Tutup Iklan -->
KERUSAKAN JALAN: Talut Jalan Alternatif yang Ambrol Mulai Diperbaiki
Para pekerja tengah beristirahat setelah menggali tanah yang akan digunakan untuk membangun fondasi talut jalan alternatif penghubungan antarkabupaten di Dukuh Purwosari, Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Klaten, Kamis (31/1/2013). (JIBI/SOLOPOS/Ivan Andimuhtarom)

Para pekerja tengah beristirahat setelah menggali tanah yang akan digunakan untuk membangun fondasi talut jalan alternatif penghubungan antarkabupaten di Dukuh Purwosari, Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Klaten, Kamis (31/1/2013). (JIBI/SOLOPOS/Ivan Andimuhtarom)
KLATEN - Talut di pinggir jalan alternatif antarkabupaten yang ambrol akibat terjangan air di Dukuh Purwosari, Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Klaten, mulai diperbaiki oleh Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Klaten, Rabu (30/1/2013). Penyelesaian proyek tersebut ditargetkan rampung dalam dua sampai tiga pekan ke depan.

Kepala Desa Ngerangan, Sri Hardono, 56, kepada Solopos.com, Kamis (31/1/2013), mengatakan pemerintah desa (pemdes) telah mengajukan permohonan perbaikan talut dan tanggul jalan, segera setelah tanah mulai terkikis awal Januari lalu. Menurutnya, Bidang Bina Marga DPU Klaten merespon cukup cepat sehingga perbaikan talut telah mulai dikerjakan Rabu.

“Jalan yang berdekatan dengan talut itu adalah jalur vital yang menghubungkan Klaten dengan Wonogiri, Sukoharjo dan Gunungkidul. Kalau talutnya tidak segera diperbaiki, kami khawatir jalan alternatif lingkar selatan Klaten itu akan putus,” ujarnya.

Terjangan air yang mengalir dari Desa Tancep, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul melongsorkan tebing jalan di Dukuh Purwosari, Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat. Kondisi tersebut telah terjadi sejak awal Januari dan mencapai puncaknya Minggu (13/1/2013). Kondisi tanah yang tergerus tersebut membahayakan pengguna jalan yang melintas karena sewaktu-waktu jalan bisa ikut ambrol.

Kepala Bidang Bina Marga DPU Klaten, Juwito, ketika dihubungi Solopos.com mengatakan setelah talut selesai dikerjakan, pihaknya akan menguruk bekas gerusan air dengan tanah yang keras. Hal itu dilakukan agar talut dan tanah lebih kuat menahan air saat hujan tiba.
“Targetnya dua pekan, tetapi kami akan melihat kondisi. Paling lama sekitar tiga pekan semuanya beres,” kata dia.
Salah seorang pekerja proyek pembangunan talut, Suyanto, 34, dijumpai Espos di lokasi proyek, Kamis, mengatakan para pekerja mengalami kendala saat penggalian tanah untuk fondasi talut. Struktur tanah yang mereka garap mudah ambrol sehingga ia dan pekerja lain harus bekerja ekstra.
“Rabu kami sudah menggali cukup dalam. Kamis pagi galian itu seperti terisi tanah. Itu juga ada rembesan air dari kali kecil di sampingnya. Sebelum menggali, tadi kami menguras airnya dulu. Nantinya talut yang baru akan disambungkan dengan talut lama yang masih berdiri,” terangnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho