Kerja Seorang Ilmuwan
Arif Yudistira (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- ”Ketika saya sedang membuat makalah, atau paper, saya akan bekerja semaksimal mungkin dan terbaik. Di mana pun forum itu, serta siapa pun pesertanya. Karena di dalam forum itulah, marwah akademik diperhitungkan dan dipertaruhkan, lebih-lebih membuat buku. Ini menjadi sangat berbeda dengan karya sastra,” demikian sebagian kata-kata M.T. Arifin yang saya ingat.

Kota Solo kehilangan peneliti keris dan Nyi Rara Kidul, M.T. Arifin, yang meninggal pada Rabu (9/9/2020) dan dimakamkan pada Kamis (10/9/2020) pekan lalu. Ia lebih dikenal sebagai pengamat politik dan militer. Usianya memang sudah senja.

Sebelum meninggal, wajahnya seperti tak pernah tua. Ia sakit dan menjalani cuci darah hampir lima tahun terakhir. Demikian menurut penjelaskan keluarganya. Saat berjumpa dengan mahasiswa di aneka forum diskusi dan seminar, ia tampak bergairah dan bersemangat dan tidak tampak seperti orang sakit.

M.T. Arifin bukanlah orang yang susah untuk diundang di aneka pelatihan yang diselenggarakan mahasiswa atau  siapa pun. Ia tidak pernah meremehkan mahasiswa. Justru saat bertemu mahasiswa itulah ia sering membuat makalah serius.

Ia mengaku sering menulis makalah semalam suntuk. Namanya memang tidak setenar Amien Rais, meski sering terlibat dalam satu forum dan satu organisasi. M.T. Arifin bertemu dengan Amien Rais di Muhammadiyah dan juga di organisasi mahasiswa Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhamamdiyah.

Dari organisasi inilah saya mengenal M.T. Arifin. Semenjak itu saya beserta para aktivis lintas organisasi sering berguru di rumahnya. Di rumah inilah lahir Kelompok Studi Mangkubumen yang tidak pernah sepi setiap hari.

Banyak orang mencatat dan menjuluki M.T. Arifin sebagai budayawan dan pengamat keris. Dalam pemaknaan saya sebagai muridnya, M.T. Arifin adalah seorang ilmuwan. Ia suka mengoleksi keris dan buku.

Kerja mengoleksi keris ini ia dapatkan dengan membeli keris sampai dengan mendapatkan keris lewat wahana dan sarana supranatural. Saat saya berkunjung ke rumahnya, ia menunjukkan kepada saya keris Sultan Agung.

Ia menunjukkan keris yang amat ringan itu dibuat dengan bahan berkualita terbaik serta berbeda dengan yang disangka banyak orang sebagai klenik. M.T. Arifin pernah menulis dalam makalah bahwa keris itu dibuat dari batu meteor yang jatuh ke bumi.

Batu dari langit itu mengandung meteorit yang dalam tata pembuatan keris merupakan batu dari alam malaikat. Ia memahami ini tidak hanya dari kajian di buku-buku dan hasil penelitian. M.T. Arifin terlibat intensif dalam meneliti dunia perkerisan.

Buku karya dia, Keris Jawa (2006), menjadi rujukan penting ensiklopedi perkerisan. Berkat penelitiannya itulah, ia kerap diundang dalam forum budayawan di Asia Tenggara, terutama saat membincangkan masalah perkerisan.

Ia juga menelitia tentang Ratu Kidul atau yang dikenal sebagai Nyi Rara Kidul oleh orang Jawa. M.T. Arifin ingin orang meneliti, menyelidiki, serta tidak asal menuduh seuatu sebagai klenik maupun bidah. Ia tekun membuat catatan penelitian setiap harinya saat mengkaji dan meneliti Ratu Kidul.

Apa yang dilakukan M.T. Arifin ini mengingatkan saya pada kerja keilmuan orang-orang Eropa pada masa itu. Catatan harian dan catatan penelitian yang rapi akan memudahkan seseorang dalam kerja penelitian.

Pemikir dan Intelektual

M.T. Arifin mengaku berguru kepada Buya Syafii Ma’arif dalam kerja penelitian dan studi akademis. Di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Yogyakarta (kini Universitas Negeri Yogyakarta) ia mengangkat penelitian yang kelak menjadi kajian penting tentang pendidikan di Muhammadiyah.

Ia menulis buku Gagasan Pembaharuan Muhammadiyah (1987).  Buku ini menyoroti lebih jauh tentang pendidikan di lingkungan Muhammadiyah serta konsep pembaruan yang dilakukan oleh Kiai Ahmad Dahlan.

M.T. Arifin lebih tampak sebagai peneliti dan intelektual di Muhammadiyah kala itu. Ia tekun membaca buku-buku asli karya pemikir Barat sampai dengan pemikir Jawa. Salah satu buku yang ditunjukkan kepada saya adalah buku tiga bahasa, bahasa belanda, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa kuno.

M.T. Arifin berusaha mengkaji pokok apa yang dia teliti sampai tingkat tersahih. Keakuratan dan tanggung jawab keilmuannya bisa dibuktikan. Sebagai seorang intelektual, ia juga menjelma menjadi guru yang tidak pernah menolak karena urusan uang atau honor.

Guru selalu menyempatkan diri menghadiri undangan siapa pun dalam forum-forum intelektual. Ia dekat dengan mahasiswa dan siapa pun yang datang ke rumahnya. Keseriusan dalam berbagai forum ilmiah membuat publik terkesima serta puas mengundang dia.

Ia benar-benar mengemukakan gagasan yang serius untuk disampaikan kepada publik sebagai tanggung jawai ilmuwan. Makalahnya tak hanya ketat, tapi juga padat dan penuh gagasan baru. Ia serin ia menasihati kami para muridnya.

“Kerja akademik memang melelahkan karena kerja keilmuan dijalani dengan laku, namun kerja ini suatu waktu akan ada yang menuntun, yaitu Yang Maha Kuasa,” kata dia.

M.T. Arifin sering mengkritik kaum anak muda yang terlalu memuja Barat. Ia yakin orang Indonesia, intelelektual Indonesia, bila serius dengan bidang kajian yang digeluti tentu tak akan kalah dengan para indonesianis dari luar negeri.

Hal itu ia buktikan sendiri saat ia mengkaji dan meneliti Muhammadiyah. Ia tidak merasa minder atau rendah diri saat dipanelkan dengan Mitsuo Nakamura, peneliti Muhammadiyah dari Jepang. Saat bertandang ke rumah duka, pekan lalu, saya cuma membayangkan buku-buku yang banyak itu.

Pastilah sudah ada upaya untuk menerbitkan buku-buku karyanya. Beberapa waktu lalu dalam pertemuan dengan editor sebuah penerbit besar, M.T. Arifin membawaka beberapa draf naskah yang cukup tebal. Ia menyerahkan draf naskah itu kepada editor penerbit tersebut.

”Sekarang buku-buku hasil kerja serius jarang diterbitkan. Maklum, hampir semua orang sekarang menyukai yang populer, yang permukaan, yang instan,” kata dia kepada saya.

Saya menyepakati yang dia katakan itu. Dunia keilmuan dan kerja intelektual memang tidak mudah, namun kerja itu telah dilakukan M.T. Arifin pada sebagian besar masa hidupnya.

Ia meninggal dengan beragam julukan yang secara tidak langsung dia peroleh dari kiprahnya menekuni dan menggeluti buku dan ilmu. Saya jadi ingat lagi kata-katanya,”Kita bisa menjadi apa-apa, namun ingatlah juga bahwa kita sejatinya bukan siapa-siapa.” Selamat jalan Guru, karyamu abadi…



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom