Kesadaran Merek Jadi Faktor Penting Meraih Merek Terbaik SBBI 2020

Brand awareness atau kesadaran merek menjadi faktor penting bagi kesuksesan pemasaran produk yang akan memengaruhi keputusan pembelian konsumen.

  • Kesadaran Merek Jadi Faktor Penting Meraih Merek Terbaik SBBI 2020

    Presiden Direktur PT Aksara Solopos dan PT Aksara Dinamika Jogja, Lulu Terianto (tengah), berfoto bersama peraih anugerah brand terbaik Jogja dan peraih The Best Website pada sesi IV acara penganugerahan Solo Best Brand Index (SBBI) dan Jogja Best Brand Index (JBBI) 2017 di Ballroom 1 Lobby Level Alila Hotel, Solo, Kamis (4/5/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)

Solopos.com, SOLO -- Brand awareness atau kesadaran merek menjadi faktor penting bagi kesuksesan pemasaran produk. Kesadaran merek akan memengaruhi keputusan pembelian konsumen.

Kecil kemungkinan produk akan laku di pasar kalau mereknya tidak kenal publik. Brand awareness ini pun menjadi salah satu pembentuk kekuatan merek (brand equity) sebagai konsep yang dipakai dalam riset Solo Best Brand and Innovation (SBBI) 2020 yang digelar jaringan media Solopos Group.

Koordinator Divisi Riset SBBI 2020, Sholahuddin, mengatakan dalam riset SBBI 2020 brand awareness diukur dari dua dimensi, yakni kesadaran merek itu sendiri dan kesadaran iklan (advertisement brand).

Update Virus Corona di Dunia: Kasus Positif Hampir 4 Juta

Maka dari itu, bagi pemegang merek, meningkatkan atau mempertahankan aspek kesadaran merek di mata konsumen sangat penting agar merek tetap menjadi pilihan konsumen.

“Tapi, hanya mengandalkan dimensi kesadaran merek tidak cukup. Brand awareness hanya menjadi salah satu variabel pembentuk best brand [merek terbaik] selain market share [pangsa pasar], usage (penggunaan), brand loyalty [loyalitas merek], satisfaction [kepuasan], dan perceived quality [persepsi kualitas]. Jadi untuk meningkatkan kualitas produk harus diperhatikan pada banyak dimensi, bukan hanya satu dimensi,” ujar dia kepada Solopos.com, Kamis (7/5/2020).

Ramai Keluhan Tagihan Listrik April 2020 Naik, Ternyata Karena Ini

Lebih lanjut ia menjelaskan dalam SBBI 2020 masing-masing variabel diberi bobot berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Adapun bobot masing-masing variabel sebagai pembentuk best brand adalah brand awareness (0,1), satisfaction (0,2), loyalty (0,2), perceived quality (0,1), usage (0,15), dan market share (0,25).

Kalau melihat pembobotan tersebut, dimensi market share atau pangsa pasar diberi bobot paling tinggi dibanding varibel lain. Hal ini karena pangsa pasar mencerminkan realitas pasar yang sesungguhnya.

Belajar dari Rumah, Sekolah Swasta di Solo Ini Refund Uang SPP Siswa

Meski ada perbedaan bobot dalam SBBI, pada hakikatnya keenam variabel tersebut sama-sama penting dalam pemasaran.

Direktur Pemasaran Solopos, Suwarmin, menambahkan brand awareness merupakan faktor penting bagi konsumen untuk melakukan keputusan membeli. Jika kesadaran konsumen terhadap sebuah merek tinggi, dia sering tidak peduli harga, tidak lagi mencari pembanding.

Brand Top of Mind

Konsumen membeli karena percaya kualitas merek tersebut. Brand yang masuk kategori top of mind, sering kali tidak rumit dalam melakukan promosi pasar.

Ferdian Paleka Kabur ke Sumatra di Tengah Larangan Mudik, Kok Bisa?

Cukup dengan menyampaikan identitas merek secara sederhana until recalling konsumen. Ketika orang punya kebutuhan, asosiasi dirinya langsung tertuju kepada kesadaran merek yang tertinggi.

“Walaupun pada prakteknya, brand top mind pun bisa jadi tidak secure dalam kondisi krisis seperti sekarang. Hegemoni top of mind biasanya terjadi pada situasi normal dan bagi orang yang punya daya beli,” ujar dia.

Menhub Bolehkan Bus Beroperasi, Perusahaan Otobus di Solo Ini Langsung Siapkan 345 Bus

Di sisi lain, cara paling efektif membangun brand awareness adalah dengan langsung mendekatkan merek dengan kebutuhan konsumen, mengasosiasikan brand tersebut sebagai jawaban atas kebutuhan konsumen, atau menyampaikan brand tersebut penting dan dibutuhkan oleh konsumen.

Untuk menyampaikan pesan ini, pada era digital seperti sekarang ini semakin beragam. Bisa melalui media mainstream konservatif sampai yang digital, dari media sosial hingga pendekatan aktivasi, bisa offline bisa pula online.

Info Lainnya