SOLOPOS.COM - Sejumlah warga Kebonagung, Desa Ceporan, Kecamatan Gantiwarno, tengah diperiksa petugas Dinas Kesehatan Klaten setelah mengeluh sakit akibat mengonsumsi makanan saat hajatan warga. Foto diambil di rumah warga setempat, Selasa (12/8/2014). (JIBI/Solopos/Chrisna Chanis Chara)

Solopos.com, GANTIWARNO—Kasus keracunan makanan merebak di Kabupaten Klaten sepekan terakhir.

Terhitung ada dua kasus yang mengorbankan 101 warga di dua kecamatan. Seorang di antaranya bahkan diduga meninggal akibat mengonsumsi makanan saat hajatan.

Promosi Lebaran Zaman Now, Saatnya Bagi-bagi THR Emas dari Pegadaian

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Selasa (12/8/2014), sebanyak 51 waga Dukuh Karangpakel, Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk, terindikasi keracunan setelah menghadiri hajatan pernikahan di dukuh setempat, Kamis (7/8/2014).

Sehari kemudian, Jumat (8/8/2014), kejadian serupa menyambangi warga Dukuh Kebonagung, Desa Ceporan, Kecamatan Gantiwarno. Sebanyak 50 warga keracunan setelah menyambangi syukuran sunatan Jahur, warga RT 01/RW 04 Kebonagung.

Seorang warga Kebonagung yang mengaku keracunan, Sumini, 45, merasa mual lalu muntah-muntah sehari setelah mengonsumsi makanan di syukuran. Tak lama kemudian, dia mengalami diare sampai sekarang. “Kaki saya sampai ikut ndredek (bergetar) kalau jalan. Waktu itu saya makan bubur,” ujarnya kepada Solopos.com, di sela pengobatan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten, Selasa.

Keluhan serupa disampaikan Rukmini, 59. Dia bersama anak dan cucunya mengaku diare setelah menyantap makanan di syukuran. Saat itu Rukmini mengonsumsi hidangan seperti rendang dan dawet. “Setahu saya hampir semua warga yang datang mengeluh sakit,” tuturnya.

Di Gantiwarno, ada 48 warga yang sudah diobati Dinkes. Sedangkan sisanya dirawat di puskesmas dan rumah sakit. Untuk kasus di Trucuk, dua warga masih dirawat di klinik setempat. “Dari gejalanya memang keracunan,” ujarnya.

Dinkes telah mengamankan sampel sosis basah, sambal goreng, telur kecap hingga agar-agar sisa hajatan di Trucuk untuk diteliti di laboratorium Semarang. Namun untuk kasus di Gantiwarno, Dinkes urung mendapatkan sampel karena laporan warga baru masuk Minggu (10/8/2014).

“Rata-rata warga baru merasakan gejala keracunan Minggu. Saat kami turun, ternyata sudah tidak ada sisa makanan,” kata Veronica. Pihaknya pun sulit menggali keterangan dari pelaksana syukuran karena yang bersangkutan sudah ke luar kota. “Yang menggelar acara sudah kembali di pekerjaannya di Papua.”

1 Meninggal Dunia

Sementara itu, seorang warga Kebonagung, Yitno Tukiyem, 70, dikabarkan meninggal Selasa pagi setelah dirawat di Rumah Sakit Citra Husada Klaten sejak Minggu. Dari pengecekan di RS setempat, kotoran Yitno mengandung bakteri amoeba.

“Kami belum bisa memastikan kematian warga akibat keracunan atau bukan. Yang jelas saat masuk RS, warga tersebut menderita diare,” tutur Kepala Puskesmas Gantiwarno, Andi Markoco.

Kepala Dinkes Klaten, Ronny Roekmito, mengatakan rentetan kejadian di dua wilayah tersebut merupakan KLB keracunan pertama di Klaten tahun ini. Saat ini, pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium untuk menentukan langkah selanjutnya. “Kami belum bisa menyimpulkan akar permasalahan jika belum ada pembuktian klinis,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya