sampai Rp30 juta,” ungkap warga asal Sidomoyo, Godean ini

Ia berharap acara seperti ini kerap dilakukan untuk mengurangi jumlah pasien katarak di Sleman. Kegiatan bakti sosial ini didukung Yayasan Bhakti Jogja dan Perumnas, serta Perdami (Persatuan Dokter Ahli Mata Indonesia) Cabang Jogja.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif