KERACUNAN GULAI : Pemilik Hajatan Mungkin Dapat Terjerat Pidana Jika ...
Ilustrasi (JIBI/dok)

Keracunan gulai tengah dalam penyelidikan

Solopos.com, BANTUL- Kasus keracunan massal yang terjadi Minggu (27/3/2016) di Dusun Rejosari, Jatimulyo, Dlingo berujung ke ranah hukum. Polisi mulai memeriksa sejumlah saksi terkait kasus ini.

(Baca Juga : KERACUNAN GULAI : Santap Gulai Hajatan, Puluhan Warga Rejosari Diduga Keracunan)

Kepala Polsek Dlingo, Bantul Ajun Komisaris Polisi (AKP) Amir Mahmud mengatakan, lembaganya Senin (28/3/2016) memeriksa lima orang saksi terkait kasus keracunan yang melibatkan 45 warga (sebelumnya ditulis 42 warga) tersebut. Puluhan warga itu mengalami mual dan muntah seusai menyantap gulai kambing di acara hajatan yang digelar di rumah warga bernama Tukirin.

“Yang kami periksa hari ini, suami isteri yang punya hajatan. Juga warga yang menangani urusan masak acara hajatan itu,” terang Amir Mahmud, Senin (28/3/2016).

Menurut amir, polisi tengah menyelidiki apakah kasus ini terjadi karena kesengajaan atau tidak. Apabila ditemukan unsur ketidaksengajaan, pemilik hajatan menurutnya dapat dijerat sanksi pidana, yaitu pasal mengenai kelalaian.

“Kalau dilakukan sengaja pasalnya lain lagi, kalau tidak sengaja bisa dinyatakan melakukan kelalaian,” papar dia.

Namun demikian polisi sampai sekarang belum menetapkan tersangka dalam kasus ini. Lembaganya masih menunggu hasil uji sampel makanan yang dikirim Dinas Kesehatan ke laboratorium.

“Hasil uji lab itu untuk mengetahui apa penyebab keracunan itu. Apakah benar dari makanan gulai itu atau apa,” imbuhnya.

Sedangkan terkait korban keracunan, Amir Mahmud mengatakan sejak Senin siang tidak ada lagi korban yang diopname. “Korban semuanya sudah pulang tadi pagi,” paparnya. Sebelumnya, tercatat empat warga yang menjalani rawat inap dari total 45 warga yang mengeluhkan pusing, mual dan muntah.

Tiga diantaranya dirawat di sebuah klinik di Dlingo, satu orang dirawat di puskesmas setempat. Sementara puluhan korban keracunan lainnya diperbolehkan pulang oleh petugas kesehatan karena kondisinya lebih baik dari empat warga yang menjalani rawat inap.

Sementara itu Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK) Dinas Kesehatan Bantul Pramudi Dharmawan mengatakan, lembaganya telah mengirim sampel muntahan makanan ke Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Jogja. “Butuh waktu dua minggu hasilnya baru keluar,” terang Parmudi Dharmawan.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho