Kerusakan Jalan Solo-Sragen Sudah Kondang Sejak Zaman Penjajah Belanda, Ini Buktinya!
Sejumlah pekerja sibuk memperbaiki jalan Solo-Sragen, tepatnya di kawasan Masaran, Jumat (15/1/2021). (Moh. Khodiq Duhri/Solopos)

Solopos.com, SRAGEN — Bagi warga yang biasa melintasi jalan Solo-Sragen, tentu harus ekstra waspada saat melintasi jalan itu. Meski berstatus jalan nasional, kerusakan jalan kerap muncul di sana sini. Selain berlubang, jalanan juga kerap bergelombang. Tanah yang labil dan banyaknya truk bertonase tinggi yang melintas menjadi penyebab utama terjadinya kerusakan jalan.

Layani Pasien Covid-19 OTG Hingga Bergejala, Ini Fasilitas RS Lapangan Vastenburg Solo

Aspal jalan bergelombang umumnya terjadi di dekat persimpangan jalan. Aspal jalan itu bergelombang karena terlalu lama menahan beban truk bertonase tinggi yang berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah. Sejauh ini, perbaikan jalan Solo-Sragen baru sebatas tambal sulam. Kondisi jalan yang rusak itu tentu membahayakan keselamatan pengguna jalan. Tidak jarang warga mengalami kecelakaan tunggal setelah roda sepeda motornya terperosok lubang jalan.

Nukilan berita dari koran berbahasa Belanda yang menyoroti kerusakan jalan Solo-Sragen pada masa Hindia Belanda. (Istimewa/Dokumen Johny Adhi Aryawan)
Nukilan berita dari koran berbahasa Belanda yang menyoroti kerusakan jalan Solo-Sragen pada masa Hindia Belanda. (Istimewa/Dokumen Johny Adhi Aryawan)

Siapa sangka, kerusakan jalan Solo-Sragen sudah terkenal sejak zaman penjajah Belanda. Setidaknya ada dua koran pada masa Hindia Belanda yang pernah menyoroti kerusakan jalan itu. Koran berbahasa Belanda, De Locomotief dalam reportase pada 4 Desember 1935 bahkan menyebut Solo-Sragen sebagai “jalan terburuk” di Vorstenlanden yang akan diperbaiki pada awal 1936.

Biar Uangnya Aman dari Tuyul, Pedagang Pasar Gentongan Klaten Pakai Trik Ini

“Vorstenlanden merupakan sebutan pemerintah Hindia Belanda untuk wilayah empat monarki pecahan Mataram Islam yakni Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Mangkualaman,” terang sejarawan Sragen, Johny Adhi Aryawan, kepada Solopos.com, Jumat (15/1/2021).

Pengaspalan Solo-Sragen

Sepuluh bulan kemudian, kata Johny, De Locomotief kembali memberitakan progres pengaspalan jalan Solo-Sragen. Saat berita diturunkan, panjang ruas jalan yang belum diaspal tinggal 4 km. Diharapkan pekerjaan tuntas pada 1 November 1936. Namun, hanya berselang dua tahun, kerusakan kembali terjadi di jalan Solo-Sragen. Kali ini, Koran Het Algeement Handelsblad dalam reportasenya menyebut jalan tersebut dengan istilah “lebih dari mengerikan.” Koran berbahasa Belanda itu juga menyebut perbaikan jalan Solo-Sragen sepanjang 3 km di wilayah Palur melibatkan Mangkunegaran.

Nukilan berita dari koran berbahasa Belanda yang menyoroti kerusakan jalan Solo-Sragen pada masa Hindia Belanda. (Istimewa/Dokumen Johny Adhi Aryawan)
Nukilan berita dari koran berbahasa Belanda yang menyoroti kerusakan jalan Solo-Sragen pada masa Hindia Belanda. (Istimewa/Dokumen Johny Adhi Aryawan)

Pelonggaran Jam Buka Saja Tidak Cukup, Pelaku Usaha Kuliner Sukoharjo Minta Ini

“Perhatian dan harapan terhadap jalan Solo-Sragen telah muncul sejak era Hindia Belanda. Jalur Solo-Sragen melalui Palur telah tercantum pada peta kuno Surakarta era Hindia Belanda pada 1867. Fungsi utama kala itu sebagai jalan pos menuju Oost Java [Jawa Timur]. Pada peta tersebut belum terdapat gambar jalur rel kereta api dari Solo-Madiun,” terang Johny yang juga menjabat sebagai Kasi Sejarah dan Tradisi, Bidang Pembinaan Kebudayaan, Disdikbud Sragen.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom