Kategori: Klaten

KESEHATAN KLATEN : Sering Rusak Perabot Rumah, Penderita Gangguan Jiwa Dirantai


Solopos.com/Ponco Suseno/JIBI/Solopos

Kesehatan Klaten, seorang penderita gangguan jiwa asal Jogonalan terpaksa dirantai karena sering merusak barang.

Solopos.com, KLATEN -- Wawan Sri Mulyadi, 36, warga Joton, Kecamatan Jogonalan, Klaten, tidur dengan posisi tengkurap, Selasa (7/2/2017) siang. Wawan tidur di sebuah gubuk dari bambu berukuran 4 meter x 4 meter di belakang rumah utamanya.

“Wan, tangio [lekas bangun]. Iki tak wenei sega [ini saya beri nasi],” kata Ibu Wawan, Sadinem Harjo Mulyono.

Wawan bergeming. Pria lulusan MAN Prambanan itu masih saja tidur pulas beralaskan matras tipis warna hitam dengan berselimut sarung. Di kaki kanan Wawan tampak rantai melilit pergelangannya.

Akibat dibelenggu itu, Wawan hanya memiliki ruang gerak di gubuk terbuat dari bambu itu. Sehari-harinya, Wawan makan di gubuk itu. Saat kencing pun, Wawan juga mengeluarkan air seni tak jauh dari gubuk itu.

Hal itu menjadikan aroma di gubuk yang dihuni Wawan sering pesing. “Meski sudah dirantai seperti ini, saat kumat, Wawan sering merusak beberapa barang di dekatnya, misalnya genting, dengan melemparkan botol berisi air putih ke atas,” kata kakak Wawan, Purwanto, 50.

Di hadapan juru warta, Purwanto menceritakan Wawan mulai mengidap gangguan jiwa sejak 2007. Keluarga telah berupaya menyembuhkan Wawan dengan mengantar ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Solo dan Wedi.

Selain itu, anggota keluarga juga menempuh cara lain, seperti pengobatan alternatif dan rukyah. Namun berbagai cara itu tak membuahkan hasil. Hingga akhirnya Wawan ditinggal bapaknya, Wakijo Harjo Mulyono, pada 2014.

“Wawan ini saya rantai sejak 1,5 tahun lalu. Awalnya, saya rantai di depan rumah. Ternyata dia masih membahayakan orang lain. Saat ada orang lewat di depan rumah sering dia lempari batu. Makanya, saya buatkan gubuk di belakang rumah [untuk tempat tinggal Wawan]. Wawan ini sudah merusak berbagai perabot rumah tangga, seperti genting rumah, kaca jendela, kaca lemari, tempat tidur, dan lain sebagainya,” katanya.

Purwanto mengatakan saat kecil hingga memasuki usia remaja, Wawan sebenarnya dikenal memiliki kepribadian supel. Wawan juga sering bersosialisasi dengan warga lainnya.

“Wawan pernah bekerja di percetakan di Jakarta. Sampai sekarang, kami tak tahu penyebab Wawan seperti ini [mengalami gangguan jiwa]. Yang jelas, dia pernah diberhentikan dari pekerjaannya di Jakarta itu. Saat di rumah, komunikasi dengan anggota keluarga yang lain tidak intens lagi karena bapak sempat sakit stroke sebelum meninggal dunia. Upaya pemberian obat juga tak mempan karena Wawan tak mau makan obat,” katanya.

Kapolsek Jogonalan, AKP Ngadino, mewakili Kapolres Klaten, AKBP M. Darwis, meluangkan waktu menjenguk Wawan. Dari hasil pengecekan, sebelum mengalami gangguan jiwa, Wawan sempat tak bersikap terbuka di depan anggota keluarganya.

“Berbagai persoalan yang dihadapi membuat dirinya menjadi pribadi yang tertutup. Sampai sekarang, belum diketahui penyebab Wawan mengidap gangguan jiwa,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, di Joton ada delapan orang yang mengalami gangguan jiwa. Dua dari delapan orang itu sudah meninggalkan Desa Joton, beberapa waktu lalu.

Share
Dipublikasikan oleh
Suharsih