KESEHATAN KLATEN : 17 Ibu Hamil Meninggal Dunia Sepanjang 2016, Ini Penyebabnya
Ilustrasi ibu hamil (JIBI/Harian Jogja/Reuters)

Kesehatan Klaten, sebanyak 17 ibu hamil meninggal dunia sepanjang 2016 di Klaten.

Solopos.com, KLATEN  -- Sebanyak 17 ibu hamil meninggal dunia sepanjang 2016 di Kabupaten Klaten. Penyebab ibu hamil meninggal dunia kebanyakan karena preeclampsia berat (PEB).

Preeclampsia merupakan gangguan kehamilan yang ditandai tekanan darah tinggi dan kandungan protein yang tinggi dalam urine. Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten, jumlah ibu hamil yang meninggal akibat PEB hingga Senin (19/12/2016) tercatat enam orang, akibat perdarahan sebanyak lima orang, kelainan jantung dua orang, serta sepsis atau penyakit akibat infeksi bakteri satu orang.

Sementara penyebab lainnya berupa gagal ginjal, meningitis (peradangan pada selaput pelindung yang menutupi saraf otak dan tulang belakang), emboli (hambatan pada aliran pembuluh darah), serta postpartum blues (gangguan psikologis setelah melahirkan) dialami empat ibu hamil.

“Selama 2016 sampai saat ini ada 17 kasus kematian ibu hamil dan ndilalah [kebetulan] meninggalnya di rumah sakit,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Klaten, Sri Sundari Indriastuti, Senin.

Angka kematian ibu hamil pada 2016 meningkat dibanding 2015 dengan 15 kasus. Sementara selama 2014 tercatat ada 20 ibu hamil yang meninggal dunia. Terkait penyebab kematian ibu hamil akibat PEB, Sundari mengatakan bisa terjadi secara mendadak.

”Dari usia kandungan satu hingga tujuh bulan kondisinya baik-baik saja. Tetapi, masuk bulan kedelapan tiba-tiba tekanan darahnya tinggi. Makanya butuh periksa rutin sehingga jika terjadi hipertensi bisa segera dirujuk untuk pencegahan,” katanya.

Sundari mengatakan kematian ibu hamil bisa dicegah jika penanganan dilakukan sejak dini. Pencegahan tak hanya dilakukan oleh petugas kesehatan. Pencegahan kasus kematian ibu hamil harus dilakukan dengan melibatkan suami, keluarga, serta lingkungan terdekat.

“Suami ibu hamil harus aktif melakukan pendampingan terhadap kesehatan ibu. Saat ini sudah ada program kelas ibu hamil. Di sana, suami bisa ambil bagian dengan mengingatkan jadwal pemeriksaan rutin serta mengingatkan asupan nutrisi untuk ibu. Masyarakat juga cepat tanggap dalam kondisi kegawatan. Misalnya ketersediaan armada yang siap setiap saat untuk membantu ibu hamil,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala Dinkes Jawa Tengah, Yulianto Prabowo, mengatakan angka kematian ibu dan bayi di Jateng masih cukup tinggi. Selama 2016 hingga Senin (12/12/2016) lalu, angka kematian ibu mencapai 581 orang. Dari ratusan kasus itu, 80 persen ibu meninggal di rumah sakit. Karena itu, ia meminta rumah sakit ikut berperan mencegah terjadinya kematian pada ibu.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom