Produk kerajinan gerabah berkarakter buatan siswa SMAN 1 Tangen, Sragen, dipamerkan dalam perayaan HUT ke-23 SMAN 1 Tangen di halaman sekolah, Senin (28/1/2019). (Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — SMAN 1 Tangen, Sragen, menjadi satu-satunya SMAN yang memiliki mata pelajaran kewirausahaan mulai tahun ajaran 2018/2019. Setiap siswa Kelas X mendapat modal wirausaha senilai Rp1 juta untuk dikembangkan.

Sebanyak 160 siswa Kelas X di sekolah tersebut dididik kewirausahaan dengan membentuk 36 kelompok usaha siswa (KUS). Masing-masing kelompok mendapat modal Rp1 juta.

Penjelasan itu disampaikan Kepalahttps://soloraya.solopos.com/read/20180706/491/926383/ppdb-2018-sistem-penerimaan-siswa-gakin-sma-dinilai-tak-fair"> SMAN 1 Tangen, Sragen, Wasiyo, saat ditemui Solopos.com di sela-sela perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 di sekolah yang terletak di wilayah Katelan, Tangen, tersebut, Senin (28/1/2019).

HUT sekolah mengambil tema Expression of Cultural Celebration. Wasiyo mengembangkan ilmu kewirausahaan di https://soloraya.solopos.com/read/20130310/491/386544/pualam-sma1-sragen-tanam-ratusan-bibit-pohon">SMAN 1 Tangen. Bidang itu menjadi unggulan. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, Wasiyo melihat hanya 20% lulusan sekolah yang melanjutkan ke perguruan tinggi.

Ia harus memikirkan nasib 80% lulusan lain. “Dari pengalaman itu, kami memilih untuk membekali siswa ilmu kewirausahaan sejak Kelas X. Kami berharap para siswa yang tidak melanjutkan perguruan tinggi bisa mandiri dan menciptakan usaha sendiri berdasarkan pengalaman yang didapat dari sekolah. Kami memulai 160 siswa di Kelas X yang terbagi dalam enam rombongan belajar,” ujar dia.

Wasiyo membagi 160 siswa itu menjadi 36 KUS sehingga anggotanya 4-5 orang per kelompok. Mereka diberi kebebasan untuk memilih jenis usaha atau produk yang sesuai keinginan kelompok.

Program yang digagas Wasiyo bersama para guru SMAN 1 Tangen mendapat dukungan dari pemerintah pusat. “SMAN 1 Tangen ini mendapat bantuan dari pemerintah pusat senilai Rp100 juta untuk mengembangkan pendidikan kewirausahaan, sosialisasi program, dan seterusnya. Sebanyak Rp36 juta untuk modal usaha KUS, masing-masing Rp1 juta/kelompok,” jelas dia.

Inti dari program tersebut adalah para siswa diarahkan untuk memiliki pola pikir sendiri dalam berbisnis. Mereka harus mampu membaca dan mengenali peluang bisnis; memanfaatkan peluang menjadi usaha; dan mampu menghasilkan produk yang bisa dijual di pasaran.

Pada tahun pertama SMAN Kewirausahaan, Wasiyo fokus pada dua bisnis yang mengacu potensi lokal, yakni pengolahan lahan dan kerajinan.Wasiyo pernah menggelar bazar hasil karya para siswa Kelas X yang masih proses menjalani pendidikan kewirausahaan.

Dia terkejut karena kreativitas yang dimiliki siswa di luar dugaan. Pada rangkaian HUT sekolah, Wasiyo membuat sarana ajang pemasaran produk https://soloraya.solopos.com/read/20180404/491/908002/kecelakaan-sragen-2-pelajar-tertabrak-bus-saat-ke-sekolah-1-meninggal-dunia">siswa di bidang kuliner dengan nama Pesona Kuliner. “Ternyata kreativitas siswa luar biasa. Olahan makan dengan bahan dasar tahu dan tempe menjadi menu makanan luar biasa. Penampilan mengundang selera, rasanya enak dengan gizi lengkap, harga terjangkau, dan namanya unik. Salah satunya menu bola-bole tempe,” katanya.

Rencana ke depan, Wasiyo menyiapkan satu bangunan yang digunakan untuk toko di depan sekolah. Toko itu menjadi laboratorium pemasaran. Wasiyo juga membuat laboratorium produksi untuk tempat praktik para siswa dalam membuat aneka makanan olahan, seperti aneka kripik dan manisan. Ada rencana bekerja sama dengan industri besar.

Sementara puncak HUT ke-23 SMAN 1 Tangen dimeriahkan pentas seni dan kreativitas anak. Ada lomba membuat nasi tumpeng. Sebanyak 16 tumpeng dinilai oleh tim juri.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten