Kerengan Jahe. (Pictagram)

Solopos.com, SOLO Kerengan jahe merupakan salah satu jajanan tradisional khas Solo, Jawa Tengah, yang mulai langka. Jajanan ini berbentuk keripik yang terbuat dari campuran jahe, parutan kelapa, tepung beras, dan gula aren.

Darto Mulyono bisa jadi satu-satunya pembuat kerengan jahe yang tersisa di Kota Solo. Nenek berusia 70 tahun asal Juwiring, Klaten, Jawa Tengah, menjual camilan kerengan jahe sejak 1965 silam. Dia biasa menjajakan penganan buatannya di depan Sami Luwes dan kawasan car free day (SFC) Solo.

“Kalau Minggu saya biasa jual di car free day (CFD), kalau hari biasa di depan Sami Luwes. Dulu saya masih sering keliling, sekarang karena sudah tua ya di satu tempat saja,” tuturnya, saat ditemui Solopos.com, dalam Traditional Dessert Festival di The Sunan Hotel Solo, Senin (28/10/2019).

Perempuan yang memiliki tiga anak dan delapan cucu itu bercerita pembuatan kerengan jahe dilakukan secara tradisional. Alih-alih menggunakan gas untuk mencetak dan memanggangnya, Darto Mulyono mempertahankan kayu bakar guna mematangkan kerengan jahenya. Keahliannya membuat jajanan ini diwariskan turun-temurun dalam keluarganya. Ia merupakan generasi keempat pembuat kerengan jahe.

Sayang, kerengan jahe bikinan Darto Mulyono terancam hilang lantaran anak-anaknya tidak mau meneruskan. Setelah kurang lebih 54 tahun membuat jajanan lawas ini, tidak ada satu pun anaknya yang mau membuatnya. Konon, mereka lebih suka merantau.

Seplastik kerengan jahe dijual dengan harga Rp15.000. Selain dijual sendiri, Darto Mulyono kerap menerima pesanan atau pun menyetornya gelondongan tanpa merek atau brand toko roti dan oleh-oleh.

“Biasanya saya ditelepon, pesan berapa kilogram begitu, kalau sudah jadi nanti diambil. Kata langganan saya dikirim ke Jakarta, Hong Kong atau Arab, gitu. Anak-anak ndak ada yang mau bikin, tinggal saya sama bapak [suami],” tutur nenek yang setiap hari naik bus dari dan ke rumahnya di daerah Juwiring, Klaten.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten