Keruntuhan Imajinasi Publik
Abdul Jalil (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Kabar dan konten ihwal hubungan cinta penyanyi Nissa Sabyan dengan keyboardist Sabyan Gambus, Ahmad Fairus alias Ayus Sabyan, menghiasi hampir seluruh media daring dan medis sosial dalam beberapa hari terakhir.

Konten itu tak hanya muncul di media massa. Hubungan cinta Nissa dan Ayus--yang telah beristri--itu juga menjadi bahan pergunjingan di media sosial. Setiap unggahan tentang relasi percintaan mereka di media sosial mengundang sangat banyak komentar dari warganet.

Isi komentar sebagian besar sumpah serapah. Warganet tanpa merasa berdosa sedikit pun menghakimi Nissa Sabyan dengan berbagai umpatan. Saya meluangkan waktu menelusuri akun pribadi Instagram Nissa Sabyan.

Seperti saya duga, kolom komentar di unggahan di akun itu berisi umpatan dan makian, bahkan di unggahan-unggahan lama. Sepanjang mata saya memandang kolom komentar di akun Instagram Nissa, warganet menuliskan kekecewaan terhadap Nissa.

Mereka mengecam relasi percintaan antara Nissa dengan Ayus, sesama kolega di grup Sabyan Gambus. Mereka menilai bahwa tindakan Nissa tidak sesuai dengan citra diri yang ditampilkan selama ini sebagai seorang perempuan islami.

Saya tidak akan membahas lebih mendalam mengenai relasi percintaan yang kini sedang dihadapi perempuan yang lahir pada 23 Mei 1999 itu. Yang lebih menarik bagi saya adalah ekspresi kekecewaan masyarakat terhadap Nissa.

Kemunculan Sabyan Gambus adalah fenomena menarik dalam lanskap sosio-kultural era modern di Indonesia. Grup musik yang mengusung lagu-lagu islami dan berbahasa Arab ini mampu menembus pasar budaya populer Indonesia yang didominasi budaya populer dari Korea Selatan atau K-Pop maupun budaya populer lain.

Grup musik religi ini mulai diterima masyarakat secara luas pada tahun 2017. Lagu-lagu yang dibawakan grup ini sangat kental denagn warna Islam. Grup ini pintar memanfaatkan media baru seperti Youtube sebagai wadah berkreasi dan menjual karya mereka.

Kita bisa melihat di kanal Youtube resmi mereka, satu klip video ada yang ditonton sampai ratusan juta kali. Video music berjudul Deen Assalam hingga Minggu (21/2/2021), ketika esai ini saya tulis, ditonton hingga lebih dari 286 juta kali.

Sedangkan video musik terbaru mereka yang diunggah sekitar dua bulan lalu ditonton lebih dari 500.000 kali. Dengan tampilan yang muda dan segar, Sabyan Gambus berhasil mencuri perhatian kaum menengah muslim.

Kelompok musik ini mampu menampilkan citra musik islami bergenre gambus dengan konsep yang sangat berbeda dengan musik-musik islami lainnya. Wajah musik gambus yang biasanya ditampilkan secara sederhana dan dengan kalangan penikmat terbatas dipermak habis-habisan oleh Sabyan.

Repertoar-repertoar musik bergenre gambus yang dibawakan Sabyan tampil lebih segar, modern, dan mampu menjangkau kalangan penikmat yang tidak terbatas. Penampilan vokalis grup itu, Nissa, mewakili citra muslimat yang modis dalam membawakan lagu-lagu religi.

Nissa yang menjadi ikon grup musik ini benar-benar ditampilkan sebagai representasi budaya populer muslim di Indonesia. Nissa dan grup Sabyan Gambus benar-benar berhasil menampilkan Islam populer di ruang publik.

Inklusif

Grup musik ini berhasil menampilkan wajah Islam yang kekinian dan memperkenalkan Islam secara inklusif. Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI, Wasisto Raharjo Jati, menjelaskan Islam populer dapat diartikan sebagai bentuk hadirnya budaya Islam di ruang publik yang diinisiasi oleh muslim kelas menengah.

Muslim kelas menengah, dalam hal ini grup Sabyan Gambus, ingin mengekspresikan modal kultural dalam relasi sosial. Modal kultural ini merupakan bentuk komersialisasi dan komodifikasi terhadap simbol-simbol religius dalam komunitas muslim.

Komodifikasi simbol-simbol agama ini tidak bisa dimaknai sebagai kebangkitan islamisasi.  Nissa Sabyan sebagai vokalis dalam grup Sabyan berhasil membalikkan anggapan khalayak tentang musik islami yang jamak tidak bisa dinikmati masyarakat beragam latar budaya.

Nissa juga berhasil membalikkan anggapan bahwa perempuan berjilbab itu ketinggalan zaman. Dalam budaya populer tidak berlebihan Nissa disebut sebagai representasi kelas menengah muslim. Dia berhasil memadukan ajaran Islam dengan modernitas menjadi identitas diri.

Pertama, sebagai seorang muslimat Nissa tampil menawan dengan busana yang modis, fashionable, dan modern. Busana yang dia kenakan saat tampip di panggung merepresentasikan kalangan muda dengan mengenakan sepatu sneaker, hoodie, dan riasan yang sesuai dengan selera kaum muda.

Pakaian yang dikenakan tidak meninggalkan unsur keislaman, yakni menutup aurat dan tidak ketat. Begitu juga dengan kru lain yang menampilkan sosok muslim dengan pakaian yang islami.

Kedua, lagu yang dinyanyikan hampir seluruhnya bertema keislaman dan berbahasa Arab. Grup music ini juga membawakan selawat. Ketiga, musik gambus yang menjadi pengiring diasosiasikan dengan Islam, apalagi grup musik ini mengambil ”gambus” sebagai sebuah nama diri.

Ketiga hal ini memperkuat identitas Nissa Sabyan, dalam lingkup yang lebih luas Sabyan Gambus, sebagai penyanyi dan grup musik islami. Faktor-faktor penguat identitas ini secara tidak langsung menggiring preferensi muslim kelas menengah terhadap musik-musik yang mereka suguhkan.

Dengan mendengarkan musik-musik yang dibawakan Sabyan Gambus, bagi sebagian kalangan mungkin mereka merasa lebih “islami” dan memperkuat identitas sebagai seorang muslim. Ini merupakan aspek penting bagi kalangan muslim kelas menengah.

Identitas yang dibentuk Sabyan Gambus, khususnya Nissa Sabyan, sang vokasil, telah membangun imajinasi publik tentang sosok Nissa adalah sebagai muslimat taat, trendy, dan penuh dengan nilai-nilai keislaman.

Pembentukan identitas ini telah berhasil dilakukan oleh grup musik ini hingga masyarakat mendefinisikan identitas mereka.  Dalam buku Theories of Human Communication, Stephen W. Littlejohn menjelaskan fenomena ini.

Identitas diri terbentuk ketika seorang komunikator, dalam hal ini Nissa Sabyan, melakukan aktivitas sosial. Nissa menjadikan media sosial sebagai medium untuk berinteraksi dengan penggemar.

Saat Nissa mengunggah berbagai aktivitas dirinya di akun media sosial, maka respons dari penggemar atau warganet akan berasosiasi dengan identitas yang dibentuk. Identitas itu adalah cantik, salehah, suara merdu, dan beragam respons positif yang ditampilkan.

Kondisi terbalik ketika kini Nissa sedang dirundung isu miring tentang relasi percintaan dengan Ayus yang merupakan koleganya di Sabyan Gambus. Imajinasi tentang kesalehan dan ketaatan muslimat pada diri Nissa runtuh.

Respons penggemar atau masyarakat berubah 180 derajat. Ini yang dinamakan ascribed dimension, identitas diri seseorang ditentukan orang lain. Lihat saja kini laman media sosial Nissa dipenuhi dengan komentar pedas dari warganet.

Berbagai atribusi negatif disematkan pada identitas Nissa. Penilaian indah tentang Nissa yang sebelumnya kerap dilontarkan kini sirna. Saya tidak ingin menghakimi Nissa dalam masalah yang menimpa dirinya. Biarkan permasalahan kehidupan pribadi itu dia selesaikan sendiri.

 

 

 

 

 



Berita Terkini Lainnya








Kolom