Kategori: Hiburan

Keren, Kelompok Gamelan dari Wonogiri Tampil di Pekan Budaya Tiongkok-ASEAN


Solopos.com/Damar Sri Prakoso

Solopos.com, GUANGXI -- Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Daerah Otonomi Guangxi Zhuang menghelat Pekan Budaya Tiongkok-ASEAN ke-15, Selasa (8/12/2020) hingga Senin (14/12/2020), dengan tema The Sound of China-ASEAN Music.

Momentum ini sekaligus menandai komitmen dan sikap keterbukaan Tiongkok dalam menjalin hubungan diplomatik yang telah terjalin selama 70 tahun dengan Indonesia.

Sebagai salah satu bagian penting dari Pekan Budaya Tiongkok-ASEAN, konser pembukaan digelar pada tanggal Selasa (8/12/2020) di Guilin Grand Theater Guangxi. Acara itu dibuka oleh penampilan dari kelompok musik Guangxi Symphony Orchestra dengan karya berjudul The Magnificent Pact. Pada event tersebut, kelompok Gamelan Yayasan Seni Tawang Ngumandang dari Wonogiri mendapatkan undangan tampil kolaborasi bersama Guangxi Symphony Orchestra secara virtual.
“Dua komposer muda, I Komang Kusuma Adi dan Wahyu Thoyyib Pambayun terlibat dalam penyusunan komposisi musik ini,” ujar Direktur Produksi sekaligus pengajar gamelan di Central Concervatori of Music (CCoM) Beijing Tiongkok, Risnandar, kepada Solopos.com, Selasa (8/12/2020).

“Hasil dari komposisi ini kami kirimkan ke pihak Guangxi Symphony Orchestra, sehingga terjadi proses saling mengisi, sekaligus dapat tercipta perpaduan musikal yang lebih kompleks. Saya kira, untuk menjadi modern tidak harus ke Barat. Kita bisa berangkat dari kearifan lokal. Tradisi akan menjadi spesial di tengah era globalisasi,” terang Risnandar yang juga Ketua Pembina Yayasan Seni Tawang Ngumandang ini.

Kolaborasi ini merajut sebuah komposisi yang diberi judul Wiwaha Gangsa. “Komposisi musik Wiwaha Gangsa disusun dengan menggabungkan [wiwaha] beberapa idiom-idiom musikal gamelan [gangsa] Nusantara, seperti Solo, Bali, Semarang, Banyuwangi, dan Banyumas. Penggabungan tersebut terkait dengan pembacaan dimensi bunyi, dinamika, kehalusan musik dan teknik permainan untuk menemukan energi dan ruang berpikir baru dalam mengangkat kekayaan musik dan tradisi Nusantara,” terang I Komang Kusuma Adi, salah satu komposer pada karya ini.

I Komang Kusuma Adi berharap karya ini mampu berdiri sejajar di antara keragaman budaya musik dunia. Terpisah, Wahyu Thoyyib Pambayun, komposer dari karya ini sekaligus pengajar karawitan ISI Solo mengungkapkan komposisi musik Wiwaha Gangsa menjadi pemantik diskusi dan kolaborasi musik gamelan dengan simphony orchestra Tiongkok yang mempunyai sistem kerja musik tersendiri, berikut penghayatnya.

“Sekurang-kurangnya rangkaian bunyi gamelan yang terangkum dalam komposisi musik Wiwaha Gangsa, dapat mengantarkan ‘Harmoni Nusantara’ untuk masuk pada relung-relung komponis, pemusik dan penghayat musik di Tiongkok,” ujarnya.

Karya musik ini menciptakan resonansi untuk membangun jembatan pertukaran budaya dan kerja sama antara Tiongkok dengan negara-negara ASEAN. Pekan Budaya Tiongkok-ASEAN juga menampilkan kelompok-kelompok orkestra musik dari perwakilan negara-negara ASEAN melalui perpaduan musik ASEAN National Orchestra dengan format live simfoni ensemble.

“Ini adalah kesempatan yang baik dalam melakukan diplomasi kebudayaan,” ujar Sularso, pelaku riset artistik sekaligus Ketua ASCEE Viperarts Society dan Pembina Yayasan Seni Tawang Ngumandang.

Sularso mengatakan gamelan sebagai komunikasi komunal turut berperan membuka peluang komunikasi global. “Dan di sini, perpaduan gamelan mampu melahirkan perspektif yang segar dalam budaya musik dunia. Perpadauan garapan musik gamelan dengan Guangxi Symphony Orchestra, menyimpan cara dan pendekatan yang berbeda. Konsep pendekatan yang berbeda inilah yang sedang kami tawarkan agar spirit gagasan kreativitas artistik musikal dapat terus bergerak dinamis,” pungkasnya.

Share
Dipublikasikan oleh
Damar Sri Prakoso